Jumlah pengunjung

Senyum Indah Mereka Adalah Anugerah

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 2 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mengabdi Pada Masyarakat

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 4 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mari Bergabung Bersama Kami

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Selamat Datang di BLOG RUMAH BELAJAR PANDAWA
Tampilkan postingan dengan label Agenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agenda. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Desember 2013

Kenagan Bersama Relawan Universitas Katolik Darma Cendika.


Puji syukur kepada Tuhan, atas Rahmat dan kesempatan kepada kelompok kami dalam menyelesaikan PKL (Praktik Kerja Lapangan). Laporan ini kami buat sebagai persyaratan kelulusan mata kuliah agama semester satu di Universitas Katolik Darma Cendika.
Dalam penyusunan laporan ini kami didorong oleh rasa ingin tahu sekaligus belajar untuk dapat berbagi dengan maupun anak-anak yang membutuhkan ilmu pengajaran secara akademik dan non-akademik.
Kami sebagai kelompok mengharapkan dengan adanya laporan ini, memberikan kami pemahaman arti tentang kehidupan yang sesungguhnya. Banyak hal yang kami bisa bagikan diantaranya, bagaimana kami belajar memahami karakter satu pribadi dengan pribadi yang lain. Bagaimana keunikan setiap anak dalam hal berpola pikir. 
Dalam melaksanakan  kegiatan ini kami mempunyai banyak peluang karena kami mengetahui bahwa ada potensi yang berbeda dari setiap manusia. Kita berharap bahwa kegiatan yang telah kita lakukan dapat memberikan arti bagi kehidupan kita semua dimasa mendatang. Dalam kegiatan ini, tentunya tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada kendala- kendala yang kami hadapi baik dari segi waktu penyesuaian pengajaran maupun cuaca yang terkadang kurang mendukung.
Kesempatan yang kami peroleh merupakan kesempatan yang sangat berharga. Ucapan terima kasih, kami berikan kepada Mas Prabu Ali Airlangga selaku direrktur dari pencetus rumah Belajar Pandawa yang berlokasi di jalan Ngagel-Wonokromo Surabaya.
Kita melakukan pengenalan pada anak-anak PANDAWA pada saat itu juga terlihat muka kegembiraan diraut wajah mereka. Karena mendapatkan guru pendamping baru. Setelah melakukan pengenalan kami melakukan pengajaran materi kepada anak-anak tersebut, pada saat kita mengajar terlihat ada beberapa anak masih malas untuk belajar dan kami juga merasa terkejut ketika mendapati bahasa mereka yang cenderung kasar, bahkan masih terlihat dari mereka betapa kurangnya pendidikan bahasa dilingkungan tempat tinggal sekitarnya.

Pada Pertemuan kedua kami datang ke Rumah PANDAWA kembali untuk mengajar, tetapi kedatangan kami kali ini terlambat, dikarenakan adanya jadwal kuliah yang berakhir pada pukul 19.30 WIB. Setelah perkuliahan kami menuju ke tempat PANDAWA. Sesampainya disana ternyata mereka belum melangsungkan pelajaran, dikarenakan mereka menantikan kami dan kamipun langsung mengajar.
Pengajaran berlangsung seperti biasa, antusias tampak di wajah mereka , seiring waktu intensitas bertemu. Tidak seperti waktu hari pertama yang masih canggung dan cenderung malu. Sikap saling bercanda mulai mereka tunjukan sebagai rasa pertemanan yang mulai akrab.
Pada pertemuan terakhir Kami tidak melakukan pengajaran karena ini waktu terakhir kami melakukan pengajaran, kami memutuskan mengadakan acara ramah-tamah dengan berjalan-jalan ketaman bungkul. Kami juga memberikan kenang-kenangan pada mereka berupa beberapa fasilitas pendukung dalam proses belajar-mengajar mereka. Sebelum berangkat kami melatih mereka untuk disiplin waktu dengan cara berbaris tanpa ribut dan menjadi kendala kami adalah susah untuk mengatur mereka untuk disiplin ternyata sangat susah sehingga kamipun tersendat keberangkatannya. Pada pukul 20.00 WIB kami mulai berangkat dengan berjalan kaki yang lokasinya ternyata cukup jauh. Sesampainya disana kami bermain dan mereka terlihat antusias dan gembira untuk bermain ditaman Bungkul. Kami juga mendampingi untuk bermain dan berbagi minuman dan snack dengan mereka. Dan kita mengajak mereka untuk saling berbagi, kemudian pada pukul 22.15 WIB kami melakukan perjalanan kembali ke rumah belajar PANDAWA dan sebelum kami pulang kami berpamitan dengan anak-anak PANDAWA dan juga dengan  mas Prabu Ali Airlangga beserta para pengajar yang lainya.


Senin, 01 Juli 2013

Konjen AS Berkunjung di Pandawa

Surabaya 28 Juni 2013. 
Konsul Jenderal A.S. di Surabaya, Joaquin Monserrate berdiskusi dengan relawan muda yang tergabung dalam Rumah belajar Pandawa yang di ketuai oleh adalah M. Ali Shodikin mahaiswa alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya., yang sekarang melanjutkan pendidikan Magister Hukum di UNTAG Surabaya. ”Saya sangat senag dengan kunjungan bapak Joaquin Monserrateselaku Konsul Jenderal A.S. di RB Pandawa.
Kunjungan  ini tidak lepas dari kerjasama yang dilakukan antara lembaga RB Pandawa dengan SEAYLP (Southeast Asia Youth Leadership Program), sebuah program pertukaran yang didanai Pemerintah A.S.
"Pendidikan menjadi perhatian pemerintah Amerika. Dan kami sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan mahasiswa disini," ujar Monserrate ketika ditanya oleh salah satu murid RB Pandawa.
Dalam kerjasama yang dilakukan  Rumah Belajar Pandawa  bersama Garuda Team mengadakan pembelajaraan bahasa Inggris gratis kepada puluhan anak-anak SD-SMP Kampung Lumumba Dalam, Ngagel-Wonokromo, Surabaya. Acara malam tersebut dihadiri  seluruh relawan dari Garuda Team dan Rumah Belajar Pandawa, serta puluhan murid. 50-an relawan dan anak didiknya berkumpul, dan berdiskusi dengan Bapak Konjen terkait masalah pendidikan, sosial, budaya.
Saat menyampaikan sambutannya, pria yang biasa dipanggil Prabu Ali Airlangga  mengatakan "Pemenuhan kebutuhan pendidikan baik formal maupun nonformal sangat dibutuhkan". Menurutnya, hal ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap penduduk dalam rangka peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) bangsa kita. Saat ini pendidikan luar sekolah memiliki peranan yang tidak kalah penting. Pendidikan ini berfungsi untuk membantu anak didik untuk memaksimalkan potensinya yang mungkin belum seluruhnya bisa diperoleh melalui jenjang pendidikan formal.
”Pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang merupakan amanat yang semestinya kita lakukan bersama,” tegas  pentolan PANDAWA. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab Negara serta kita selaku warga Negara untuk turut terlibat dalam masalah-masalah di bidang pendidikan, seperti masalah pengawasan dan pembiayaan. 
Menurut Monserrate semestinya semua warga negara punya kesempatan mengakses pendidikan, karena pendidikan merupakan hak dasar setiap manusia, termasuk warga miskin sekalipun.  Kegiatan rumah belajar Pandawa sangat menarik perhatian Monserrate, sehingga diplomat AS ini meluangkan waktu untuk melihat langsung kelas belajar tersebut. Kelas belajar Komunitas pandawa, merupakan kelas gratis untuk mendidik anak-anak keluarga yang kurang mampu di belakang dinas perairan kota surabaya.
Joaquin Monserrate, juga mengapresiasi adanya perpustakan yang di sediyakan untuk anak-anak, dia kagum karena anak-anak juga belajar membaca dongeng-dongen yang ditulis dengan bahasa Inggris. Sebelum meninggalkan lokasi acara tersebut konjen AS berpesan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa tidak harus selalu melalui jalur pendidikan formal saja, akan tetapi dapat juga melalui jalur pendidikan nonformal. Oleh karena itu, diperlukan adanya sarana komunikasi informasi ilmu pengetahuan untuk disampaikan kepada masyarakat yaitu perpustakaan.  
"With the library, the community can use it as a means of information, knowledge, and creating a culture of reading." Dengan dana pribadi dan bantuan dari beberapa donatur  para mahasiswa ini mendidik anak-anak tersebut agar bisa membaca tulis dan sejumlah pengetahuan dasar lainnya. [] Al

Sabtu, 30 Maret 2013

Peresmian Perpustakan Mandiri


Atas dukungan dari semua pihak, kami dari RB Pandawa akan meresmikan Perputtakan Mandiri pada :
Hari : Selasa
Tanggal : 2 April 2013
Pukul : 16.00 Wib
Temapat Balai RT1 kampung, lumumba dalam gang buntu RT 1 RW 1 Ngagel Wonokromo Surabaya

Semoga apa yang kami baktikan untuk generasi bangsa sesuai dengan sepirit moto kami. 

( Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami )

Selasa, 05 Maret 2013

Gotong Royong RB Pandawa

Gotong Royong adalah budaya tradisional Indonesia yang telah di akui dunia. Gotong Royong mengandung arti saling membantu, demi kebahagiaan dan kerukunan hidup bermasyarakat.

Ir Soekarno bahkan pernah menyakini Indonesia dapat menjadi negara yang kuat dan berprinsip dengan menganut nilai nilai tradisinya sendiri yaitu kehidupan bergotong royong. Hal ini dibuktikan dengan idenya untuk menyatukan nilai-nilai yang terkandung dalam 5 butir Pancasila, menjadi satu dan dinamakan Gotong Royong. Namun, seiring dengan pergantian rezim kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, nilai luhur Gotong Royong yang dianggap seperti ajaran sosialis semakin dipudarkan dari kehidupan bermasyarakat.

Info RB Pandawa
Dibulan ini kami mendapat bantuan buku-buku dari Pondok baca & Lotary club surabaya timur, guna pengembangan perpustakaan Pandawa.
untuk itu kami dibulan ini mempunyai program, perawatan serta renofasi Balai RT yang kami gunakan sebagai lokasi belajar, perpustakaan, TPQ,

Mari kita ber GOTONG ROYONG demi suksesnya progam ini.
adapun kebutuhannya :
Luas balai RT 10x4 meter
1. Rencanaya mau kita lantai keramik (agar belajar, bisa lebih nyaman)
2. Halaman mau kita kasi taman (agar tidak terlihat kumuh)
3. Dinding balai akan kita kasih gambar, lukis
4. Perpustakan, membutuhkan Rak baru, buku, dan mainan
5. Lipas angin gantung. (karena kondili dalam ruangan sangat panas)


Catatan Info : -----------------------------------------------------------------
Bantuan bisa diberikan berupa:
(kipas angin, rak buku, bubu-buku, mainan anak-anak, pasir, semen, keramik, batu bata, cat,  ongkos tukang,atau trasfer di rekening lembaga kami.)
Bank BTN 00064-01-61-001188-1 (atas nama qq. rumah belajar pandawa)
Bank Jatim 0017204246 (atas nama qq. rumah belajar pandawa)

Alamat : Rumah Belajar PANDAWA RT 01 RW 01 desa Lumumba Dalam kel. Ngagel Kcm. Wonokromo Surabaya
-Tlp/Sms : 085852456350
-Email : pandawa_ilmukawula@yahoo.com



Rabu, 21 November 2012

Satu Bulan Bersama Relawan STK Widya Mandala




Hari itu hari senin pukul 18.00, desir angin yang menyibak dahan pepohonan di taman  beradu dengan raungan  knalpot kendaraan bermotor yang memadati jalan Ngagel, Wonokromo. Dibawah rindangnya pohon taman yang menghantarkan lembar-demi lembar daun kering terhempas direrumputan taman, terdapat sekumpulan bocah-boca yang sedang asik dengan beragam aktivitas belajar bersama di taman.
Diantara penerangan seadanya mereka bergerumul menghadap beberapa papan tulis dengan coretan-coretan. Mereka adalah relawan bersama murid-murid Rumah Belajar Pandawa.  Relawan yang merupakan mahasiswi  Universitas Katolik Widia Mandala atau biasa di singkat UWM yang terdiri dari Mia Dwi Retno, Aprelia Caroline, Brenda Silviani,  Fatmala Fatmawati, Yosefina Silvia Daru, Rana Keera, Novita Jalasari, Rika Kumalasari, kritina atau biasa disapa Beta.
Salah satu program yang dibawa oleh relawan ini adalah misi pendidikan pancasila, mula dari belajar kebinekaan, persatuan Indonesia, dan lain sebagainya. Mengabdi kepada masyarakat dan ikut merasakan bagaimana kehidupan sesama merupakan salah satu dari upaya mengaplikasikan sila kedua yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradap, karena diharapkan kegitan tersebut dapat menyentuh sisi humanis atau kemanusiaan kita.
“Saya tidak menyangka jika mereka begitu kuat, sekalipun mereka tak bersama orang tua mereka bahkan diantara mereka sesungguhnya tidak tahu siapa orang tua mereka sebenarnya. Jika saya yang mengalami, saya tidak tahu gimana?” ujar Rana mahasiswa asal NTT salah satu relawan yang kagum dengan semangat anak-anak rumah belajar pandawa.
“Lebih hebatnya lagi mereka tidak pernah menyalahkan keadaan, tidak menyalahkan orang tua mereka padahal saya sering ngerasa kurang dengan kasih sayang orang tuaku yang sekarang aku sadari tiada kurangnya” imbunya sambil tersenyum malu. Air mata itu meluncur deras  Sebab sebelumnya ia mendengar beberapa curhatan langsung dari anak-anak tentang latar belakang kehidupan  yang mereka jalani setiap hari.

Sedihnya Perpisahan
                “kaka jangan pergi kami tidak akan nakal lagi, kami semua akan serius belajar……” teriak tangis murid Pandawa kepada para relawan pengajar, saat mengucapkan salam perpisahan.
Tidak disangka, malam perpisahan yang  harus dijalani terasa sangat berat, akibatnya tak terasa air mata menetes dari puluhan pasang mata itu. Deraiannya merambati pipi, kilaunnya terbias cahaya lampu yang menembus rerimbunan daun dan rupanya juga telah menembus dihati mereka.
Hari-hari yang telah dialalui bersama rupanya telah menorehkan selaksa kenangan yang tak mudah dihapuskan, bahkan oleh air mata perpisahan sekalipun. Memang saat perpisahan tadi suasana sangat mengharukan, anak anak menangis para relawan juga ikut mengangis.
Maka untuk menceriakan  suasana mereka menghibur diri dengan beragam kegiatan lucu. mulai dari tari ayam “Chiken Dance” yang dilakoni oleh para murid –murid Pandawa. Hingga hiburan berupa tarian paling fenomenal saat ini “Gangnam Style”yang dipersembahkan oleh para relawan.
Akan tetapi, aura perpisahan yang mengharu biru tidak juga bias terhapuskan, bahkan oleh berisik raungan kendaraan bermotor yang merayapi jembatan Bosem wonorejo “jagir”.  “saya nggak menyangka, ketika kami bilang besok gak akan datang kesini lagi, seketika airmata meleleh di kedua belah pipi mereka”, terang Brenda yang juga menehan airmata.
“Meskipun waktunya singkat, akan tetapi begitu banyak pelajaran yang telah kami dapatkan. Di Rumah Belajar Pandawa saya mulai belajar besyukur, atas segala nikmat yang diberikan Allah, ampuni tuhan saya yang jarang bersyukur” sesal Caroline akibat kekilafannya, kini ia bias melihat ternyata banyak anak yang jauh tidak seberuntung kita. Hidup tanpa kasih sayang orang tua, menyambung  hidup dijalanan, bahkan  ada yang terbiasa melihat orang tua mereka terjebak lembah hitam pelacuran.
“Kami tak menyangka, mungkin tanpa adanya Pandawa, mereka akan menjadi 11-12 dari orang tuanya, jika orang tunya kasar dalam mendidik pasti kelak mereka akan melakukan yang sama” tambah Rana Keera. “Jadinya saya melihat rumah belajar pandawa bukan hanya member pelajaran berupa materi tapi juga pelajaran moral yang amat berharga bagi mereka kedepan” terang Mia menambahkan ungkapan Rana Keera salah satu relawan yang berasal dari Nusa Tenggara Timur.

Sebingkis Kenangan
Kini para mahasiswi Relawan dari  Universitas Widya Mandala telah purna tugasnya, tunai sudah pengabdian di Rumah Belajar Pandawa dalam membimbing anak-anak yang butuh bimbingan dan kasih sayang.  Tapi seberapa jauh mereka menghilang dari selingkar pandangan mata, tapi mereka dan jasa mereka akan selalu terbingkai dihati mereka.
“Kenapa mereka cuma ngajar sebentar, padahal aku sudah mulai sayang” keluh vista dan yola,. Sambil memegang bingkisan berupa buku dari relawan ia mengenang saat-saat beberapa jam yang mereka lalui sebelumnya.
Rupanya benar kata sebuah syair lagu yang pernah dilantunkan oleh grup band asal jogja, Letto. Bahwa “rasa kehilangan hanya akan ada jika kita pernah memilikinya”. Dan bukankah sejatinya kita saling memiliki? Memiliki rasa cinta yang sama, memiliki kasih sayang yang sama, dan memiliki Rumah Belajar Pandawa bersama.
Diahir perpisahan malam itu, ketika mereka semua bersedih , kami membisiki dan meyakinkan mereka satu hal, “kalian orang yang kuat,” kakak yakin kelak adek-adek ijka treus belajar dan berusaha dengan serius maka kalian menjadai orang yang sukses, persembahkan prestasi kalian untuk kebanggaan orang tua kita” [] Awan.



Jumat, 10 Agustus 2012

Meriahnya Pandawa Firstival Anniversary


    25 Juni 2012, Hari yang di tunggu-tunggu oleh segenap murid pandawa akhirnya tiba juga. Para ibu-ibu dan anak-anak berkumpul riang dibawah tenda ukuran 2 x 3 meter yang menutup jalan Lumumba dalam RT 1. Mereka begitu seksama mengikuti acara demi acara yang disiapkan oleh para relawan pandawa selama hampir dua bulan itu.
    Suguhan acara yang atraktif dimulai dengan pembacaan ayat suci al quran, deklamasi puisi berjudul ibu, pidato, atraksi pencak silat dan drama yang kesemuanya di persembahkan oleh murid-murid rumah belajar pandawa.  Satu lagi acaranya yang paling dinantikan oleh para ibu-ibu yang  hadir, season itu adalah ceramah agama oleh H. Sumarkand seorang ulama dari IAIN Sunan Ampel Surabaya yang acap kali di jumpai dalam acara pengajian rutin di TVRI Jawa Timur serta beberapa radio swasta di Surabaya dan sekitarnya. 
    Dalam kesempatan itu, beliau yang lekat dengan sorban putihnya menyampaikan tentang isra miraj sesuai permintaan para warga Lumumba kepada relawan pandawa yang mengusulkan pengajian menyambut isra miraj.
    Seperti biasa dengan gaya kocak khas kyai, selain mempu memberi  kesejukan bagi para ibu, juga mampu menabur kerenyahan suasana. Sehingga seringkali menimbulkan gela tawa yang tidak tertahan. Akibatnya suasana yang telah renyah jadi semakin meriah. Beliau juga memesankan pada seluruh hadirin untuk memaknai isra miraj sebagai pelajaran ketabahan, serta senantiasa mengamalkan souvenir Isra Miraj yang dititipkan pada Rosullulah bagi seluruh umatnya.  Souvenir tersebut adalah shalat lima waktu.
Sajian Atraktif
    Yang tidak kalah menarik dari perayaan ulang tahun pertama rumah belajar pandawa ini adalah sajian hiburan dari para murid pandawa sendiri, mereka menyajikan kreatifitas sesuai bakat mereka masing-masing setelah di latih selama satu bulan.
    Pada persembahan deklamasi puisi berjudul ibu suguhan Faradila, sebagian hadirin yang didominasi oleh para ibupun tak kuasa menahan air mata. Mereka tampak mengharu biru dan bangga atas sanjungan dalam sajak-sajak yang dirangkai oleh taufik ismail itu. Bahkan ibu faradila yang menyaksikan tak kalah harunya, airnya matanya tak sekedar menetes, tapi juga berlinang bagi air terjun dipipinya. Sesekali ibu tiga anak ini mengusap buliran bening itu dengan jilbabnya.
    Haru biru berakhir dan berganti pentunjukan mendebarkan yang dibumbui gela tawa kala murid pandawa yang menekuni pencak silat  Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pandawa. Sorak te[uk tangan berkali-kali terdengar saat satu persatu jurus pencak silat dipertontonkan. Duel antara satu lawan tiga, seperti layaknya seorang kesatria dikriyok para penjahat juga di ekspresikan kelima murist PSHT Pandawa.
    Pada malam penutupanya aksi dai cilik  Prahasta Bagus Ardana juga tidak kalah heboh. Meski agak malu karena tampil dihadapan para penonton, namun dia bisa membawakanya dengan penuh percaya diri.  Setalah itu guru-guru (relawan) RB.Pandawa  membagikan tas, buku pelajaran  serta  peralatan sekolah kepada  semua murid. Ucapan syukur dan terimakasih kepada para donatur yang selama ini telah banyak membantu lembaga pendidikan arternatif bagi puluhan siswa yang kurang mampu, seniman jalanan, agar dapat meraih cita-citanya disampaikan oleh Prabu Ali Airlangga selaku direktur RB.Pandawa.

Minggu, 29 April 2012

Bakti Sosial

Minggu 24 Maret 2012 bertempat didesa lumumba dalam gang buntu RT 01 RW 01 Ngael Wonokromo Surabaya, SADEWA (Santunan Dermawan Untuk Kawula) bekerjasama dengan GMNI Kota Surabaya menyelenggarakan acara Bakti Sosial Pengobatan Umum Gratis untuk Masyarakat Prasejahtera.  Acara tersebut merupakan salah satu dari safari pengobatan yang diselenggarakan di balai RT 01 target sekitar 1000 pasien.
Acara dimulai pukul 08.00 WIB, diawali dengan penyuluhan tentang filariasis kepada masyarakat yang telah hadir oleh para dokter muda dari alumnus fakultas kedokteren UNAIR. 

Selasa, 29 November 2011

PERINGATAN HARI IBU



Di kalender hp saya, setiap tgl 22 Desember tertulis: “mother’s day; phone mom”, begitu pula di hari ulang tahunnya, tgl 6 Juni selalu tertulis: “mom birthday; phone her”, di hari idul fitri dan idul adha, selalu ada alarm untuk mengingatkan saya menelepon mimih (salah satu panggilan untuk ibu di keluarga sunda). Sebagai putri tertua yang tinggal jauh di rantau, saya selalu berusaha untuk tetap berbakti kepada orang tua walau hanya sekedar dalam bentuk do’a dan perhatian. Karena diakui atau tidak, ketika seorang anak beranjak dewasa dan memiliki keluarga kecil sendiri, kadang mereka disibukkan dengan keluarga kecilnya dan melupakan sang ibu. Bisa dibayangkan bagaimana nelangsanya seorang ibu yang sudah menghabiskan masa mudanya untuk membesarkan putra-putrinya kemudian di masa tuanya terlupakan begitu saja. Fenomena ini tidak hanya didapatkan di masyarakat Barat saja, bahkan di lingkungan muslim. Ironis banget kan? Bagaimana mungkin seorang muslim durhaka terhadap ibunya? sementara al qur’an dan hadits Nabi menegaskan kewajiban seorang muslim untuk berbakti terhadapnya, bahkan perintahnya digandengkan dengan kewajiban beribadah kepada Allah (QS. An Nisa: 36). Dalam HR. Bukhori Muslim, Rasulullah menjelaskan bahwa seorang ibu lebih berhak atas bakti anaknya, karena pengabdian yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak-anaknya, mulai dari kandungan hingga mereka dewasa (QS. Luqman: 14 & QS. al Ahqaf: 15)

Tidak hanya itu, dalam surat Al Isra: 23, Al qur’an menjelaskan kepada muslim bagaimana cara memperlakukan orang tua: "Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa berbakti kepada orang tua, tidak hanya dilakukan selama mereka berada di dunia, bahkan setelah mereka tiada.  Rasululah pernah ditanya oleh seorang sahabat apakah setelah ortu meninggal kita masih bisa berbuat baik terhadap mereka? Rasulullah menjawab: "yup, dengan mendo'akan mereka, memenuhi janji mereka, dan berbuat baik kepada teman-teman mereka.”

Dari pemaparan di atas, saya yakin, di antara kita tidak ada yang bisa mengingkari bahwa Islam menempatkan orang tua --terlebih ibu-- dalam posisi yang sangat spesial. Sebagaimana saya yakin, di antara kita tidak ada yang bisa mengingkari bahwa tidak semua muslim memperlakukan orang tuanya –terutama ibu—sebagaimana tuntunan al qur’an dan hadits. Kondisi inilah yang membuat Mushthofa Amin dan Ali Amin menggagas hari Ibu di Mesir. Sebagai wartawan senior yang membidani kelahiran harian ahbar el yaum, dua bersaudara ini banyak mendapatkan surat pengaduan dari ibu-ibu pembaca yang mendapatkan perlakuan buruk dari putra-putrinya. Dimulai dengan tulisan berupa ajakan kepada masyarakat luas untuk memperingati hari ibu di rubrik “fikrah” (ide), yang mendapatkan respon luar biasa dari pembaca, maka ditetapkanlah tanggal 21 Maret –hari pertama musim semi; karena seorang ibu selalu menjadi sumber kebahagiaan dan keceriaan sebagaimana halnya musim semi-- sebagai hari Ibu di Mesir.

Bagaimana dengan di Indonesia? Mengapa hari ibu diperingati tanggal 22 Desember? Jika kita melihat sejarah, asal muasal peringatan hari ibu di tanah air sebenarnya tidak ada kaitanya dengan fungsi ibu dalam keluarga. Sejarah Hari Ibu di Indonesia justru berawal dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Presiden Soekarno, melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Jika melihat sejarahnya, Sebenarnya akan lebih tepat apabila 22 Desember diperingati sebagai hari perjuangan perempuan bukan hari ibu, karena hari ibu memiliki konotasi lain dari misi awal yang digagas oleh kongres perempuan III. Dan inilah yang terjadi sekarang, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu sebagaimana peringatan hari ibu di negara-negara lain di dunia. Karena tulisan ini tidak bermaksud mengkritisi sejarah, saya rasa kita tidak perlu berpanjang lebar dalam hal ini. Yang penting, fenomena yang ada di tanah air sekarang mengatakan bahwa 22 Desember diperingati sebagai hari ibu, dimana para anak disadarkan akan kewajibannya kepada ibu.

Di antara kaum muslim ada yang mencela adanya peringatan hari ibu dan melabelinya dengan perbuatan bid’ah. Berikut beberapa alasan mengapa peringatan hari ibu dikatakan kegiatan bid’ah”

1.        Tidak ada teks agama yang menyinggung adanya hari ibu. Walaupun al qur’an dan hadits banyak menceritakan tentang keutamaan ibu, namun tidak ada satu tekspun yang menetapkan adanya peringatan khusus untuk ibu sebagai apresiasi atas jasanya. Apabila hal ini dianggap perlu, tentu Rasulullah tidak akan melewatkannya.

2.        Apabila terbukti Rasulullah dan para salaf shaleh tidak memperingati hari ibu, maka orang-orang yang sekarang memperingatinya telah mengada-ngada hal baru yang tidak pernah ada dalam agama (bid’ah)

3.        Dengan memperingati hari ibu, berarti kita sudah latah mengikuti perbuatan orang kafir. Padahal Tasyabbuh bilkuffar (ikut-ikutan orang kafir) diharamkan Rasulullah.

Mari kita coba menjawab alasan mereka satu persatu;

1.        Benar, tidak ada teks agama yang menetapkan adanya hari ibu, karenanya hari ibu di berbagai negara Islam berbeda-beda waktunya. Namun sudah dijelaskan di muka bahwa kondisi umat Islam sekarang sudah jauh dari ajaran Islam yang menempatkan ibu sebagai orang yang memiliki hak atas bakti sang anak. Berapa banyak anak yang memperlakukan ibunya seperti babu, atau memperlakukan ibu dengan kasar, baik berupa ucapan atau perbuatan, padahal berkata “uh” saja dicela Al Qur’an. Dalam kondisi seperti ini, umat Islam perlu teguran, perlu diingatkan kembali akan ajaran agamanya. Di sinilah urgensi adanya peringatan hari ibu secara nasional, yang biasanya diwarnai oleh berbagai acara bertema ibu. Semua media pada hari ini mengangkat tema yang sama, tentang jasa ibu terhadap anak dan sebagai kompensasinya adalah hak ibu atas bakti sang anak. Diharapkan peringatan ini menjadi momentum untuk seorang anak melakukan evaluasi dan intropeksi atas perlakuannya terhadap ibu selama ini. Apabila ia telah menjalankan kewajibannya sebagai anak yang berbakti, maka ia patut mempertahankan sikapnya dan mengajak saudaranya untuk berlaku sama. Sebaliknya, apabila selama ini ia lalai menjalankan kewajibannya sebagai seorang anak, maka hari ibu baginya merupakan momentum untuk berubah dan mulai menunjukkan baktinya pada sang ibu. 

2.        Maksud dari Peringatan Hari ibu adalah mengingatkan umat akan kewajiban mereka terhadap ibu sebagaimana digariskan al qur’an dan sunnah. Hal ini merupakan aflikasi dari taushiyah bilhaq. Apakah taushiyah bilhaq merupakan hal yang bid’ah? sementara alquran dengan tegas memuji orang-orang mukmin yang beramal sholeh dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran (QS. Al ‘Ashr)  

3.        Dengan melihat sejarah hari ibu di Mesir dan Indonesia di atas, terbukti bahwa peringatan hari ibu di negara muslim bukan sekedar mengikuti trend Barat. Peringatan hari ibu lahir dari kondisi masing-masing negara bukan karena budaya latah.

Akhirnya, saya kembalikan kepada anda, perlukah hari ibu? Atau ia merupakan bid’ah yang mesti ditinggalkan? Saya pribadi, melihat fenomena kedurhakaan yang merebak di tanah air merasa perlu adanya peringatan hari ibu secara nasional, siapa tahu dengan membaca arikel atau nonton film tentang pengorbanan ibu yang ditayangkan di hari ibu, semangat kita untuk berbakti padanya menjadi bertambah. Selamat hari ibu!

http://irliyana.multiply.com