Jumlah pengunjung

Senyum Indah Mereka Adalah Anugerah

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 2 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mengabdi Pada Masyarakat

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 4 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mari Bergabung Bersama Kami

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Selamat Datang di BLOG RUMAH BELAJAR PANDAWA
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Februari 2014

Memahami Makna Kecerdasan Anak*


*Oleh : Prabu Ali Airlangga SHI, MH
(Direktur Rumah Belajar Pandawa)

Sebagai orangtua mereka mempunyai kesadaran bahwa anak adalah sebuah amanah yang dititipkan Tuhan untuk dijaga, dididik dan dirawat dengan baik. Oleh sebab itu, orang tua hendaknya memperhatikan dengan sungguh-sungguh atas kecerdasan yang dimiliki oleh buah hatinya.
Ada tiga hal yang menjadi prioritas dalam konsep pendidikan, sebagaimana yang dirumuskan Benyamin S. Bloom tentang kognitif, afektif dan psikomotor yang dikemas secara apik dalam program life skill.
Dr. Howard Gardner, peneliti dari Harvard, pencetus teori Multiple Intelligence mengajukan delapan jenis kecerdasan yang meliputi Cerdas Bahasa seperti cerdas dalam mengolah kata. Cerdas Gambar  yakni memiliki imajinasi tinggi. Cerdas Musik  meliputi peka terhadap suara dan irama. Cerdas Tubuh yakni trampil dalam mengolah tubuh dan gerak. Cerdas Matematika dan Logika adalah cerdas dalam sains dan berhitung. Cerdas Sosial meliputi kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain, Cerdas Diri merupakan sikap menyadari kekuatan dan kelemahan diri. Cerdas Alam  termasuk peka terhadap alam sekitar. Cerdas Spiritual maksudnya menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan Pencipta alam semesta.
Delapan kecerdasan atau yang lebih dikenal istilah kecerdasan jamak  (multiple intelligences) ini merupakan pengembangan dari kecerdasan otak, emosional dan spiritual. Kecerdasan jamak atau majemuk pada saat ada yang menggolongkan dalam delapan jenis yaitu kecerdasan linguistik, logika-matematika, spasial, kinestetik tubuh, musikal, interpersonal, intrapersonal dan naturalis.
Oleh karena itu, saat buah hati kita sedang mengekspresikan bakat dan potensinya, kita sebagai orang tua bertanggung jawab untuk mengajarkan dan melatihkan bagaimana proses kecerdasan itu terbentuk dengan baik.
Selama ini, yang namanya “kecerdasan” senantiasa dikonotasikan dengan Kecerdasan Intelektual” atau yang lazim dikenal sebagai IQ saja (Intelligence Quotient). Namun pada saat ini, anggapan bahwa kecerdasan manusia hanya tertumpu pada dimensi intelektual saja sudah tidak berlaku lagi. Selain IQ, manusia juga masih memiliki dimensi kecerdasan lainnya, diantaranya yaitu  Kecerdasan Emosional atau EQ (Emotional Quotient) dan Kecerdasan Spiritual atau SQ (Spiritual Quotient).
Pada edisi ini, kami akan mengulas sebuah metode yang kami coba terapkan di Rumah Belajar Pandawa, metode pendekatan ESQ  Power. Pendidikan ESQ merupakan upaya pengembangan kepribadian anak. Kebutuhan pendidikan anak tidak sekedar menjejali dengan pengetahuan semata, tetapi juga aplikasi kemanfaatan bagi kehidupan yang bermakna dengan mengaktualisasikan potensi diri sebaik mungkin di tengah peradaban yang terus berkembang.
Hal ini merupakan tanggung jawab pendidik (orang tua dan pengajar) untuk mentransformasikan nilai-nilai kecerdasan emosional dan spiritual dengan pola asuh yang tepat sesuai tingkat kematangan anak dengan melalui pembiasaan, keteladanan dan penciptaan lingkungan yang kondusif sehingga menjadi manusia yang cerdas secara emosional (EQ) yaitu kecerdasan kalbu yang berkaitan dengan pengendalian nafsu-nafsu impulsif dan agresif dan cerdas spiritualnya (SQ), yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna dan nilai.
Mendidik dan mengajar sesungguhnya bermaksud untuk memberikan pengetahuan dan  kecakapan untuk hidup. Maka caranya tidak boleh keluar dari adat istiadat kehidupan. Mari kita belajar dari tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro, dari konsep pendidikan yang diajarkan di taman siswa, patutnya menjadi inspirasi bagi Rumah Belajar Pandawa.
Patut dipahami oleh kita semua, bahwa pola pendidikan pada generasi kita apakah masih menjadikan IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan yang juga sering dijadikan parameter keberhasilan manusia. Semua orang tua berharap agar buah hatinya bisa berhasil, tidak hanya dengan nilai baik serta  mendapat juara namun dibarengin juga  dengan pola yang benar.
Tak ada artinya trophy kejuaraan berjejer di ruang tamu jika akhirnya tidak sukses hidup. Rata-rata mereka yang berhasil bukan yang bisa menulis halus dengan tata bahasa yang benar, tetapi  mereka yang berani menyampaikan gagasannya.  Mereka yang berhasil bukan yang IQ tinggi (otaknya jenius), tetapi  merekalah yang mempunyai kepribadian baik.
Mereka yang berhasil dibidang politik bukan doktor ilmu sosial politik, tetapi mereka yang  memiliki teman banyak dan jaringannya luas. Jika konsep IQ (Intelligence Quotient) dijadikan patokan keberhasilan manusia maka kami tidak sepakat dengan pendapat tersebut, sebab konsep tersebut  bisa digugurkan dengan konsep Kecerdasan Emosional atau EQ (Emotional Quotient) dan Kecerdasan Spiritual atau SQ (Spiritual Quotient).
Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran Ing Ngarso Sung Tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya), Ing Madyo Mangun Karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk), Tut Wuri Handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri).
Sebelum lebih jauh, patutnya kita memahami terlebih dahuli maksud dari ESQ (EMOSIONAL DAN SPIRITUAL QUOTION), yang pertama saya akan menguraikan tentang makna dari kecerdasan emosional.
Kecerdasan emosional telah diterima dan diakui kegunaannya. Studi-studi menunjukkan bahwa seorang eksekutif atau profesional yang secara teknik unggul dan memiliki EQ yang tinggi adalah orang-orang yang mampu mengatasi konflik, melihat kesenjangan yang perlu dijembatani atau diisi, melihat hubungan yang tersembunyi yang menjanjikan peluang, berinteraksi, penuh pertimbangan untuk menghasilkan yang lebih berharga, lebih siap, lebih cekatan, dan lebih cepat dibanding orang lain.
Istilah kecerdasan emosi pertama kali berasal dari konsep kecerdasan sosial yang dikemukakan oleh Thordike pada tahun 1920 dengan membagi 3 bidang kecerdasan yaitu kecerdasan abstrak (seperti kemampuan memahami dan memanipulasi simbol verbal dan matematika), kecerdasan konkrit seperti kemampuan memahami dan memanipulasi objek, dan kecerdasan sosial seperti kemampuan berhubungan dengan orang lain.
Dari penjabaran tersebut maka dapat kita pahami bahwa kecerdasan emosional yaitu kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain dan kemampuan membina hubungan.
Kita sebagai orangtua sejauh mana membekali buah hati kita bisa mempunyai kepekaan atau membaca perasaan terdalam orang lain (empati), kemampuan untuk menyelesaikan konflik, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, semua hal tersebut dibutuhkan pengendalian diri, semangat, dan ketekunan.
Sedangkan dalam mengembangkan kecerdasan spiritual, kita sebagai orangtua dapat memulainya dari lingkungan keluarga, yakni dengan cara melatih anak-anak melakukan tugas hariannya dengan kesadaran dan dorongan motivasi dari dalam. Seorang anak diberi kasih sayang dan tidak perlu dimanjakan karena akan mengembangkan sifat mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kebutuhan orang lain, kikir dan berpikiran sempit.
Sebagai orang tua, kita harus menciptakan suasana lingkungan keluarga penuh kasih dan pengalaman saling memaafkan. Anak perlu belajar untuk bisa menerima dan mendengarkan dengan baik, terhadap diri sendiri maupun orang lain. Adapun beberapa hal yang perlu kita perhatikan yaitu,
Pembiasaan. Misalnya membiasakan anak sejak kecil untuk bangun pagi, beribadah bersama, membaca buku-buku agama, berlaku sopan pada siapapun, berlaku jujur, perlu untuk dibiasakan. Anak-anak kita seyogyanya kita  sadarkan bahwa mereka kelak harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Sang Pencipta. Dengan upaya tersebut, kiat sebagai orangtua sudah membekali nilai-nilai kecerdasan spiritual kepada anak.
Keteladanan. Keteladanan yang diberikan orang tua dan keluarga akan memberikan dampak yang baik pada diri pribadi anak. Tanpa keteladanan yang baik dari orang tua, pendidikan terhadap anak tidak akan berhasil dan nasehat-nasehat tidak akan membekas. Orang tua tidak dapat mengharapkan anak-anaknya berbuat keutamaan dan akhlak mulia kalau orang tua juga tidak berbuat demikian.
Ada kesan yang salah bahwa, para orang sukses bukanlah orang yang religius. Hal ini disebabkan pemberitaan tentang para koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki kekayaan dengan jalan tidak halal. Karena orang-orang jahat ini 'tampak' kaya, maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan rakus, para penindas orang miskin. Sebenarnya sama saja, banyak orang miskin yang juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau miskin.
Para orang sukses sejati yaitu yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal dan berbagi terhadap sesama. Mereka menyumbangkan hartanya di jalan amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai yayasan amal.
Kebanyakan dari mereka menghindari publikasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa para orang sukses sejati menyumbangkan minimal 10 persen dari pendapatan kotor untuk kegiatan amal, bahkan saat dulu mereka masih miskin. Mereka menyadari bahwa kekayaan mereka hanyalah titipan dari Tuhan, 'silent partner' mereka.
Akhirnya melalui kecerdasan spiritual manusia mampu menciptakan makna untuk tujuan-tujuannya. Hasil dari kecerdasan aspirasi yang berupa cita-cita diberi makna oleh kecerdasan spiritual. Melalui kecerdasan spiritual pula manusia mampu tetap bahagia dalam perjalanan menuju teraihnya cita-cita.

Kunci bahagia adalah Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan spiritual (SQ) berkaitan dengan masalah makna, motivasi, dan tujuan hidup sendiri. Jika IQ berperan memberi solusi intelektual-teknikal, EQ meratakan jalan membangun relasi sosial, SQ mempertanyakan apakah makna, tujuan,dan filsafat hidup seseorang.

Rabu, 21 November 2012

MISI Pendidikan Pancasila


     Kondisi pendidikan formal saat ini memang sangat memprihatinkan, apalagi hampir satu decade ini pendidikan pancasila direduksi dari kurikulum pendidikan anak-anak. Akibatnya anak-anak menjadi jauh dari pencasila dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Mereka hanya mengenal pancasila sebagai lafadz yang Cuma bias di katakana namun tak mampu menjelaskan apalagi mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
       Salah satu program yang dibawa oleh relawan ini adalah misi pendidikan pancasila, mula dari belajar kebinekaan, persatuan Indonesia, dan lain sebagainya. Mengabdi kepada masyarakat dan ikut merasakan bagaimana kehidupan sesama merupakan salah satu dari upaya mengaplikasikan sila kedua yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradap, karena diharapkan kegitan tersebut dapat menyentuh sisi humanis atau kemanusiaan kita.
         “Saya tidak menyangka jika mereka begitu kuat, sekalipun mereka tak bersama orang tua mereka bahkan diantara mereka sesungguhnya tidak tahu siapa orang tua mereka sebenarnya. Jika saya yang mengalami, saya tidak tahu gimana?” ujar Rana mahasiswa asal NTT salah satu relawan yang kagum dengan semangat anak-anak rumah belajar pandawa.
       “Lebih hebatnya lagi mereka tidak pernah menyalahkan keadaan, tidak menyalahkan orang tua mereka padahal saya sering ngerasa kurang dengan kasih sayang orang tuaku yang sekarang aku sadari tiada kurangnya” imbunya sambil tersenyum malu. Air mata itu meluncur deras Sebab sebelumnya ia mendengar beberapa curhatan langsung dari anak-anak tentang latar belakang kehidupan yang mereka jalani setiap hari.


Satu Bulan Bersama Relawan STK Widya Mandala
       Hari itu hari senin pukul 18.00, desir angin yang menyibak dahan pepohonan di taman beradu dengan raungan knalpot kendaraan bermotor yang memadati jalan Ngagel, Wonokromo. Dibawah rindangnya pohon taman yang menghantarkan lembar-demi lembar daun kering terhempas direrumputan taman, terdapat sekumpulan bocah-boca yang sedang asik dengan beragam aktivitas belajar bersama di taman.
       Diantara penerangan seadanya mereka bergerumul menghadap beberapa papan tulis dengan coretan-coretan. Mereka adalah relawan bersama murid-murid Rumah Belajar Pandawa. Relawan yang merupakan mahasiswi Universitas Katolik Widia Mandala atau biasa di singkat UWM yang terdiri dari Mia Dwi Retno, Aprelia Caroline, Brenda Silviani, Fatmala Fatmawati, Yosefina Silvia Daru, Rana Keera, Novita Jalasari, Rika Kumalasari, kritina atau biasa disapa Beta.
        Sebenarnya mereka menjadi relawan di Rumah Belajar Pandawa bermula dari program praktek kerja lapangan atau biasa disingkat PKL yang mengedapankan pengabdian masyarakat. “awalnya saya ngeluh saat menjalankan tugas PKL jika harus kaya gini, mana mungkin anak manja seperti saya bersosialisasi dengan anak jalanan yang berkepribadian macam ini (Liar: Red), nakal, omongannya kotor dan gitu deh” tutur Caroline yang mengaku anak manja itu. 
Mahasiswi yang berasal dari Jember itu menambahkan bahwa adiknya yang dirumah saja sering kena marah gara-gara suka mengganggunya. “Tapi dengan mengajar di Rumah Belajar Pandawa, saya jadi tahu bahwa saya bisa bersosialisasi dengan anak-anak yang karekternya bermacam-macam. 
           Selain itu juga saya juga mulai pandai bersyukur pada tuhan” Imbuh gadis semampai bermata sipit dengan meneteskan airmata keharuan saat ditanyaoleh reporter Pandawa Kalmia Sada. Bahkan ia berjanji akan lebih menyayangi orang tua yang selama ini ia acuhkan atas segala apa yang mereka berikan padanya, begitupun pada adiknya yang dianggap nakal.
(bersambung ya............)

Minggu, 18 November 2012

Motivasi Bagi Pengamens Cilik, Ingin Menjadi Guru


“Kalau saya sudah besar nanti saya ingin menjadi guru” ungkap Mawar bersemangat.
“saya juga ingin jadi guru” Tambah Melati yang tidak kalah semangatnya (Mawar, melati bukan nama sebenarnya). 
Begitulah kira–kira celoteh dua anak yang sampai saat ini masih bersama ibunya untuk mencari sesuap nasi dijalanan kota Surabaya.  Dan diruang tamu  home base Rumah Belajar Pandawa yang sempit karena dipenuhi banyak anak yang ingin belajar. Diantara sekian banyak murid-murid yang menjadi dampingan kami, adalah Mawar dan Melati merka adalah anak kurang mampu itu.
Sepasang kakak adik yang terlambat sekolah karena harus membantu ibunya untuk mengemis tiap hari. Meskipun sekarang umurnya sudah menginjak kelas satu SD, namun karena tuntutan ekonomi ia baru sekolah di kelas TK tahun ini. Itupun karena ada yang memotivasi untuk sekolah, disamping itu merka berdua masih mempunyai semangat untuk mengapai masadepanya.
“Meskipun terlambat sekolah, namun mawar dan melati mempunyai kecerdasan yang harus terus dikembagkan. Mungkin karena ia memang sini kuasa tuhan ya”, tutur Khotijah yang dengan telaten membimbing dua anak itu belajar membaca dan berhitung. 
Di sampingnya juga tampak papan tulis putih penuh guratan spidol yang berisi angka-angka penjumlahan.  Ia tampak sabar memberi  rayuan dan motivasi agar Mawar dan Melati selalu rajin belajar agar bisa tercapai cita-cita keduanya.

Hari-Hari Seniman Kecil Jalanan
Mawar dan Melati adalah sepasang kakak adik. Mawar yang lebih tua berumur  tujuh  tahun, sedang Melati adiknya berumur enam tahun. Meski berbeda umur namun ia menuntut ilmu di jenjang yang sama, dan lebih mengherankannya lagi keduanya baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.
Mereka masih sekolah di bangku TK bukan karena mereka tinggal kelas. Namun karena mereka baru saja mengenal dunia pendidikan, sejak adanya lembaga Rumah Belajar Pandawa.
Alasan mengapa mereka baru bersekolah cukup miris. Ditengah modernnya dunia pendidikan dengan fasilitas memedai serta jargon pendidikan gratis, Mawar dan Melati masih sibuk  dan ngamen usia sekolah. Akibatnya seperti diatas ia terlambat sekolah.
Memang, sebelum bersekolah sepasang kakak berdaik yang tinggal di gubuk semi permanen yang satu atap dengan gudang sampah dan berhalaman rel kereta api itu menghabiskan sepanjang harinya di jalanan untuk mengemis bersama ibunya. Ia berangkat pagi dan pulang pukul Sembilan malam.
“Saya pernah bertemu kedua anak itu, bersama ibunya mengais risky smpai tengah malam di angkringan PKL sepanjang trotoar Universitas Airlangga” tutur salah seorang relawan baru pada kru kalimasada.
Dan ketika Mawar dan Melati ditanya kemana saja mengemis selama ini, rupanya dia belum bisa mendiskripsikan dimana saja ia mengemis. Didaerah mana ia belum paham karena ia Cuma berjalan bersama ibunya, berjalan kemana saja terserah ibunya.

Mereka Cuma ikut saja.
“Ndak ngerti mas…! Pokoe melu mak… “ ujar Melati sambil tersipu-sipu malu karena memang sebenarnya dia malu jika diejek temen-teman sekolahnyakarena pekerjannya. Apalagi jika ditanya pekerjaan orang tuanya oleh guru, mahu tak mau mereka harus menahan malu karena teman-teman mereka menimpali dengan serempak “Mengemis, nagamen”.
Maka dari itu ia tidak mau sekolah TK hingga bertahun-tahun. Namun dengan kehadiran Rumah belajar Pandawa mereka jadi termotivasi untuk belajar. Mereka jadi tahu belajar itu ternyata menyenangkan, dan tidak membosankan seperti yang menghantui benaknya bertahun lamanya.
“Seneng mas… iso ketemu teman dan belajar bersama” tambah Mawar ketika ditanya bagaimana persaan di belajar di Rumah Belajar Pandawa.

Motivasi untuk Rajin Belajar
Pada bulan Oktober  dan November Rumah Belajar Pandawa kedatangan Relawan tak tetap dari Universitas Katolik Widia Mandala atau biasa di singkat UWM. Relawan yang terdiri dari sembilan mahasiswi semester satu mereka meluangkan waktu kuliyahnya guna turut mengejar bersama di taman setiap hari Senin malam.
Kedatangan para mahasiswi tersebut, memberi  warna tersendiri di hati anak didik Rumah Belajar Pandawa. Bahkan dampaknya membuat mereka makin mengenal banyak guru dari berbagai latar belakang.
Jika biasanya guru mereka di dominasi mahasiswa IAIN yang berlatar belakang pendidikan Islam, Humaniora Islam dan social Islam yang bersuku Jawa. kini dengan kehadiran mahasiswi UWM mereka bisa mengenal  guru-guru dari latar belakang lain, latar belakang farmasi dan dan bahasa inggris member warna tersendiri bagi anak didik. Keberagaman etnis yang dibawa mulai dari Jawa, Madura, Batak, Timor hingga keturunan Hokkian tiong Hoa membuat anak-anak mengenal keberagaman dan menghargainya sebagai wujud kebenekaan.
“Saya bersyukur diberikan kesempatan untuk mengajar disini, karena dibanding dengan mahasiswa yang mendapat tugas mengajar di tempat lain, ternyata disinilah yang paling menantang dan tepat sasaran” tutur Mia, salah satu mahasiswa UWM yang oleh teman-temannya didaulat sebagai juru bicara.
“Disini itu pokoknya apa adanya dan tidak dibuat-buat, sehingga tidak heran jika para anak didik menjadi berprestasi baik disekolah maupun  di luar sekolah” Tambah Carolina penuh semangat.
Menurut ketua rumah Belajar Pandawa Ali Airlangga, kehadiran  para relawan diharapakan mampu memberi inspirasi bagi anak didik Rumah Belajar Pandawa sehingga mereka jadi lebih bersemangat untuk belajar untuk mewujudkan cita-citanya.

Jumat, 10 Agustus 2012

Meriahnya Pandawa Firstival Anniversary


    25 Juni 2012, Hari yang di tunggu-tunggu oleh segenap murid pandawa akhirnya tiba juga. Para ibu-ibu dan anak-anak berkumpul riang dibawah tenda ukuran 2 x 3 meter yang menutup jalan Lumumba dalam RT 1. Mereka begitu seksama mengikuti acara demi acara yang disiapkan oleh para relawan pandawa selama hampir dua bulan itu.
    Suguhan acara yang atraktif dimulai dengan pembacaan ayat suci al quran, deklamasi puisi berjudul ibu, pidato, atraksi pencak silat dan drama yang kesemuanya di persembahkan oleh murid-murid rumah belajar pandawa.  Satu lagi acaranya yang paling dinantikan oleh para ibu-ibu yang  hadir, season itu adalah ceramah agama oleh H. Sumarkand seorang ulama dari IAIN Sunan Ampel Surabaya yang acap kali di jumpai dalam acara pengajian rutin di TVRI Jawa Timur serta beberapa radio swasta di Surabaya dan sekitarnya. 
    Dalam kesempatan itu, beliau yang lekat dengan sorban putihnya menyampaikan tentang isra miraj sesuai permintaan para warga Lumumba kepada relawan pandawa yang mengusulkan pengajian menyambut isra miraj.
    Seperti biasa dengan gaya kocak khas kyai, selain mempu memberi  kesejukan bagi para ibu, juga mampu menabur kerenyahan suasana. Sehingga seringkali menimbulkan gela tawa yang tidak tertahan. Akibatnya suasana yang telah renyah jadi semakin meriah. Beliau juga memesankan pada seluruh hadirin untuk memaknai isra miraj sebagai pelajaran ketabahan, serta senantiasa mengamalkan souvenir Isra Miraj yang dititipkan pada Rosullulah bagi seluruh umatnya.  Souvenir tersebut adalah shalat lima waktu.
Sajian Atraktif
    Yang tidak kalah menarik dari perayaan ulang tahun pertama rumah belajar pandawa ini adalah sajian hiburan dari para murid pandawa sendiri, mereka menyajikan kreatifitas sesuai bakat mereka masing-masing setelah di latih selama satu bulan.
    Pada persembahan deklamasi puisi berjudul ibu suguhan Faradila, sebagian hadirin yang didominasi oleh para ibupun tak kuasa menahan air mata. Mereka tampak mengharu biru dan bangga atas sanjungan dalam sajak-sajak yang dirangkai oleh taufik ismail itu. Bahkan ibu faradila yang menyaksikan tak kalah harunya, airnya matanya tak sekedar menetes, tapi juga berlinang bagi air terjun dipipinya. Sesekali ibu tiga anak ini mengusap buliran bening itu dengan jilbabnya.
    Haru biru berakhir dan berganti pentunjukan mendebarkan yang dibumbui gela tawa kala murid pandawa yang menekuni pencak silat  Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pandawa. Sorak te[uk tangan berkali-kali terdengar saat satu persatu jurus pencak silat dipertontonkan. Duel antara satu lawan tiga, seperti layaknya seorang kesatria dikriyok para penjahat juga di ekspresikan kelima murist PSHT Pandawa.
    Pada malam penutupanya aksi dai cilik  Prahasta Bagus Ardana juga tidak kalah heboh. Meski agak malu karena tampil dihadapan para penonton, namun dia bisa membawakanya dengan penuh percaya diri.  Setalah itu guru-guru (relawan) RB.Pandawa  membagikan tas, buku pelajaran  serta  peralatan sekolah kepada  semua murid. Ucapan syukur dan terimakasih kepada para donatur yang selama ini telah banyak membantu lembaga pendidikan arternatif bagi puluhan siswa yang kurang mampu, seniman jalanan, agar dapat meraih cita-citanya disampaikan oleh Prabu Ali Airlangga selaku direktur RB.Pandawa.

Jumat, 29 Juni 2012

BerBuAh yuk




Musim Liburan telah datang,
pasti hati jadi senang
Senang karena dapat liburan istimewa bersama orang-orang special,  gembira juga jika waktu masuk sekolah tiba kita udah siap-siap memburu pernak-pernik kebutuhan sekolah. Berburu tas baru, seragam baru, buku baru, kendaraan baru. Pokoknya serba baru deh…..
Ups,,,, tunggu dulu!
Saat kita dengan royal merogoh kocek  untuk perangkat serba baru, kadang kita lupa ada mereka yang  gak seberuntung kita.  
Apa mereka juga hunting pernak-pernik serba baru untuk sekolah? atau jangan-jangan SPP bulan kemarin bahkan belum terbayar atau ijazahpun belum tertebuskan?  Sedih banget kan… :(
Nah, ga perlu terlalu lama ikut bersedih,
sekarang saatnya ikut beraksi membantu meringankan beban mereka yang papa. Rumah Belajar Pandawa kini mengenalkan program kerennya nih. Nama programnya adalah “BerBuAh: BERbagi BUku dan hadiAh”.  Program ini mengajak seluruh kawan-kawan Pandawa untuk ikut serta membantu  memenuhi kebutuhan sekolah. Ada dua cara nih untuk partisipasi program ini  :D
Cara pertama
Cara ini adalah melalui donasi tunai senilai 50.000 rupiah, donasi ini akan direalisasikan menjadi tas, buku dan alat tulis lainnya, untuk donasi  75.000 akan ditambah seragam sekolah, nah kalo yang  donasi 100.000, berarti telah menyumbang tabungan pendidikan.
Uang donasinya bisa dikirim ke nomer rekening berikut
Bank jatim : 0017204246 a/n Rumah Belajar Pandawa
Bank BTN: 00064-01-001188-1 a/n Rumah Belajar Pandawa
Bank Mini Syariah: 01.11.001362.01
Cara kedua
Nah,, buat yang uang jajannya pas-pasan, atau kurang sreg g donasi pake uang, kalian bisa kok donasi berupa barang. Bisa buku tulis, buku bacaan, boneka, permaninan atau apa saja yang berguna buat mereka.
Oh ya, kalo kalian punya buku yang udah jarang dibaca, seragam yang udah ga dipake atau apa saja yang barang bekas kalian. Boleh kok disumbangkan buat anak-anak Laskar Pandawa. Sayang kan kalo dianggurin, apalagi dibuang.
Eits,,, berapapun donasi anda atau apapun sumbagan anda, yang pasti kami akan memberi marchendese cantiQ tanda terima kasih karya anak-anak Laskar Rumah Belajar Pandawa. Sebagai kenang-kenangan bahwa telah menjadi bagian dari pengabdian kami.
Nah , kalo udah gini tunggu apalagi ?
Buruan ikutan program ini, n jika butuh info lebih lanjut silahkan klik FB: di facebook/rumah belajar pandawa. Atau bisa hubugi di nomer 085735727647 (kaka awan) 085852456350 (kaka ali)

Senin, 11 Juni 2012

Proses belajar mengajar RB PANDAWA





Kecerdasan Ganda yang Dimiliki Anak

MENINGKATKAN kecerdasan dan kreativitas jauh lebih efektif dilakukan pada masa kanak-kanak, bahkan sebelum masa sekolah (usia prasekolah). Banyak orang tua mendambakan anak yang cerdas. Namun tidak banyak yang tahu, cara paling efektif mendidik anak menjadi lebih cerdas.

Berdasarkan hasil sejumlah riset di bidang pendidikan, kedokteran, dan psikologi, ditemukan 9 rahasia kecerdasan anak, yang seyogyanya menjadi pedoman bagi orang tua dalam mendidik anak menjadi lebih cerdas. Apa saja 9 rahasia kecerdasan anak tersebut? Berikut ulasannya:

  1. Perubahan-perubahan dalam kemampuan mental paling besar terjadi pada masa otak mengalami pertumbuhan yang paling pesat, yaitu pada masa kanak-kanak. Pada umur 4 tahun, anak telah mencapai separuh dari kemampuan kecerdasannya dan pada umur 8 tahun ia mencapai 80%. Setelah umur 8 tahun, tanpa melihat bentuk pendidikan dan lingkungan yang diperoleh, kemampuan kecerdasannya hanya dapat diubah sebanyak 20%. Setelah dewasa, pertumbuhan otak makin menurun seiring dengan bertambahnya umur.

  2. Taraf kecerdasan anak tidak terbentuk dan terpola sejak lahir dan sangat dipengaruhi faktor lingkungan. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa permulaan kehidupannya. Anggapan bahwa Anak memiliki taraf kecerdasan yang sudah terbentuk dan memiliki tempo perkembangan yang tidak bisa diubah adalah salah.

  3. Rangsangan di masa kecil bisa mengubah ukuran dan fungsi kimiawi dari otak. Di sisi lain, ada suatu batas waktu dimana sel-sel otak tidak dapat digiatkan lagi dengan mudah. Terkait dengan hal ini, faktor keturunan menentukan batas tertinggi bagi taraf kecerdasan anak. Tetapi batas ini demikian tinggi sehingga para sarjana yakin tidak seorang manusia pun yang pernah mencapainya.

  4. Terdapat masa-masa peka pada kehidupan anak terhadap beberapa jenis pembelajaran. Masa peka ini merupakan tingkatan dalam perkembangan dimana keadaan otak yang sedang tumbuh memudahkan anak untuk melakukan beberapa jenis pembelajaran tertentu. Setelah masa peka ini lewat, akan sulit atau kadang-kadang tidak mungkin lagi untuk melakukan jenis pembelajaran tersebut.

  5. Kemampuan berbicara adalah hal yang sulit dan merupakan salah satu faktor penentu kecerdasan. Dan anak-anak berhasil melakukannya sebelum umur lima tahun. Terkait dengan hal ini, Anak-anak lebih mudah belajar bahasa kedua atau ketiga pada tahun-tahun pertama dari kehidupannya dibandingkan masa-masa selanjutnya. Ini adalah pengaruh sifat phisiologis yang terdapat pada otak.

  6. Cortex dari otak seorang anak secara kasar dapat dianalogikan sebagai komputer, yang harus diberi ‘program’ sebelum dapat bekerja secara efektif. Anak memberi program pada otaknya dengan jalan mengirimkan rangsangan-rangsangan sensorik yang berasal dari mata, telinga, hidung, mulut dan perabaan ke otak melalui saraf-saraf. Lebih banyak rangsangan sensorik yang merangsang otak, lebih besar pula kemampuan otak untuk berfungsi secara cerdas.

  7. Setiap anak memiliki dorongan untuk eksplorasi (menyelidiki), memeriksa, mencoba, mencari hal-hal baru, belajar menggunakan alat-alat inderanya, dan memuaskan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Dorongan itu sama kuatnya dengan rasa lapar, haus dan dorongan lainnya yang dapat disebut dorongan primer. Setiap kali anak terdorongan untuk melakukan sesuatu, maka ia akan belajar untuk melakukannya. Ia mencoba, mengulangi, meneliti dan berusaha untuk menguasai lingkungannya sebanyak mungkin terutama demi kegembiraannya yang dirasakannya dalam melakukan kegiatan itu.

  8. Belajar pada dasarnya bisa menyenangkan dan anak kecil akan belajar dengan sendirinya bila usaha-usaha mereka tidak diganggu oleh tekanan-tekanan, persaingan, penghargaan, hukuman ataupun rasa takut. Dalam hal ini suasana rumah dan cara mengasuh anak, sangat berpengaruh terhadap minat dan motivasi anak untuk belajar.

  9. Semakin banyak yang dilihat dan didengar oleh anak, semakin banyak pula yang ingin diketahuinya. Semakin beraneka ragam rangsangan-rangsangan lingkungan yang pernah dihadapinya, semakin besar pula kemampuannya untuk mengatasi atau menguasai rangsangan-rangsangan itu.

*disarikan dari berbagai sumber

Minggu, 29 April 2012

Refreshing


Lomba Puisi


Kegiatan Belajar Pencak Silat


Sabtu, 17 Maret 2012

Karakter Anak Bermasalah

“Mungkinkah mengetahui dan memastikan apakah seorang anak itu bermasalah, dalam waktu 5-10 menit pertama saat kita bertemu dengannya?” Jawabannya adalah “mungkin” dan “pasti”. Pertanyaan yang sering saya ajukan kepada peserta seminar ataupun para orangtua yang sedang bersemangat belajar dan mencecar saya dengan berbagai pertanyaan seputar anaknya.
Rahasia tersebut akan saya bahas sekarang, rahasia yang sering saya gunakan untuk menganalisa seorang anak. Apakah dia bermasalah, bahkan setelah mempelajarinya dengan seksama kita mampu meramal masa depan seorang anak. Wow, tenang ini bukan obral janji, tapi ini pasti. Dari hasil menangani berbagai kasus keluarga dan individu maka terbentuklah suatu pola yang akurat ditiap individu. Kebanyakan klien saya jika memiliki masalah, kebanyakan masalah tersebut  dan sebagian besar masalah itu berasal dari 2 hal. Ini juga rahasia (Rahasia dari ruang terapi saya), tapi akan saya bongkar habis.
Baiklah 2 hal tersebut berasal dari :
  • Keluarga (keluarga yang membentuk masalah tersebut secara tidak sengaja).
  • Masalah tersebut berasal dari usia 7 tahun kebawah.

Keluarga, adalah faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Karakter seorang anak berasal dari keluarga. Dimana sebagian sampai usia 18 tahun anak-anak diIndonesia menghabiskan waktunya 60-80 % bersama keluarga. Manusia berbeda dengan binatang (maaf..) seekor anak kucing yang baru lahir, bisa hidup jika dipisahkan dari induknya, dan banyak binatang yang lain yang memiliki kemampuan serupa. Manusia tidak bisa, sampai usia 18 tahun masih membutuhkan orangtua dan kehangatan dalam keluarga. Sukses seorang manusia tidak lepas dari “kehangatan dalam keluarga”. Akan sangat banyak hal yang akan dikupas dari tiap tahun kehidupan manusia dan kebutuhannya serta cara memenuhi kebutuhan tersebut, terutama aspek emosi. Saya tidak akan meneruskannya, kita akan bahas dikesempatan lainnya, kini kita kembali ke cara mengetahui ciri anak bermasalah.
Usia 7 tahun kebawah? Ada apa pada usia ini? Pada masa ini kebanyakan (85%) letak masalah atau asal muasal masalah / hambatan seorang manusia tercipta. Istilah kerennya Mental Block. Karakter yang menghabat pencapaian cita-cita pribadi kita. Dan biasanya akan terasa pada usia 22 tahun ke atas. Woo… segitunya? Ya Mental Block seperti program yang seakan-akan dipersiapkan (karena ketidak sengajaan dan ketidak tahuan orangtua kita) untuk menghambat berbagai macam aspek dalam kehidupan kita. Aspek itu bisa berupa Karier (takut kaya, takut jabatan tinggi) kesehatan (tubuh gemuk, alergi) Relationship (tidak gampang cocok dengan pasangan/teman, paranoid) dan lain hal, serta masih banyak lagi.
Ada apa dengan 7 tahun kebawah dan disekitar 7 tahun pertama kehidupan manusia? Baiklah saya jelaskan, pada masa ini kita membutuhkan, kebutuhan dasar Emosi yang harus terpenuhi ingat HARUS terpenuhi. Jika pada masa ini lewat dan tidak terpenuhi  maka, akan terjadi Mental Block pada diri anak tersebut. Inilah asal muasal dimana Mental Block terbentuk. Karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar Emosi yang dibutuhkan seorang manusia. Kebutuhan apa yang dibutuhkan pada anak seusia itu? Sehingga fatal akibatnya (pada masa dewasa anak tersebut) jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi

Ada 3 kebutuhan yang harus dipenuhi pada anak usia 0 – 7 tahun bahkan lebih, cara ini adalah kunci dalam pendidikan karakter, agar karakter anak kita bisa tumbuh dan berkembang maksimal. Disamping itu ketiga hal inilah asal muasal Mental Block yang sering kali terjadi atau terasa sangat menganggu pada saat anak tersebut dewasa. Yaitu :

1. Kebutuhan akan rasa aman
2. Kebutuhan untuk mengontrol
3. Kebutuhan untuk diterima
3 kebutuhan dasar emosi tersebut harus terpenuhi agar anak kita menjadi pribadi yang handal dan memiliki karakter yang kuat menghadapi hidup. Ini akan sangat panjang sekali jika dijelaskan, nah mengingat kita membahas ciri – ciri karakter anak bermasalah maka kita akan kembali ke topic tersebut.

Sebenarnya ada 6 ciri karakter anak yang bermasalah, cukup kita melihat dari perilakunya yang nampak maka, kita sudah dapat melakukan deteksi dini terhadap “musibah besar” dikehidupan yang akan datang (baca: semakin dewasa) dan secepatnnya dapat melakukan perbaikan.
Inilah ciri-ciri karakter tersebut :
1. Susah diatur dan diajak kerja sama
Hal yang paling Nampak adalah anak akan membangkang, akan semaunya sendiri, mulai mengatur tidak mau ini dan itu. pada fase ini anak sangat ingin memegang kontrol. Mulai ada “pemberontakan” dari dalam dirinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah memahaminya dan kita sebaiknya menanggapinya dengan kondisi emosi yang tenang.
Ingat akan kebutuhan dasar manusia? Tiga hal diatas yang telah saya sebutkan, nah kebutuhan itu sedang dialami anak. Kita hanya bisa mengarahkan dan mengawasi dengan seksama.
2. Kurang terbuka pada pada Orang Tua
Saat orang tua bertanya “Gimana sekolahnya?” anak menjawab “biasa saja”, menjawab dengan malas, namun anehnya pada temannya dia begitu terbuka. Aneh bukan? Ini adalah ciri ke 2, nah pada saat ini dapat dikatakan figure orangtua tergantikan dengan pihak lain (teman ataupun ketua gang, pacar, dll). Saat ini terjadi kita sebagai orangtua hendaknya mawas diri dan mulai menganti pendekatan kita.
3. Menanggapi negatif
Saat anak mulai sering berkomentar “Biarin aja dia memang jelek kok”, tanda harga diri anak yang terluka. Harga diri yang rendah, salah satu cara untuk naik ke tempat yang lebih tinggi adalah mencari pijakan, sama saat harga diri kita rendah maka cara paling mudah untuk menaikkan harga diri kita adalah dengan mencela orang lain. Dan anak pun sudah terlatih melakukan itu, berhati-hatilah terhadap hal ini. Harga diri adalah kunci sukses di masa depan anak.
4. Menarik diri
Saat anak terbiasa dan sering Menyendiri, asyik dengan duniannya sendiri, dia tidak ingin orang lain tahu tentang dirinya (menarik diri). Pada kondisi ini kita sebagai orangtua sebaiknya segera melakukan upaya pendekatan yang berbeda. Setiap manusia ingin dimengerti, bagaimana cara mengerti kondisi seorang anak? Kembali ke 3 hal yang telah saya jelaskan. Pada kondisi ini biasanya anak merasa ingin diterima apa adanya, dimengerti – semengertinya dan sedalam-dalamnya.
5. Menolak kenyataan
Pernah mendengar quote seperti “Aku ini bukan orang pintar, aku ini bodoh”, “Aku ngga bisa, aku ini tolol”. Ini hampir sama dengan nomor 4, yaitu kasus harga diri. Dan biasanya kasus ini (menolak kenyataan) berasal dari proses disiplin yang salah. Contoh: “masak gitu aja nga bisa sih, kan mama da kasih contoh berulang-ulang”.
6. Menjadi pelawak
Suatu kejadian disekolah ketika teman-temannya tertawa karena ulahnya dan anak tersebut merasa senang. Jika ini sesekali mungkin tidak masalah, tetapi jika berulang-ulang dia tidak mau kembali ke tempat duduk dan mencari-cari kesempatan untuk mencari pengakuan dan penerimaan dari teman-temannya maka kita sebagai orang tua harap waspada. Karena anak tersebut tidak mendapatkan rasa diterima dirumah, kemanakah orangtua?

Kamis, 15 Maret 2012

Nilai ESQ Anak-anak



  1. Mengintegrasikan pendidikan ESQ ke semua materi pembelajaran termasuk pelajaran sains, sehingga tidak berpusat pada aspek kognitif saja.  Misalnya, penanaman motivasi untuk melestarikan bumi atau hikmah penciptaan semesta melalui pelajaran Biologi.
  2. Perubahan paradigma “Siswa Teladan”. Jika selama ini pemilihan siswa teladan berangkat pada penilaian cognitive-based competition semata, sudah saatnya paradigma itu dihapuskan. Siswa teladan bukan saja siswa yang berprestasi dalam hal “juara kelas” dan semisalnya, akan tetapi, siswa yang berkarakter mandiri, taqwa, peka sosial, seharusnya mendapat apresiasi dan penilaian lebih.
  3. Pembenahan lingkungan belajar. Lingkungan yang sehat bukan saja memberikan stimulasi positif bagi proses transfer pengetahuan, tetapi juga memudahkan optimalisasi nilai-nilai luhur dalam lingkup pendidikan. Lingkungan sehat dapat dibentuk melalui budaya yang sehat pula. Seperti budaya sekolah anti-rokok, terlebih dahulu dimulai dari guru dan karyawan sebagai sosok teladan, lalu diikuti oleh semua unsur-unsur akademik.
  4. Mengembalikan fungsi fasilitas ibadah di lingkup akademik. Musallah sekolah misalnya, dihidupkan kembali dengan budaya shalat berjamaah oleh segenap masyarakat sekolah, sehingga pelajaran agama tidak sekedar bernilai teoritis.
  5. Apresiasi pemerintah terhadap setiap jenjang pendidikan yang berhasil menerapkan pendidikan berbasis kecerdasan komprehensif ini dengan memberikan penghargaan, hingga bantuan beasiswa bagi guru yang ingin meningkatkan kualitas akademiknya.