Jumlah pengunjung

Senyum Indah Mereka Adalah Anugerah

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 2 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mengabdi Pada Masyarakat

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 4 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mari Bergabung Bersama Kami

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Selamat Datang di BLOG RUMAH BELAJAR PANDAWA
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2012

Meriahnya Pandawa Firstival Anniversary


    25 Juni 2012, Hari yang di tunggu-tunggu oleh segenap murid pandawa akhirnya tiba juga. Para ibu-ibu dan anak-anak berkumpul riang dibawah tenda ukuran 2 x 3 meter yang menutup jalan Lumumba dalam RT 1. Mereka begitu seksama mengikuti acara demi acara yang disiapkan oleh para relawan pandawa selama hampir dua bulan itu.
    Suguhan acara yang atraktif dimulai dengan pembacaan ayat suci al quran, deklamasi puisi berjudul ibu, pidato, atraksi pencak silat dan drama yang kesemuanya di persembahkan oleh murid-murid rumah belajar pandawa.  Satu lagi acaranya yang paling dinantikan oleh para ibu-ibu yang  hadir, season itu adalah ceramah agama oleh H. Sumarkand seorang ulama dari IAIN Sunan Ampel Surabaya yang acap kali di jumpai dalam acara pengajian rutin di TVRI Jawa Timur serta beberapa radio swasta di Surabaya dan sekitarnya. 
    Dalam kesempatan itu, beliau yang lekat dengan sorban putihnya menyampaikan tentang isra miraj sesuai permintaan para warga Lumumba kepada relawan pandawa yang mengusulkan pengajian menyambut isra miraj.
    Seperti biasa dengan gaya kocak khas kyai, selain mempu memberi  kesejukan bagi para ibu, juga mampu menabur kerenyahan suasana. Sehingga seringkali menimbulkan gela tawa yang tidak tertahan. Akibatnya suasana yang telah renyah jadi semakin meriah. Beliau juga memesankan pada seluruh hadirin untuk memaknai isra miraj sebagai pelajaran ketabahan, serta senantiasa mengamalkan souvenir Isra Miraj yang dititipkan pada Rosullulah bagi seluruh umatnya.  Souvenir tersebut adalah shalat lima waktu.
Sajian Atraktif
    Yang tidak kalah menarik dari perayaan ulang tahun pertama rumah belajar pandawa ini adalah sajian hiburan dari para murid pandawa sendiri, mereka menyajikan kreatifitas sesuai bakat mereka masing-masing setelah di latih selama satu bulan.
    Pada persembahan deklamasi puisi berjudul ibu suguhan Faradila, sebagian hadirin yang didominasi oleh para ibupun tak kuasa menahan air mata. Mereka tampak mengharu biru dan bangga atas sanjungan dalam sajak-sajak yang dirangkai oleh taufik ismail itu. Bahkan ibu faradila yang menyaksikan tak kalah harunya, airnya matanya tak sekedar menetes, tapi juga berlinang bagi air terjun dipipinya. Sesekali ibu tiga anak ini mengusap buliran bening itu dengan jilbabnya.
    Haru biru berakhir dan berganti pentunjukan mendebarkan yang dibumbui gela tawa kala murid pandawa yang menekuni pencak silat  Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pandawa. Sorak te[uk tangan berkali-kali terdengar saat satu persatu jurus pencak silat dipertontonkan. Duel antara satu lawan tiga, seperti layaknya seorang kesatria dikriyok para penjahat juga di ekspresikan kelima murist PSHT Pandawa.
    Pada malam penutupanya aksi dai cilik  Prahasta Bagus Ardana juga tidak kalah heboh. Meski agak malu karena tampil dihadapan para penonton, namun dia bisa membawakanya dengan penuh percaya diri.  Setalah itu guru-guru (relawan) RB.Pandawa  membagikan tas, buku pelajaran  serta  peralatan sekolah kepada  semua murid. Ucapan syukur dan terimakasih kepada para donatur yang selama ini telah banyak membantu lembaga pendidikan arternatif bagi puluhan siswa yang kurang mampu, seniman jalanan, agar dapat meraih cita-citanya disampaikan oleh Prabu Ali Airlangga selaku direktur RB.Pandawa.

Jumat, 29 Juni 2012

BerBuAh yuk




Musim Liburan telah datang,
pasti hati jadi senang
Senang karena dapat liburan istimewa bersama orang-orang special,  gembira juga jika waktu masuk sekolah tiba kita udah siap-siap memburu pernak-pernik kebutuhan sekolah. Berburu tas baru, seragam baru, buku baru, kendaraan baru. Pokoknya serba baru deh…..
Ups,,,, tunggu dulu!
Saat kita dengan royal merogoh kocek  untuk perangkat serba baru, kadang kita lupa ada mereka yang  gak seberuntung kita.  
Apa mereka juga hunting pernak-pernik serba baru untuk sekolah? atau jangan-jangan SPP bulan kemarin bahkan belum terbayar atau ijazahpun belum tertebuskan?  Sedih banget kan… :(
Nah, ga perlu terlalu lama ikut bersedih,
sekarang saatnya ikut beraksi membantu meringankan beban mereka yang papa. Rumah Belajar Pandawa kini mengenalkan program kerennya nih. Nama programnya adalah “BerBuAh: BERbagi BUku dan hadiAh”.  Program ini mengajak seluruh kawan-kawan Pandawa untuk ikut serta membantu  memenuhi kebutuhan sekolah. Ada dua cara nih untuk partisipasi program ini  :D
Cara pertama
Cara ini adalah melalui donasi tunai senilai 50.000 rupiah, donasi ini akan direalisasikan menjadi tas, buku dan alat tulis lainnya, untuk donasi  75.000 akan ditambah seragam sekolah, nah kalo yang  donasi 100.000, berarti telah menyumbang tabungan pendidikan.
Uang donasinya bisa dikirim ke nomer rekening berikut
Bank jatim : 0017204246 a/n Rumah Belajar Pandawa
Bank BTN: 00064-01-001188-1 a/n Rumah Belajar Pandawa
Bank Mini Syariah: 01.11.001362.01
Cara kedua
Nah,, buat yang uang jajannya pas-pasan, atau kurang sreg g donasi pake uang, kalian bisa kok donasi berupa barang. Bisa buku tulis, buku bacaan, boneka, permaninan atau apa saja yang berguna buat mereka.
Oh ya, kalo kalian punya buku yang udah jarang dibaca, seragam yang udah ga dipake atau apa saja yang barang bekas kalian. Boleh kok disumbangkan buat anak-anak Laskar Pandawa. Sayang kan kalo dianggurin, apalagi dibuang.
Eits,,, berapapun donasi anda atau apapun sumbagan anda, yang pasti kami akan memberi marchendese cantiQ tanda terima kasih karya anak-anak Laskar Rumah Belajar Pandawa. Sebagai kenang-kenangan bahwa telah menjadi bagian dari pengabdian kami.
Nah , kalo udah gini tunggu apalagi ?
Buruan ikutan program ini, n jika butuh info lebih lanjut silahkan klik FB: di facebook/rumah belajar pandawa. Atau bisa hubugi di nomer 085735727647 (kaka awan) 085852456350 (kaka ali)

Senin, 11 Juni 2012

Proses belajar mengajar RB PANDAWA





Kecerdasan Ganda yang Dimiliki Anak

MENINGKATKAN kecerdasan dan kreativitas jauh lebih efektif dilakukan pada masa kanak-kanak, bahkan sebelum masa sekolah (usia prasekolah). Banyak orang tua mendambakan anak yang cerdas. Namun tidak banyak yang tahu, cara paling efektif mendidik anak menjadi lebih cerdas.

Berdasarkan hasil sejumlah riset di bidang pendidikan, kedokteran, dan psikologi, ditemukan 9 rahasia kecerdasan anak, yang seyogyanya menjadi pedoman bagi orang tua dalam mendidik anak menjadi lebih cerdas. Apa saja 9 rahasia kecerdasan anak tersebut? Berikut ulasannya:

  1. Perubahan-perubahan dalam kemampuan mental paling besar terjadi pada masa otak mengalami pertumbuhan yang paling pesat, yaitu pada masa kanak-kanak. Pada umur 4 tahun, anak telah mencapai separuh dari kemampuan kecerdasannya dan pada umur 8 tahun ia mencapai 80%. Setelah umur 8 tahun, tanpa melihat bentuk pendidikan dan lingkungan yang diperoleh, kemampuan kecerdasannya hanya dapat diubah sebanyak 20%. Setelah dewasa, pertumbuhan otak makin menurun seiring dengan bertambahnya umur.

  2. Taraf kecerdasan anak tidak terbentuk dan terpola sejak lahir dan sangat dipengaruhi faktor lingkungan. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa permulaan kehidupannya. Anggapan bahwa Anak memiliki taraf kecerdasan yang sudah terbentuk dan memiliki tempo perkembangan yang tidak bisa diubah adalah salah.

  3. Rangsangan di masa kecil bisa mengubah ukuran dan fungsi kimiawi dari otak. Di sisi lain, ada suatu batas waktu dimana sel-sel otak tidak dapat digiatkan lagi dengan mudah. Terkait dengan hal ini, faktor keturunan menentukan batas tertinggi bagi taraf kecerdasan anak. Tetapi batas ini demikian tinggi sehingga para sarjana yakin tidak seorang manusia pun yang pernah mencapainya.

  4. Terdapat masa-masa peka pada kehidupan anak terhadap beberapa jenis pembelajaran. Masa peka ini merupakan tingkatan dalam perkembangan dimana keadaan otak yang sedang tumbuh memudahkan anak untuk melakukan beberapa jenis pembelajaran tertentu. Setelah masa peka ini lewat, akan sulit atau kadang-kadang tidak mungkin lagi untuk melakukan jenis pembelajaran tersebut.

  5. Kemampuan berbicara adalah hal yang sulit dan merupakan salah satu faktor penentu kecerdasan. Dan anak-anak berhasil melakukannya sebelum umur lima tahun. Terkait dengan hal ini, Anak-anak lebih mudah belajar bahasa kedua atau ketiga pada tahun-tahun pertama dari kehidupannya dibandingkan masa-masa selanjutnya. Ini adalah pengaruh sifat phisiologis yang terdapat pada otak.

  6. Cortex dari otak seorang anak secara kasar dapat dianalogikan sebagai komputer, yang harus diberi ‘program’ sebelum dapat bekerja secara efektif. Anak memberi program pada otaknya dengan jalan mengirimkan rangsangan-rangsangan sensorik yang berasal dari mata, telinga, hidung, mulut dan perabaan ke otak melalui saraf-saraf. Lebih banyak rangsangan sensorik yang merangsang otak, lebih besar pula kemampuan otak untuk berfungsi secara cerdas.

  7. Setiap anak memiliki dorongan untuk eksplorasi (menyelidiki), memeriksa, mencoba, mencari hal-hal baru, belajar menggunakan alat-alat inderanya, dan memuaskan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Dorongan itu sama kuatnya dengan rasa lapar, haus dan dorongan lainnya yang dapat disebut dorongan primer. Setiap kali anak terdorongan untuk melakukan sesuatu, maka ia akan belajar untuk melakukannya. Ia mencoba, mengulangi, meneliti dan berusaha untuk menguasai lingkungannya sebanyak mungkin terutama demi kegembiraannya yang dirasakannya dalam melakukan kegiatan itu.

  8. Belajar pada dasarnya bisa menyenangkan dan anak kecil akan belajar dengan sendirinya bila usaha-usaha mereka tidak diganggu oleh tekanan-tekanan, persaingan, penghargaan, hukuman ataupun rasa takut. Dalam hal ini suasana rumah dan cara mengasuh anak, sangat berpengaruh terhadap minat dan motivasi anak untuk belajar.

  9. Semakin banyak yang dilihat dan didengar oleh anak, semakin banyak pula yang ingin diketahuinya. Semakin beraneka ragam rangsangan-rangsangan lingkungan yang pernah dihadapinya, semakin besar pula kemampuannya untuk mengatasi atau menguasai rangsangan-rangsangan itu.

*disarikan dari berbagai sumber

Minggu, 29 April 2012

Refreshing


Lomba Puisi


Kegiatan Belajar Pencak Silat


Kontak


-Alamat : Rumah Belajar PANDAWA RT 01 RW 01 desa Lumumba Dalam kel. Ngagel Kcm. Wonokromo Surabaya
-Tlp/Sms : 085852456350
-Email : pandawa_ilmukawula@yahoo.com

Perpustakaan


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguHtZehQpzzALnsxuxQnqzad86u0Zezuk6Pg3xkVs487ts3FIsPWjgvXr5x_Ua8uCdSRPHlUySpiUcB10rIc0S7xNggLOHMtTMyVB07o_w2vLXEJghlgS1nC-OcBVs3CNRk4dKe78DHKnx/s320/pemanfaatan-perpustakaan-sekolah.jpg
kami dari Rumah Belajar pandawa, ingin mewujudkan impian murid-murid untuk mendirikan taman bacaan (perpustakan).
Bagi siapa saja yang mempunyai kepedulian silakan salurkan buku-buku yang kiranya bisa bermanfaat untuk mereka. informasi libih jelas tlp 085852456350 atau kirim ke alamat Rumah Belajar PANDAWA RT 01 RW 01 desa Lumumba Dalam kel. Ngagel Kcm. Wonokromo Surabaya

Minggu, 09 Oktober 2011

Strategi Menanamkan Nilai Agama dalam Pendidikan

Pergeseran posisi manusia sebagai bagian dari alam menjadi penguasa alam akhirnya membawa bencana. Banjir bandang dan tanah longsor menghancurkan beberapa desa dan kecamatan di Kabupaten Jember, menewaskan lebih dari 60 orang, meluluhlantakkan segala harta benda, serta menghancurkan perkebunan yang selama ini diyakini sebagai penyebab kerusakan alam karena adanya alih fungsi hutan. Awal Tahun 2006 ini bencana atau musibah yang menimpa kian bertambah besar dan merata. Dipastikan setiap kali pergantian musim selalu diiringi musibah baru.

Datangnya musim hujan disertai berbagai bencana. Antara lain banjir, tanah longsor, dan berbagai penyakit. Ribuan rumah di Jawa Timur tergenang di Blitar, Situbondo, Malang, Banyuwangi, Pasuruan, dan hampir diseluruh kabupaten di Jawa Timur. Wajah seperti inipun kemudian tampak di Jawa Barat, Nangroe Aceh Darussalam (NAD), NTB (Lombok Timur dan Sumbawa), NTT, dan berbagai daerah lain. Ribuan orang harus kehilangan rumah, harta benda, bahkan sanak saudara. Ribuan anak pun tidak bisa sekolah karena sekolah tergenang air, roboh akibat banjir, maupun buku-buku basah. Jutaan hektar lahan pertanian yang menjadi sumber pencaharian masyrakat rusak, panen terancam gagal dan ternak mati.

Perspektif agama

Dari realita di atas sangat wajar bila manusia selalu mendapat bencana, seperti banjir, tanah longsor, kebakaran, gunung meletus, kekeringan, dan lain-lain, mengingat manusia -yang katanya makhluk beragama-sama sekali tidak pernah menghargai, menghormati, apalagi mensyukuri lingkungan yang telah diberikan Tuhan. Dalam perspektif agama, musibah atau bencana di negeri ini merupakan warning dan atau cobaan yang diberikan Tuhan pada hamba-Nya yang berbuat salah, yang senantiasa melakukan kerusakan-kerusakan di bumi.

Al-Qur'an sebagai sumber moral manusia dengan tegas telah menjelaskan posisi manusia-ekologi. Allah SWT menasbihkan manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi (khalifatulah fil ardi) (Q.S. Albaqarah: 30) yang berkewajiban memakmurkan dan membudidayakannya (Q.S. Hud: 61), sekaligus melestarikan dan menjaga keseimbangan (equilibrium) lingkungan" (Q.S. Arrahman: 6-9). Agar peran mulia kekhalifahan bisa berfungsi optimal, dapat mencapai dimensi kualitatifnya yang tinggi, maka manusia (kita) niscaya dengan ikhlas pada saat yang bersamaan harus melibatkan dimensi kesediaan diri untuk menegakkan kebaktian/ibadah ('abdullah). Di antaranya dengan memperlakukan lingkungan dengan penuh tanggung jawab. Karena dalam pandangan Ilahi, alam memiliki hak yang sama dengan manusia (Q.S. Al-Hijr: 86).

Konsep ekologi modern menunjukkan ayat-ayat di atas adalah dasar dari proses regulasi alam bagi makhluk hidup. Terdapat pola hubungan kemanfaatan bagi hubungan timbal balik yaitu komponen biotic dan abiotik. Hubungan tanah (bumi), udara (langit), air tumbuhan dan segala yang hidup. Sangat jelas, sekali hak alam ini kita abaikan dan atau malah kita perlakukan dengan kebuasan tak terkendali demi memanjakan hasrat primitif, sudah menjadi sunatullah, pada ambang batas yang sudah tidak bisa ditolerir lagi alam pun akan melakukan "perlawanan".

Secara khusus dalam syariat Kristen terdapat pola religius relasi manusia dengan alam semesta. Gadium et Spes bicara secara jelas tentang hubungan manusia dengan alam, semua punya moral (Rm 8:21). Serta semuanya adalah milik manusia, tapi manusia milik Kristus dan Kristus adalah milik ALLAH (1 Kor 3:23. selanjutnya manusia dapat mengembangkan anugerah jasmani rohani, menakluikkan alam semesta untuk seluruh umat manuisa (Gaudium et spes). Kristen menganjurkan dalam hal ini bahwa pembangunan lingkungan harus bertujuan mencapai mutu hidup optimum bagi masyarakat.

Agama Hindu pun mengajarkan bahwa lingkungan memegang peranan sangat penting tubuh manusia. Getaran-getaran dan gaya tarik lingkungan untuk mnedapatkan hidup yang lebih nikmat. Konteks ini memberi petunjuk dan pedoman bahwa Tuhan pencipta alam semesta menyuruh untuk memanfaatkn lingkungan hidup dan kualitasnya. Dalam agama Buddha ajaran melestarikan berasal dari pola kedisiplinan yang diterapkan oleh 227 kedisiplinan buddhis dalam "227 patimokkha sikhapada". Secara praktis (Legowo E,1997), kebajikan pada "Dasa Paramitta" menjadi modal ketaatan umat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup yaitu dana parramita, sila paramitta, nkkhamma paramitta, panna paramitta, viriya paramitta, khanti paramitta, sacca paramitta, adithana paramitta, metta paramitta dan upekkha paramita

Internalisasi nilai

Dalam perkembangannya telah muncul berbagai gagasan menangani ketidakseimbangan lingkungan untuk perbaikan kualitas hidup yang ramah lingkungan. Pendidikan lingkungan menjadi salah satu alternative yang rasional dan diharapkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 1996 yang kemudian direvisi pada bulan Juni 2005. Harapan ini sangat relevan mengingat Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebagai bentuk aplikasi dari Undang-undang No. 20 tahun 2003 mempunyai orientasi yang lebih luas, dimana kompetensi bukan hanya ada dalam tatanan pengetahuan akan tetapi sebuah kompetensi harus tergambar dalam pola perilaku.

Jika dipandang dari segi lingkungan maka kompetensi yang dimiliki oleh siswa setidaknya merupakan upaya sadar seseorang yang dilakukan untuk menerima pengetahuan dan mengubah sikapnya tentang kearifan lingkungan menjadi lebih baik. Cara pandang agama-agama dan cara pandang kearifan local tentang lingkungan hidup akan menjadi pondasi utama dari penerapan kompetensi tersebut. Dengan kata lain nili-nilai agama akan menuntun pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang terepleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak tersebut.

Dua dari lima agenda membangun keadaban ekologis yang ditawarkan oleh Zainal Alyy Musthofa (Dumas, 20/01/06) dalam artikelnya yang berjudul "Menggagas Teologi Keadaban Ekologis" menarik untuk kita dicermati. Dua agenda tersebut adalah gerakan ecoreligism atau paham penyelarasan nilai agama untuk penyelesaian masalah lingkungan dan penggalakan gerakan pendidikan lingkungan di sekolah. Kedua alternative ini sangat wajar untuk dielaborasi mengingat agama adalah tuntunan hidup yang mutlak sementara pendidikan adalah wahana formal penanaman nilai secara dini.

Pendekatan seperti ini merupaskan sumber baru dari sebuah khasanah lama pendidikan, tradisi kearifan local dan keagamaan Indonesia. Oleh karena itu upaya menggali pendekatan ini patut mendapat perhatian dengan kata lain bahwa internalisasi nilai-nilai keagamaan sangat mutlak diarusutamakan. Titik cerah kearah tersebut sangat diharapkan apalagi dunia konservasi memerlukan ahli multidisiplin untuk menyakinkan masyarakat bahwa melindungi alam bukan sekedar memberikan proteksi, tapi ada unsur ilmu pengetahuan dan relegius yang bisa digali didalamnya dan ada pula unsur mamfaat yang bisa diambil untuk kesejahteraan manusia baik secara umum maupun dalam bentuk ibadah.

* Husamah Redaksi Pelaksana Majalah "Spora"
Jurusan Pendidikan Biologi-FKIP
dan Peneliti lingkungan pada Tim Ekspedisi Biokonservasi (TEB) Universitas Muhammadiyah Malang

Alamat:
Wisma Galapagos
Jl. Tirto Utomo IIIB/2B Malang 65151
HP:085649161485 Telp.(0341) 531298

Jumat, 23 September 2011

CERITA ANAK ISLAMI (ANWAR DAN SANG BURUNG KECIL )

Ketika Anwar sedang berjalan pulang dari sekolah, hujan mulai turun sangat lebat. Setelah makan malam, sebelum memulai pekerjaan rumahnya, dia bertanya kepada ibunya apakah dia boleh melihat hujan dulu sebentar. Ibu bilang bahwa Anwar boleh melihatnya sebentar saja. Anwar melihat ke jendela dan mulai memperhatikan hujan yang turun di luar. Ada orang berjalan di jalanan dengan memakai payung, dan yang tidak mempunyai payung merapatkan diri mereka ke bangunan. Tak lama kemudian, gumpalan hujan mulai terbentuk di mana-mana. Mobil yang lewat memuncratkan air ke sisi jalan dan orang berlarian dari pemberhentian agar tidak kebasahan. Anwar berpikir betapa menyenangkannya berada di dalam rumah dan dia harus lebih bersyukur kepada Allah Yang telah memberinya makanan dan rumah yang hangat untuk tinggal. Pada saat itu juga, seekor burung jelatik hinggap di bingkai jendela. Anwar berpikir bahwa burung malang itu pasti sedang mencari tempat berteduh dari hujan, dan dia segera membuka jendela.
“Hai, namaku Anwar,” katanya. “Kamu boleh masuk kalau kamu mau.”
“Terima kasih, Anwar,” kata sang burung kecil. “Aku ingin menunggu di dalam sampai hujan reda.”
“Kamu pasti kedinginan di luar sana,” Anwar ikut merasakan “Aku belum pernah melihat burung sedekat ini sebelumnya. Lihat betapa tipisnya kakimu! Bagaimana kakimu dapat menahan badanmu hingga tegak?”
“Kamu benar, Anwar,” sang jelatik setuju. “Kami burung memiliki kaki yang tipis dibanding tubuh kami. Namun, biarpun demikian, kaki-kaki tersebut mampu menahan tubuh kami dengan sangat mudah. Ada banyak otot, pembuluh darah dan syaraf didalamnya. Bila kaki kami lebih tipis atau lebih tebal lagi, akan sulit bagi kami untuk terbang.”
“Terbang pasti rasanya sangat menakjubkan,” pikir Anwar. “sayapmu terlalu tipis, juga, namun kalian masih dapat terbang dengannya. Jadi, bagaimana kamu dapat terbang sedemikian jauhnya tanpa merasa lelah?”
“Saat pertama kali kami terbang, kami menggunakan banyak sekali tenaga karena kami harus mendukung berat badan kami pada sayap kami yang tipis,” mulai sang jelatik. “Namun begitu kami di udara, kami menjadi santai dengan mebiarkan tubuh kami terbawa angin. Jadi, karena kami menghabiskan lebih sedikit tenaga dengan cara ini, kami tidak menjadi lelah. Saat angin berhenti bertiup, kami mulai mengepakkan sayap kami lagi. Karena kelebihan yang telah Allah ciptakan untuk kami, kami dapat terbang dalam jarak yang sangat jauh.”
Anwar kemudian bertanya, “Bagaimana kamu dapat melihat sekelilingmu saat sedang terbang?”
Sang jelatik menjelaskan: “Organ indera terbaik kami adalah mata kami. Selain memberikan kemampuan untuk terbang, Allah juga memberikan kami indera penglihatan yang sangat hebat. Jika kami tidak memiliki indera penglihatan bersamaan dengan kemampuan ajaib kami untuk bisa terbang, hal itu sangatlah berbahaya bagi kami. Kami dapat melihat benda yang sangat jauh dengan lebih jelas daripada manusia, dan kami memiliki jangkauan penglihatan yang luas. jadi begitu kami melihat bahaya di depan, kami dapat menyesuaikan arah dan kecepatan terbang kami. Kami tidak dapat memutar mata kami seperti manusia karena mata kami diletakkan pada pencengkramnya. namun kami dapat menggerakkan kepala kami berputar dengan cepat untuk memperluas wilayah penglihatan kami.”
Anwar mengerti: “Jadi, itulah mengapa burung selalu menggerakkan kepala mereka: untuk melihat ke sekeliling mereka. Apakah semua mata burung seperti itu?”
“Burung hantu dan burung-burung malam hari lainnya memiliki mata yang sangat lebar,” sang jelatik melanjutkan. “Berkat sel khusus dalam mata mereka, mereka dapat melihat dalam keremangan. Karenanya, burung hantu dapat melihat dengan sangat baik untuk berburu di malam hari. Ada juga jenis burung yang disebut burung air; Allah menciptakan mereka agar mereka dapt melihat dengan sangat baik di dalam air. Mereka mencelupkan kepala mereka ke dalam air dan menangkap serangga atau ikan. Allah menciptakan kemampuan ini dalam burung-burung ini agar mereka dapat melihat dengan jelas di dalam air dan menangkap mangsa mereka.”
“Tidak semua paruh burung sama, nampaknya. Mengapa demikian?” Anwar bertanya.
“Allah menciptakan berbagai jenis paruh yang berbeda untuk burung yang berbeda untuk melakukan pekerjaan yang berbeda,” demikian jawabannya. “Paruh kamu sesuai dengan sempurna terhadap lingkungan di mana kami tinggal. Ulat dan cacing sangat lezat bagi kami para burung pemangsa serangga. dengan paruh kami yang tipis dan tajam, kami dapat dengan mudah mengambil ulat dan cacing dari bawah daun pohon. Burung pemakan ikan biasanya memiliki paruh yang panjang dengan bentuk seperti sendok pada ujungnya untuk menangkap ikan dengan mudah. Dan burung yang makan dari tumbuhan memiliki paruh yang membuat mereka dapat makan dengan mudah dari jenis tumbuhan yang mereka sukai. Allah telah menyediakan dengan sempurna untuk setiap makhluk di Bumi dengan memberikannya kemampuan yang dia butuhkan.”
Anwar punya pertanyaan lain untuk sang jelatik: “Kamu tidak mempunyai telinga seperti yang aku punya, namun kamu masih dapat mendengarkan aku dengan sangat baik. Bagaimana bisa?”
“Indera pendengaran sangatlah penting bagi kami para burung. Kami menggunakannya untuk berburu dan saling memperingatkan akan adanya kemungkinan bahaya sehingga kami dapat melindungi diri kami. Sebagian burung memiliki gendang pendengaran yang membuat mereka mampu mendengar suara yang paling kecil. Pendengaran burung hantu sangat peka akan suara. Burung Hantu dapat mendengar tingkat suara yang tidak dapat didengar manusia,” sang jelatik memberitahukannya.
Anwar kemudian bertanya: “Kalian para burung berkicau dengan sangat merdu. Aku senang mendengarkan kalian. Untuk apa kalian menggunakan suara kalian?”
Sang burung mengangguk: “Sebagian dari kami memiliki kicauan yang berbeda untuk mengusir musuh kami. Terkadang kami membuat sarang kami di dalam lubang pada batang pohon, dan ketika musuh mencoba masuk, kami mendesis layaknya ular. Penyusup tersebut berpikir bahwa ada ular di dalam sarang itu, sehingga kami dapat melindungi sarang kami.”
“Apa lagi yang kalian lakukan untuk melindungi sarang kalian dari musuh?” Anwar ingin tahu.
“Kami membangun banyak sarang tipuan untuk menyesatkan musuh kami,” kata sang burung. “Dengan cara ini kami membuat para penyusup tersesat dan melindungi sarang dan telur kami yang telah kami sembunyikan di daerah tersebut. Untuk melindungi sarang kami dari ular berbisa, kami menutupi jalan masuk dan membuatnya sangat berliku-liku. Kewaspadaan lainnya adalah membangun sarang pada pohon yang cabangnya berduri.”
Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.
(QS. an-Nahl, 16:79)
“Bagaimanakah sebagian burung dapat berenang dalam air? dan mengapa tidak semua burung dapat berenang?” Anwar bertanya pada temannya.
Sang jelatik menjawab: “Allah telah menciptakan sebagian dari kami dengan kemampuan untuk berenang. Dia telah memberikan mereka kaki berselaput jala agar mereka mampu berenang saat masuk ke dalam air. Sebagian lain dari kami memiliki jari tipis tanpa jala. jadi, selain burung air, burung tak dapat berenang.”
“Sama seperti sepatu renang!” Anwar berseru. “Saat aku berenang dengan memakai sepatu renang, aku dapat berenang dengan jauh lebih cepat.”
“Ada beberapa burung yang telah memiliki sepatu renang ini sejak lahir,” kata sang burung.
Saat Anwar dan sang burung sedang berbincang-bincang, ibunya menyuruh Anwar untuk masuk ke kamarnya dan mengerjakan pekerjaan rumahnya. Pada saat bersamaan, hujan pun telah reda.
Anwar berkata pada temannya: “Sekarang aku harus masuk ke kamarku dan mengerjakan pekerjaan rumahku. Besok aku akan bercerita kepada teman-temanku tentang kemampuan istimewamu, dan bagaimana Allah telah menciptakan kamu dan makhluk lainnya melalui karya seni kreatif yang sedemikian sempurna.”
“Hujan telah reda, jadi aku dapat kembali ke sarangku,” jawab sang jelatik. “Terima kasih telah membawa aku masuk, Anwar. Saat kau menceritakan temanmu tentang kami, Bisakah kamu sampaikan juga kepada mereka untuk peduli kepada kami dan jangan melemparkan batu kepada kami atau kepada makhluk lainnya?”
“Ya, tentu saja aku akan menyampaikannya kepada mereka,” Anwar setuju. “Semoga Allah melindungimu.” Anwar membuka jendela dan sang burung segera terbang, melayang menembus udara. Anwar memikirkan kesempurnaan dalam ciptaan Allah dan duduk mengerjakan pekerjaan rumahnya.



Sumber: Cerita Untuk Anak Cerdas