Jumlah pengunjung

Senyum Indah Mereka Adalah Anugerah

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 2 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mengabdi Pada Masyarakat

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 4 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mari Bergabung Bersama Kami

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Selamat Datang di BLOG RUMAH BELAJAR PANDAWA
Tampilkan postingan dengan label Perpustakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perpustakaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Peresmian Perpustakan Mandiri


Atas dukungan dari semua pihak, kami dari RB Pandawa akan meresmikan Perputtakan Mandiri pada :
Hari : Selasa
Tanggal : 2 April 2013
Pukul : 16.00 Wib
Temapat Balai RT1 kampung, lumumba dalam gang buntu RT 1 RW 1 Ngagel Wonokromo Surabaya

Semoga apa yang kami baktikan untuk generasi bangsa sesuai dengan sepirit moto kami. 

( Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami )

Minggu, 10 Februari 2013

“TBM Itu Harus di Pindah, Simiskin selalu Dimarjinalkan”

Add caption
“Dari hasil evaluasi, buku telah dikalahkan media elektronik. Hasil survei wilayah Jawa Timur, kurang dari 50 %, atau hanya ada 20 % minat membaca.” Kalimat itu tegas keluar dari mulut Sugeng Nuharianto, pengawas dan pembina petugas TBM (taman baca masyarakat, red.) wilayah Surabaya.
Sugeng menuturkan jika pemerintah tengah menggalakkan pendirian seribu TBM hingga tahun 2015 nanti. “Hal itu ada di peraturan daerah (perda) No. 5 tahun 2009. Sejauh ini memang belum ada penegasan dari pemerintah, tapi rencananya tahun 2012 nanti akan ditegakkan,” tambahnya.
Rumah belajar Pandawa yang bertempat di tepi rel kereta api, kecamatan Wonokromo, juga telah satu minggu ini mendirikan perpustakaan mandiri. “Peraturan pemerintah menyebutkan dalam satu RW itu hanya ada satu TBM, sedangkan RW kami ada sepuluh RT, nggak mungkin anak-anak sini mau baca ke RT 10, kan jauh,” ujar M. Ali Shodikin, pendiri Rumah belajar Pandawa, ketika ditanya alasan mendirikan perpustakaan mandiri.
Tujuan didirikannya rumah belajar Pandawa sendiri adalah pengabdian Ali dan keempat temannya, mahasiswa IAIN Sunan Ampel, kepada masyarakat dengan mengamalkan ilmu, pembelajaran anak-anak kurang mampu, dan juga memodali mereka dengan keterampilan. Ali dan kawan kawan juga telah melakukan survei di beberapa lokasi di kota Surabaya, sebelum memutuskan lokasi tetap rumah belajar ini.
“ Menurut kami desa ini pantas untuk mendapatkannya. Lokasi yang minus karena lingkungan warganya yang bekerja sebagai PSK (pekerja seks komersial, red.), pemulung, dan pencuri. Anak kecilpun mengamen, banyak anak yatim, juga fakir miskin,” papar mahasiswa jurusan Hukum Islam tersebut.
Terkait perpustakaan mandiri yang telah didirikan, karena dalam satu RW hanya ada satu TBM, Sugeng pun menanggapi, “Sebenarnya kami tidak membatasi TBM itu harus di balai RW,  namun karena yang mengajukan adalah RW dan rekomendasi RW,  masalah penempatan itu menjadi kekuasaan RW.”
Pria yang pernah menjabat sebagai lurah ini juga menegaskan jika ia menghendaki TBM itu ada di lokasi rumah belajar Pandawa, karena lebih membutuhkan. “Dari hasil evaluasi kami, jika diletakkan di balai RW yang ada di RT 10 itu targetnya kurang, namun karena mas Ali bergeming dengan pak RWnya yang ‘kaku’, saya sendiri juga nggak bisa,” imbuhnya.
Hal berbeda dilontarkan Sulistyawati, istri ketua RW 1 kelurahan Ngagel, kecamatan Wonokromo. “Awalnya memang di balai RW, namun sekarang setiap bulan bergantian di setiap RT, dibalai RT,” ungkapnya ketika dikonfirmasi perihal lokasi TBM ini. Ia juga memaparkan jika pengunjung TBM per harinya jauh lebih banyak di setiap balai RT, daripada dipusatkan dibalai RW.
Rumah belajar Pandawa sendiri telah memiliki empat puluh orang murid, yang juga pengunjung tetap perpustakaan mandirinya. Namun diantara banyak anak-anak yang mengaku senang menimba ilmu disana.
Aklhirnya pada akhir tahun 2012 perpustakan kota Surabaya memberikan solusi agar dilokasi Rumah belajar Pandawa yang bertempat di tepi rel kereta api,  diberikan fasilias seperti hanya TBM ditempat yang lain. Namun sangat disayangkan sekarang adanya kebijakan setiap TBM yang bertempat di tepi rel kereta api harus dipindah, dikarenakan akan adanya penggusuran. Padahal disisih lain minat baca anak-anak sudah banyak.
Untuk itu Rumah belajar Pandawa, setiap akhir pakan mengajak murid untuk berwisata pendidikan berkunjung ke perpustakaan milik Bank Indonesia yang terbuka untuk umum ini menempati Gedung Mayangkara Jalan Mayangkara 6 Surabaya.

Sabtu, 17 Maret 2012

Character Education



Proses Pembentukan Karakter Pada Anak

Karakter tidak dapat dibentuk dengan cara mudah dan murah. Dengan mengalami ujian dan penderitaan jiwa karakter dikuatkan, visi dijernihkan, dan sukses diraih ~ Helen Keller

Suatu hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?
Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.

Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandulkan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.
Ada satu anekdot yang sering saya sampaikan pada rekan saya, ataupun peserta seminar. Enak mana makan mie instant dengan mie goreng seafood? Umumnya mereka yang suka mie pasti tahu jika mie goreng seafood jauh lebih enak dari mie goreng instant yang hanya bisa dimasak tidak kurang dari 3 menit. Apa yang membedakan enak atau tidaknya dari masakan mie tersebut? Prosesnya!

Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru (jika memprioritaskan hal ini) untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas (ucapan dan tindakan sama) terpancar di diri kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter.
Pada awal pembentukan karakter banyak orangtua dan guru bertanya tentang bagaimana mendisiplinkan anak. Ada 6 proses disiplin yang kami bagikan melalui ebook gratis 6 Cara Mendisiplinkan Anak, bagi anda yang belum memiliki ebook ini silahkan di download gratis disini.
Nah, apakah disiplin saja cukup? Bagaimana dengan proses membentuk karakter yang lain? Pada 1 Desember 2011 kemarin, kami menerbitkan ebook 7 Hari Membentuk Karakter Anak. Di ebook ini akan diungkap hal-hal yang sangat jarang diketahui oleh para orangtua dan guru, tentang bagaimana mendidik anak agar tumbuh bahagia dan berkarakter. Disamping itu bukan hanya anak tetapi ebook ini juga memberikan pengarahan bagi orangtua dan guru agar sadar membentuk karakter mereka secara mandiri.

Kembali ke pembentukan karakter, ingat segala sesuatu butuh proses. Mau jadi jelek pun butuh proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin lho. Tidak percaya? Dia disiplin untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap.
Ada satu kunci untuk menanamkan kebiasaan, ada hukumnya dan hukum itu bernama hukum 21 hari, dalam pembentukan karakter erat kaitannya dengan menciptakan kebiasaan yang baru yang positif. Dan kebiasaan akan tertanam kuat dalam pikiran manusia setelah diulang setiap hari selama 21 hari. Misalnya Anda biasakan anak sehabis bangun tidur untuk membersihkan tempat tidurnya, mungkin Anda akan selalu mengingatkan dan mengawasi dengan kasih sayang (wajib, dengan kasih sayang) selama 21 hari. Tetapi setelah lewat 21 hari maka kebiasaan itu akan terbentuk dengan otomatis. Nah, kini kebiasaan positif apa yang hendak anda tanamkan kepada anak, pasangan dan diri Anda? Anda sudah tahu caranya dan tinggal melakukan saja. Sukses dalam karakter yang terus diperbarui.
http://www.pendidikankarakter.com/proses-pembentukan-karakter-pada-anak

Kamis, 01 Maret 2012

This determination is not just rhetoric

Tidak banyak yang tahu jika Rumah Belajar Pandawa bermula dari imajinasi lima pemuda tentang bagaimana berperan dalam mendidik generasi bangsa. Padahal saat itu mereka masih berstatus sebagai mahasiswa yang disibukan oleh beragam tugas kuliah dan organisasi.
Saat itu pula pandawa disepakati sebagai nama rumah belajar yang kini di bina oleh Prof. Dr. H. Nur Syam Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Fatmah Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhamadiyah Surabaya, Siti Rumilah, M.Pd Dosen Bahasa dan Sastra alumnus UNESA, K. H. Sam'un M.Ag dan Dr. Abd. Halim M.Ag dari Lembaga Pengembangan Dan Penelitian Masyarakat .
 Selain terinspirasi dari tokoh pewayangan yang terdiri dari lima kastria, Pandawa juga dimaksudkan sebagai akronim dari “Papan Pendidikan Kawula”. Maknanya adalah sebagai wadah dimana terjadi proses memberi dan menerima ilmu bagi seluruh masyarakat.
Tahap untuk memilih subyek dan lokasi awal bagi peserta pendidikan bukan suatu hal yang mudah. Tersebarnya kantong-kantong kemiskian pada daerah padat penduduk, di wilayah perkotaan. Membuat Pandawa menetapkan skala proritas untuk konsentrasi awal.
Maka daerah kumuh dengan keterbelakangan ekonomi, sosial dan moral menjadi tujuan utama. Sehingga di pilihlah kampung Lumumba Dalam RT 01 RW 01 Gang Buntu Kelurahan Ngagel Kecamatan Wonokromo Surabaya, sebagai lokasi babad awal menancapkan obor pendidikan.
Kini Rumah Belajar Pandawa yang merupakan lembaga non profit  yang dipimpin Prabu Ali Airlangga SHI dan di wakili Awan Swarga SEI, telah bergeliyat dengan belasan relawan pengajar dan puluhan peserta didik. Mereka rela bertahan di lokasi pemukiman padat penduduk dengan  kondisi sosialnya minus, karena merupakan tempat prostitusi illegal, pusat pemulung dan pengamen jalanan.
Alhasil, berbagai program berupa Taman Pendidikan Rohani, Bimbingan Belajar Terpadu, Beladiri, Olahraga dan Pendidikan Seni telah berjalan sukses. Bahkan selain peningkatan prestasi akademik, tiga anak didik Pandawa berhasil memborong prestasi sebagai juara Deklamasi Puisi Se-Jawa Timur pada Hari Anak Nasional 2011 lalu. Hal itu setidaknya mempu menjadi penyemangat dalam upaya perbaikan karakter dan moral demi memutus mata rantai kesakitan mental.

Jumat, 30 Desember 2011

BAKTI GURU UNTUK KEBERSIHAN HATI DAN LINGKUNGAN


Jarang sekali yang tahu kapan hari guru nasional tiba. Karena memang peringatan hari guru tidak akan dirayakan semeriah perayaan hari kemerdekaan atau sepopuler hari pendidikan. Juga tidak akan diisi aksi demonstrasi besar layaknya hari buruh.
   Hari guru jatuh pada tanggal 25 november, hari tersebut juga disebut sebagai hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Dan dalam rangka memperingati  hari guru, pada 26 desember 2011 rumah belajar pandawa mengadakan sebuah acara yang bertajuk membangun idealisme pendidikan dalam menyikapi perkembangan zaman. Bertempat di taman pandawa di samping jembatan kali jagir (bosem wonorejo), kelurahan ngagel kecamatan wonokromo.
Bakti  guru
    Acara hari guru yang diadakan oleh rumah belajar pandawa terdiri dari berbagai kegiatan. Diantaranya adalah dongeng tauladan,lomba bersih taman, penulisan prasasti cita-cita anak negeri dan pembagian hadiah bakti guru.
Menurut direktur rumah belajar pandawa, prabu ali airlangga , acara ini termotifasi oleh mangkraknya taman yang minim kegiatan. Sehingga taman kelihatan mati dan seolah tidak difungsikan.
Sementara acara peringatan hari guru sendiri dipilih sebagai perwujudan apresiasi untuk guru yang selama ini mengajar  para relawan pengajar pandawa yang kini mengajar anak-anak miskin kota, pengamen dan anak jalanan lainnya.
“acara ini membuat saya menyadari jasa guru yang telah menjadikan saya seperti ini” ujar vina, salah satu pengajar pandawa yang memandegani acara bakti guru, bahkan vina sendiri kuliah di fakultas keguruan.
Disinggung mengenai runtutan acara, sekertaris direktur rumah belajar pandawa, awan swarga menjelaskan bahwa rangkaian acara ini sengaja dipilih karena syarat nilai. Sebab acara ini bukan sekedar harus meriah semata. Tapi harus memberi kesan moral yang berkelanjutan. Sehingga dapat bermanfaat untuk kini dan selanjutnya.
“acara pertama adalah dongen tauladan, dongeng ini berisi kisah tauladan yang memotifasi anak-anak untuk meneladani kisah dalam dongeng. Kebetulan dongeng bercerita tentang kebersihan hati dan keberisahan lingkungan.” Terang awan swarga yang sebelumnya memberi dongeng untuk anak-anak.
“acara selanjutnya adalah membersihkan taman, ini dalam rangka menjaga kebersihan taman sebagai bentuk kepedulian lingkungan, apalagi taman ini (taman kali jagir red) termasuk taman yang kurang terawat”  tambah lelaki yang masih duduk dibangku kuliah tersebut dengan senyum khasnya.
Memang jika dilihat sepintas, taman tersebut kurang terawat, bahkan cenderung menjadi peristirahatan para gelandangan di teriknya matahari siang. Sampai ada juga yang menjajidikannya sebagai tempat tinggal sekaligus tempat mangkal para pramuria tua.
Prasasti Cita-Cita
      Setiap anak indonesia sudah barang tentu memiliki sebuah pengandaian tentang masa depan, atau yang sering disebut sebagai cita-cita.
Cita-cita merupakan sebuah motivasi bagi anak untuk tetap giat belajar. Karena menurut banyak orang, cita-cita dapat tercapai jika kita pandai dan cerdas. Dan untuk pandai dan cerdas pastinya seorang anak harus giat belajar.
      Namun sebagian orang tua bahkan lingkungan cenderung mengabaikan potensi anak dalam mewujudkan cita-citanya. Bahakan cenderung digembosi oleh lingkungan. Misalnya cita-cita yang diungkapkan oleh anak akhirnya menjadi bahan ejeken teman-temannya. Atau bahan tertawaan lainnya yang membuat sang anak menjadi kurang percaya diri.
     Hal semacam inilah yang terjadi pada anak-anak miskin kota, anak jalanan dan anak lain. Kondisi dan lingkungan seolah mengharamkan mereka untuk bercita-cita.
Cita-cita Anak dari golongan yang terbuang ini cenderung diremehkan oleh golongan lain. Bahkan juga dianggap acuh oleh golongan mereka sendiri.
Hal ini karena memang keadaan sepertinya tidak memungkinkan mereka untuk bercita-cita. Misalnya mereka menganggap mustahil jika seorang anak ingin jadi guru, tentara atau polisi. Seolah cita-cita semacam itu terlampau mewah untuk mereka.
     Tapi bagi pengajar dirumah belajar pandawa, MH Adien menyatakan bahwa bercita-cita adalah hak asazi tiap  anak yang tidak boleh dilarang dan dibatasi. “semestinya mereka tidak digembosi, melainkan harus dimotifasi” tuturnya kepada Pandawa Kalimasada.
“maka dari itu kami (rumah belajar pandawa) memfasilitasi anak bangsa untuk mengabadikan cita-citanya melalui tulisan tangan, apa cita-cita mereka pada selembar kain yang sengaja kami pajang” tambahnya saat acara pembubuhan prasasti cita-cita oleh anak-anak berlangsung.
Seni dan Kesadaran Moral
Akhirnya acara ditutup oleh pentas seni. Tapi sebelum pentas seni, para relawan pengajar pandawa membagi-bagikan hadiah untuk anak bangsa.
“hadiah ini kami berikan sebagai dorongan agar mereka lebih giat belajar dan berusaha lagi” jelas habibi MF yang merupakan pengajar tetap di rumah belajar pandawa. Mahasiswa semester tujuh ini juga menambahkan bahwa hadiah juga diberikan untuk anak-anak yang berhasil mengumpulkan sampah plastik yang sebelumnya berserakan ditaman.
      Menurutnya hal ini dapat menggugah kesadaran mereka akan pentingnya kebersihan lingkungan. Karena kebersihan adalah seni hidup yang indah dan sehat.
Diakhir acara salah satu anak didik rumah belajar pandawa yang telah sukses menyabet juara pertama lomba baca puisi sejawa timur di hari anak nasional kemarin, danang membacakan puisi “aku” dengan iringan musik dari kawan teater Q. Teater Q merupakan unit kegiatan mahasiswa bidang teater yang tidak diragukan lagi kiprahnya diseni pertunjukan teater maupun musik.
Puisi “aku” karya khairil anwar sengaja menjadi puisi yang diharapkan membuat anak bangsa bersemangat menjadi aku yang dapat mewujudkan cita-citanya. Jadi apapun kata orang tentang cita-cita mereka, mereka tetap akan berusaha dan menjadi diri sendiri untuk mewujudkan cita-cita itu.
Guru yang Menjadi Murid
     Setelah acar usai, sundari. Pengajar relawan yang khusus mengajar anak usia dini merasa bahagia bisa bergabung dirumah pandawa sekaligus menjadi bagian dari kesuksesan acara hari guru pada hari itu.
“aku seneng banget, menjadi guru dilembaga ini membuatku memperoleh banyak pelajaran berharga, sehingga saya bukan sekedar guru, melainkan menjadi murida dari pengalaman yang saya dapat dilingkungan ini”. Tuturnya setelah acara penutupan diakhiri dengan do’a.
“dan acara ini di adakan bukan sebagi perayaannya guru-guru pandawa, mealinkan refleksi kami terhadap guru-guru kami dahulu yang membuat kami kini menjadi guru disini” tambah khotijah, rekan sundari dalam mengajar anak usia dini, yang sekaligus teman satu kelas sundari di kampus.
Akhirnya acara ini berakhir dengan semangat menatap masa depan anak-nak bangsa yang kiranya akan memeberi kontribusi terhadap kejayaan indonesia di masa mendatang. Karena kepedulian guru menjadi semacam  suplelen para peserta didiknya yang berkualitas guna mewujudkan bangsa berkualiatas.
Dirgahayu guru indonesia

NOVEL ”LOVE IN PESANTREN”

    Pendidikan bukanlah kata yang asing di telinga masyarakat awam sekalipun. Karena seiring dengan laju perkembangan zaman, masyarakat Indonesia semakin tersadarkan tentang pentingnya pendidikan. Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali, mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka. Di dalam GBHN tahun 1973 disebutkan bahwa ”Pendidikan hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup”. Ada beberapa pendapat lain mengenai definisi pendidikan.
    Dictionary of Education menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses di mana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum.
    John Dewey: Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia karena pendidikan merupakan proses pengalaman. Setiap manusia menempuh kehidupan baik fisik maupun rohani. Karena kehidupan adalah pertumbuhan, maka pendidikan merupakan proses yang membantu pertumbuhan batin tanpa dibatasi usia.
    Ki Hajar Dewantara: Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak untuk memajukan kehidupan anak didik selaras dengan dunianya. Dalam pendidikan diberikan tuntunan oleh pendidik kepada pertumbuhan anak didik untuk memajukan kehidupannya. Maksud pendidikan ialah menuntun segala kekuatan kodrati anak didik menjadi manusia dan anggota masyarakat yang mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
    Dari sini, kita bisa melihat bahwasanya pendidikan dimaksudkan untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki anak didik agar bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri, masyarakat dan negara. Pelaksanaan pendidikan pun tidak serta merta berjalan apa adanya. Karena pendidikan merupakan kebutuhan, maka perlu ada strategi-strategi khusus, perencanaan yang matang, dan pelaksanaan yang profesional. Dalam pendidikan sendiri terdapat tujuh komponen yang inheren yakni: tujuan, kurikulum, metode, guru, murid, lingkungan, dan evaluasi.
Secara eksplisit, tertuang dalam UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 BAB II (tentang dasar, fungsi dan tujuan) Pasal 3 yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan kita adalah yang tersebut di bawah ini:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis secara bertanggung jawab.
  
    Dari perumusan tujuan di atas, semakin menegaskan bahwa pendidikan merupakan sarana yang mutlak diperlukan untuk mencapai kesejahteraan dan kemuliaan hidup.Dan seiring dengan laju perkembangan zaman, banyak kita lihat berbagai lembaga pendidikan mulai tumbuh dan berkembang. Baik yang mengusung semangat nasionalis, agamis maupun yang mengintegralkan keduanya, seperti munculnya SMP Islam, SMA Katholik dan sebagainya. Salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam yang berkembang pesat di Indonesia adalah pondok pesantren.
Pesantren, merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pendidikan di pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikan lainnya yang sejenis. Para peserta didik di pesantren disebut dengan santri dan mereka menetap di suatu tempat yang disebut pondok. Ditinjau dari segi historisnya, pondok pesantren adalah bentuk lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia. Pondok pesantren sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sejak Islam masuk ke Indonesia terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan pada umumnya. Sebuah lembaga yang bernama pondok pesantren adalah suatu komunitas tersendiri, di dalamnya hidup bersama-sama sejumlah orang yang dengan komitmen hati dan keikhlasan mengikat diri dengan kiai, tuan guru, buya, ajengan, abu atau nama lainnya, untuk hidup bersama dengan standar moral tertentu, membentuk kultur atau budaya tersendiri.
Nurcholish Madjid menyatakan bahwa dalam pondok pesantren haruslah ada lima elemen pokok, yakni; kyai, santri, masjid, pondok, dan pengajaran kitab-kitab klasik. Kelima elemen tersebut merupakan ciri khusus yang dimiliki pesantren dan membedakannya dengan pendidikan pada umumnya. Jumlah Pondok pesantren yang terdata oleh Education Management Information System (EMIS) Departemen Agama, tahun 2000/ 2001 sebanyak 11.312 dengan santri sebanyak 2.737.805.
       Imam Banawi menyatakan bahwa keberadaan seorang kyai dalam lingkungan pondok pesantren laksana jantung kehidupan bagi manusia. Intensitas kyai memperlihatkan peran yang otoriter disebabkan kyai-lah perintis, pendiri, pengelola, pengasuh, pemimpin, dan bahkan pemilik tunggal pondok pesantren. Oleh sebab ketokohan di atas, banyak pondok pesantren yang kehilangan kharisma dan aura, bahkan bubar lantaran ditinggal wafat sang kyai.
Namun, seiring dengan semakin bertambahnya jumlah santri dalam sebuah pesantren, kyai tidak bisa berdiri sendiri untuk mengayomi seluruh santri. Oleh karena itu, kyai banyak dibantu oleh para guru (ustadz dan ustadzah) dalam menggerakkan roda pendidikan di tubuh pesantren. Dalam skripsi ini, penekanan lembaga pendidikan yang dimaksud adalah guru dan murid yang terlibat dalam pendidikan sekolah, dimana sekolah itu sendiri menjadi otoritas pesantren. Sehingga semua kebijakan, baik terkait anggaran, mata pelajaran, bahkan seragam dan lain-lain ditentukan oleh kebijakan pesantren sebagai pengayomnya.
Posisi guru di lingkungan pesantren adalah sebagai sosok yang digugu lan ditiru. Hal ini selama berabad-abad menjadi satu paradigma yang mengakar di kalangan santri selaku murid.  Pengejawantahan kitab ta’limul muta’allim yang sporadis membuat pondok pesantren menanamkan nilai-nilai sakti semisal; murid harus sam’an wa to’atan (mendengarkan dan taat), sendhiko dhawuh dengan satu iming-iming klasik, apalagi kalau bukan barokah. Adanya doktrin-doktrin inilah yang seringkali menjadikan murid mandek, stagnan dan tidak kritis. Mereka dituntut untuk menerima segala pengetahuan yang dicekokkan pada mereka sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Sebagai contoh, guru kurang memberikan stimulus bagi murid di sekolah dalam lingkungan pesantren untuk bersikap kritis, stimulasi yang diberikan seringkali hanya merupakan pemanis bibir agar seolah-olah memberikan ruang kritis bagi murid. Namun jika seorang murid memiliki pandangan berbeda dengan sang guru, guru akan segera menilai bahwa si murid-lah yang salah. Dalam hal mengajukan pertanyaan kritis, guru pun kurang terbuka bahkan enggan memberikan komentar. Contoh lain, dalam menerapkan hukuman, seperti yang dicontohkan dalam novel ini, bergaya militer dan semena-mena. Guru seolah berhak menghukum murid dalam bentuk apapun sedang sang murid dilarang protes lantaran protes itu akan menyebabkan ketidakbarokahan atau dianggap melawan dan bertentangan dengan nilai-nilai luhur dalam kitab ta’limul muta’allim. Padahal, dalam kitab ta’limul muta’allim juga dijelaskan bahwa seorang guru harus berbudi luhur, berdada lebar, dan penyabar. Pemahaman yang tidak komprehensif terhadap kitab ta’limul muta’allim menjadikan sebagian guru yang seharusnya memiliki sifat welas asih, demokratis dan sebagainya, justru menjadi sosok yang bisa jadi memenggal progresifitas, memancung pluralitas, dan membunuh dialektika dan dinamika keilmuan yang senantiasa berkembang.
   
     Pada akhirnya, realitas semacam itulah yang membuat banyak pihak melontarkan kritik terhadap pola pendidikan di pesantren. Banyak yang menyatakan bahwa akar dari berkembangnya pola interaksi semacam itu adalah dilestarikannya pengajian ta’limul muta’allim yang diyakini sebagian orang telah tidak relevan dengan tuntutan pendidikan era global karena hanya memposisikan murid sebagai objek dan guru dipandang sebagai seseorang yang berdiri di menara gading dan sangat elitis. Padahal, interaksi guru dan murid merupakan hal yang vital dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Pola interaksi guru-murid yang baik, akan menciptakan suasana belajar yang edukatif dan menyenangkan. Sebaliknya, pola interaksi yang terlampau formal menyebabkan kerenggangan hubungan antara guru-murid yang berdampak pada suasana belajar yang cenderung menengangkan dan kaku. Sehingga, dapat dikatakan bahwa dalam interaksi guru dan murid inilah terjadi proses edukasi dan sosialisasi.
Kritik tajam perihal interaksi di tubuh pesantren yang cenderung otoriter, kurang demokratis dan memposisikan murid sebagai objek didik tak hanya dilisankan dalam forum-forum diskusi tapi juga melalui tulisan-tulisan yang tersebar di berbagai media, dalam bentuk fiksi maupun non fiksi. Salah satu dari banyak tulisan yang mengkritik habis pola interaksi guru-murid adalah novel Love in Pesantren karya Shachree M. Daroini yang notabene alumni pondok pesantren.
             Banyak kritik yang kemudian lahir dari tangan-tangan kreatif yang bisa mensintesiskan antara realitas yang terjadi di lapangan dengan imajinasi sehingga membuahkan novel yang menurut kami apik, kritis, sekaligus mampu membuat kita tersenyum bahkan merasa diolok-olok. Kedekatan dan relevansi novel Love in Pesantren karya Shachree M. Daroini dengan realitas interaksi guru-murid yang berkembang di sekolah dalam lingkungan pesantren inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengadakan analisis novel yang tertuang dalam judul: ANALISIS NILAI EDUKATIF DALAM NOVEL ”LOVE IN PESANTREN” KARYA SHACHREE M. DAROINI SEBAGAI REFORMULASI POLA INTERAKSI GURU DAN MURID DI PESANTREN.

Rabu, 19 Oktober 2011

Feeding the Nation Through Life Library


The library is an important facility which should be owned by an educational institution starting from the basic level, intermediate level, level up through college must have the support facilities one of which is the library.

Not all people understand the importance of libraries, but library is very useful to support education and improve the quality and the quality of education, to attract sympathy and love to the library community we need to review the existence of the duties and functions of libraries, library services and service strategies, program development and innovation of the library itself as well as library facilities and infrastructure.

In an effort to build a community to love this library there are obstacles that hinder people to think more realistically about the existence of the duties and functions of the library. These obstacles can be overcome by the government and the librarian, because in principle to build a library that places a person's interest in and aptitude for lifelong learning process.

Many of the ease with which we can get by using the facilities and library services, library basically love is the right step for the intellectual life of the nation, not by reading we will be rich and prosper with science and information?


Particularly for schools at the elementary level or elementary school or madrasah MI library or to setinggkat this basis could be termed a reading park facilities should be provided. Since the age of children at primary level is the time pupils / students to begin learning to read from the familiar letters, the alphabet, then strung together into words then become suatau sentence.

So read the park is a facility that is needed to help the child learn to read on, and to foster interest in reading to children early on.

Reading is not just for those people who with thick glasses, smart people, people who perpendidikan, bookish person and so forth. But reading is for everyone, for all people, and for all ages.

Read the Community Garden is actually the same with the Library to the community, dirubahnya its name to Park Read diantaranaya Society is to change the image so that people do not feel afraid to go into this place and would take a book and read it.

Libraries that are exclusive only to those memorable people from middle to upper economic circles so that people from middle to lower economic circles that also requires science reluctant to come to the library

With the rapid development of technology, we must come natural to compensate. So is the library, but the library itself should also be able to adapt to the environment, where "he" does not have to apply the sophistication of the technology yet to be adjusted with konsumenya or pemustakanya. To what a library which is too sophisticated with all computer systems if the consumers are children who drop out of school children and street children of most of them are not familiar with computers.

Reading books for children are also to add insight and knowledge on meraka, because the child has a high sense of curiosity? reading books is one of the factors that are important for intellectual development or to increase knowledge in children.

With the park read in school children can take advantage of their rest time as well as possible to read books that are useful and educating school reading in the park. so that their free time is not wasted in vain. And children have the enthusiasm, motivation and high morale so glad to read in the school library.

Library related to the quality and the quality of education, the more complete and adequate library materials is the increasing knowledge and information, thus the quality and the quality of education is also increasing because of the success of a library is measured from the high and low ability of these libraries in carrying out its function as a center for independent learning activities as well as central information, research and recreation student, could we see a need for information and science to students at the time of the study, they need a variety of information and knowledge to support the research and the process of completing the final task.

If the library has the quality and usability in terms of library materials, the students will improve their academic achievement based on the general and scientific knowledge gained from research with a variety of sources from the library.

With increasing student academic achievement and the quality of education quality also improved, this will all have positive impact for the nation's intelligence.

With love library student, students, teachers / lecturers will increase knowledge and insight, this is the first step to trigger kecerdaan and success of the nation.

* Prabu Ali Airlangga Director Rumah Belajar Pandawa

Senin, 17 Oktober 2011

Impiyan Yang Nyata


Mengentaskan anak-anak miskin dari kebodohan. Mereka berjuang bersama teman-temanya untuk merangkul  anak jalanan (ANJAL) pengemis, pemulung, preman, pekerja sek komersial serta  pedagang asongan  agar mereka mau menitipkan putra-putrinya untuk belajar bersama di Rumah Belajar PANDAWA.
Itulah impian yang ingin diwujudkan oleh lima pemuda. Mereka adalah Mukhammad Makmuri, Mukhammad Ridwan, Abdullah Kafaby, Amar Munawar  serta M. Ali  Shodikin atau biasa dikenal Prabu Ali Airlanga. Selaku generasi muda mereka mempunyai suatu gagasan yakni mendirikan sebuah rumah belajar bagi anak-anak yang tidak mampu.
Mukhammad Ridwan mengatakan. ”Sistem pengajaran yang memuaskan akan menjadi senjata ampuh dalam mengembangkan rumah belajar tersebut.” Hal yang cukup menarik di sini adalah penggunaan modal dan sumber daya manusia yang terbatas (patungan uang pribadi, red). Namun, mampu memberikan pelayanan yang terbaik sebagai salah satu solusi. Maka dengan nama Rumah Belajar PANDAWA (Papan Pendidikan Kawula) yang diresmikan oleh Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si, lima pemuda tersebut dapat terwujud pada Rabu, 18 Mei 2011 di balai RT Desa Lumumba Dalam Gang Buntu RT I/ RW I Kelurahan Ngagel Kecamatan Wonokromo Surabaya.
Karena tekad yang kuat  untuk mengabdikan diri kepada masyarakat dan bangsanya melalui media pendidikan, maka tidak mustahil berdirinya lembaga pendidikan seperti Rumah Belajar PANDAWA adalah salah satu jalan untuk membuka beragam ruang-ruang sosial yang mengolaborasikan semua ragam yang ada.
”Untuk menjalin sebuah kebersamaan dan keanekaragaman perspektif kelompok-kelompok sosial, maka dengan rumah belajar ini mereka  bisa mendapatkan pendidikan yang setara dan berkualitas,” kata Ridwan selaku sekretaris PANDAWA.
Awal berdirinya PANDAWA, kami hanya bermodalkan rumah kontrakan yang dimiliki oleh salah satu warga. Kami memanfaatan rumah yang sengaja kami sewa, lokasi ruang tamu, balai RT yang berada bersebelahan dengan markas PANDAWA, musholah al-Mukhlisin dan taman terbuka di sebrang jembatan kali Jagir sebagai lokasi belajar. Ini bisa dibilang sangat strategis, karena terletak di perkampungan padat penduduk.
Radius tiga kilo meter dari markas PANDAWA, terdapat sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP sampai dengan SMA. Di samping itu lokasi ini berdekatan dengan tempat anak jalanan untuk beroperasi. Dengan kapasitas tempat yang memiliki empat ruangan yang dimanfaatkan sebagai kelas, maka tiap kelas dapat menampung 10-15 siswa. ”Keseluruhan dapat menampung kurang lebih 50 siswa.” Tegas Ridwan.  Dengan fasilitas yang standar,  diharapkan dapat meminimalisir cost dalam variable cost. ”Kami tidak menyediakan fasilitas yang mewah. Tetapi kami menyediakan pengajaran yang berkualitas,” pesan orang nonor dua di PANDAWA.

Semua anak ingin sekolah



Cuaca panas sedang mendera kota surabaya, dan dibawah cahaya matahari yang garang itu para manusia berjibaku dengan kesibukannya. Pemandangan berupa motor dan mobil melaju diatas aspal tampak begitu lumrah, lalu lalang mereka seolah mengabaikan pejalan kaki yang berjalan melawan debu dan teriknya matahari.
Diantara pejalan kaki itu terdapat sepasang pengamen kecil berjalan sayu sambil membawa kicrik kecil dari tutup botol yang dipaku pada sebatang kayu kecil. Mereka menghampiri satu persatu rumah di sepanjang jalan ketintang madya dengan kaki telanjang tanpa alas. Padahal aspal dan tanah yang ada dijalan itu tentu panas karena terpanggang matahari.
Pengamen bertubuh mungil itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki umurnya kira-kira sembilan tahun sedang pengamen perempuan yang bertubuh lebih kecil itu umurnya kira-kira tujuh tahun.
Mengamen untuk sekolah
Ketika laskar kalimasada menemui mereka di daerah ketintang madya, siang telah sampai puncaknya. Angin yang panas juga ikut menyamarkan suara adzan dzuhur hingga terdengar sayup-sayup. Dan sesekali menggugurkan daun kering dari dahanya. Wajah dua pengamen cilik itu tampak kumuh dan kotor oleh debu yang dilayangkan oleh hempasan kendaraan yang lalu lalang.
namaku Imam dan ini adiku Nur” ungkap imam salah satu pengamen dari sepasang pengamen tersebut saat ditanya nama mereka. Anak lelaki berkulit kecoklatan dan agak gemuk tersebut menambahakan bahwa biasanya mereka berangkat pukul delapan pagi dan pulang pukul dua siang. Dan ketika ditanya apakah mereka masih sekolah, ternyata pengamen dua bersaudara itu juga masih duduk sekolah.
kami masih sekolah mas, aku (Nur red) kelas dua, terus mas imam kelas empat” terang nur adik dari imam yang tubuhnya lebih kecil dan kurus dibanding imam, sambil sesekali membenahkan rambutnya yang kemerahan karena terbakar matahari nur juga menjelaskan jika mereka sekolah di SDN Ngagel 2.
jadi biasanya kalau pas sekolah berangkatnya pukul dua siang sehabis sekolah dan pulangnya pukul tujuh malam” imam dengan semangat menjelaskan aktifitasnya. Karena hasil mengamen mereka digunakan untuk menambah biaya sekolah.
Selanjutnya sepasang pengamen cilik itu kemudian melanjutkan aktivitas mereka mengamen, kaki telanjang mereka juga masih lincah menapaki jalan yang panas, dengan topi yang sebenarnya kurang sedap dipandang itu mereka menghampiri satu persatu rumah dan pertokoan yang ada. Sesekali mereka menerima recehan oleh empunya rumah maupun pemilik toko, namun sering kali mereka dikecewakan karena mereka diacuhkan setelah lama suaranya menyanyikan lagu dengan suara ala kadarnya, atau mereka ditolak mentah-mentah dengan berbagai alasan.
ada yang ngomong dagangan belum laku, ndak punya receh atau banyak alasan lain” terangnya. Tapi itu tidak menyurutkan langkahnya untuk menjual suara karena masih banyak pintu yang diharapakan berkenan menyisihkan rezekinya. Atau mungkin mempunyai rasa iba terhadap mereka hingga sedikit recehan di berikannya.
Ingin sekolah lagi
Di hari kedua laskar kalimasada menemui Nur adik dari imam di taman PANDAWA, di jalan raya ngagel tepi kali jagir. Namun saat itu Nur tidak sedang mengamen. Di taman rindang dengan pohon-pohon besar dan beberapa jenis tumbuhan itu rupanya Nur sedang menunggu imam kakanya yang masih ngamen.
ngenteni mas imam ngamen” terang nur sambil bermain dengan sepeda mininya, dan di taman itu Nur tidak sendirian. Dia ditemani oleh seorang gadis kecil, gadis kecil itu adalah temannya. Namanya adalah…. Meskipun dia bukan pengamen, ternyata dia sudah tidak sekolah lagi tahun ajaran baru ini. Dia tidak sekolah lagi karena sudah kesekian kalinya mendapat surat peringatan.
Surat peringatan tersebut diberikan oleh pihak sekolah karena dia sering telat berangkat ke sekolah. Jarak yang jauh antara rumah dengan sekolah di SD……, tidak dimaklumi oleh pihak sekolah. Sehingga karena tekanan psikologis tersebut dia jadi enggan melanjutkan sekolah. Padahal keinginan untuk sekolahnya sangat tinggi. Karena tiap hari dia telah berusaha menempuh jarak yang cukup jauh untuk anak seumuran dia.
aku sering diseneni guru, Soale aku sering telat sekolah”
Memang jalan yang ditempuh gadis itu tidak sejauh oleh Lintang, salah satu tokoh dalam laskar pelangi yang menempuh jarak beberapa kilometer untuk berangkat sekolah. Namun kiranya motivasi para guru sangat penting guna meningkatkan semangat siswa untuk tetap giat belajar.
Ketika matahari mulai bergeser jauh dari istiwa’, imam akhirnya tiba dari ngamen. Seperti biasa imam datang dengan senyum kasnya. Kulitnya yang hitam juga tampak lusuh oleh debu jalanan.
nyari siapa mas?” sapa dia pada laskar kalimasada dan kemudian meraih sepeda yang dibawa adiknya. Dia juga menerangkan kalau hari ini nur tidak ikut ngamen karena masih sakit. Rupanya teriknya hari kemarin membuat kondisi kesehatan gadis cilik itu menurun. Tapi sebenarnya pagi itu nur ingin ikut ngamen, namun ditolak oleh imam karena mengkhawatirkan kondisi kesehatannya.
saya akan terus ngamen, supaya bisa terus sekolah”
Tambah imam sbelum akhirnya berlalu dengan sepeda mini sambil menggonceng adiknya. Ternyata semangat untuk belajar dan tetap sekolah anak kecil yang sudah biasa dengan kehidupan jalanan itu cukup tinggi. Sehingga masyarakat perlu tahu bahwa masih ada naka anak jalanan yang punya cita cita dan ingin mewujudkan melalui bangku sekolah. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama antara masyarakat dan pemerintah.
* Prabu Ali Airlangga