Jumlah pengunjung

Senyum Indah Mereka Adalah Anugerah

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 2 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mengabdi Pada Masyarakat

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 4 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mari Bergabung Bersama Kami

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Selamat Datang di BLOG RUMAH BELAJAR PANDAWA

Rabu, 03 April 2013

Mengais Rejeki Ke Pulau Dewata

  (Aksi pekerja Seni Topeng Moyet. Usaha kersa Haris dan Putra saat menghibur para demawan,  demi mengaisrecehan rupiah untuk membeli sesuap nasi, mereka terpaksa putus sekolah dan pergi kepulau Dewata Bali)


            Pulau bali, pulau dewata nan indah sebagai perpaduan dari pesona alam yang menawan dan keelokan budaya yang eksotik. Pantai  Kuta, Sanur, Uluwatu, Tanah Lot dan nuansa pegunungan adalah anugerah tuhan yang menjadi sebagian keindahan alam yang mempesona di bali. Dan keindahan alampun menjadi rangkaian inspirasi para seniman bali semisal tarian pendet, leak, seni pahat dan lukisan. Berpadu pula dengan budaya yang terpelihara sejak berarabad-abad silam. Oleh karenanya tidak salah jika bali menjadi  rujukan utama wisata Indonesia bahkan dunia.
            Jika sebagian masyarakat berkunjung ke bali untuk menimati segala eksotika yang disajikan oleh pulau dewata tersebut, namun tidak bagi  dua anak laki-laki yang pernah menjadi murid rumah belajar pandawa. Sebut saja mereka putra dan haris. Mereka bersama dua teman lainnya pergi ke pulau dewata untuk mengais rezeki dari lalu lalang orang yang dengan perasaan riang datang ke bali bersama bekal limpahan rupiah di kantong.
            “saya di sana kerja jadi pengamen” tutur putra yang masih berumur 17 tahun, seperti di Surabaya, kami ngemen kethekan (topeng monyet, red)” tambah haris yang umurnya satu tahun lebih muda. Mereka kemudian menuturkan bagaimana mereka berangkat menuju pulau dewata menumpang bis  dengan uang yang minim.
            Karena keterbatasan tersebut Mereka tidak langsung menumpang bis jurusan bali. Mereka berhenti di beberapa kota untuk  menampilkan seni topeng monyetnya guna mengumpulkan lebih banyak rupiah guna menambah ongkos menuju pulau dewata selain itu juga menyambung hidup selama perjalanan. “kalo gak gitu kami ndak bisa makan” terang putra mengiba. Ia juga menambahkan bahwa dengan begitu perjalanan memakan waktu berkali-kali lipat jika disbanding dengan perjalanan pariwisata biasa.

Bali Menyambut

            Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari seminggu dan menyeberangi pelabuhan ketapang ke gilimanuk, akhirnya mereka tiba  di pulau dewata. Ditengah pemandangan yang elok dengan gunung berparas hijau berpadu laut berselimut biru bukan berarti perjalanan telah berakhir, karena artinya mereka harus memulai permaianan permulaan di pulau bali.
            Disanalah pertunjukan yang sebenarnya hadir untuk dipamerkan diantara hiruk pikuk glamournya pariwisata. Jika hampir seluruh anak seusia mereka datang ke bali untuk menikmati santainya liburan demi membebaskan fikiran mereka dari beban di rumah. Mereka justru menampilkan atraksi topeng monyet dari rumah ke rumah, mereka juga membidik pusat keramaian. Dan seperti biasa mereka menghapus kata rasa malu dari perbendaharaan kata mereka.  Dengan percaya diri mereka beraksi bersama monyet yang telah terlatih itu hingga rupiah demi rupiah terkumpul. “kami main di depan para turis lokal, berharap mereka memberi lebih dibanding di perkampungan” Jelas haris menggambarkan keadaan di sana. Dari hasil pertunjukan topeng monyet ia kumpulkan kemudian dibagikan secara rata pada tiap personel yang terdiri empat anak tersebut.
 
Hidup Yang Berat

            “ya kami kumpulkan uangnya untuk dibawa pulang kan ayah saya lagi sakit”. Terang putra ketika disinggung kemana hasil yang turkumpul. Memang putra sejak kecil tinggal hanya bersama ayah dan kakaknya. Sementara ibunya merantau menjadi Tenaga Kerja Wanita di Arab Saudi . Namun hampir setahun ini ibunya  tidak bekerja karena sedang sakit.
            Lebih malang lagi setahun lalu ayah putra juga tertimpa musibah kecelakaan yang melibatkan mobil taksi yang dikemudikannya dengan truk  di jalan tol jagorawi, akibatnya kaki ayahnya patah dan sampai saat ini belum juga sembuh. Bahkan kini ia harus intensif dirawat dirumah sakit.
            Praktis mulai saat itu tidak ada tulang punggung keluarga yang menghidupi kakak dan dia.  Sementara disaat yang sama ia berjuang menghadapi kelulusan SMP. Paska kelulusanpun ia kelimpungan karena biaya masuk SMA swasta sangat tinggi. Apalagi tak lama berselang kakaknya ditangkap oleh polisi karena terlibat kasus penyalahgunaan narkoba. sebagai pengedar ia di ancam hukuman 4 tahun penjara.
            Himpitan ekonomi memang sering kali membuat manusia gelap mata, apalagi didukung lingkungan tempat mereka tinggal yang terbilang minus. Sehingga dengan mudah pergaulan kelam menenggelamkan mereka dalam pekatnya dunia hitam. Bahkan saking depresinya putra mengaku sempat pernah menjadi pengguna narkoba. Menurut dia diawal pengenalannya dengan narkoba ia sempat mampu merasa rileks dan nyaman. Namun  semakin lama ia semakin ketagihan bahkan dosis yang ia butuhkan agar sampai pada titik nyaman semakin tinggi.
            Apalagi jika awalnya ia mendapat secara cuma-cuma namun saat kebutuhan obat makin tinggi  ia harus membayar dengan harga mahal. Dengan mahalnya harga yang harus ia bayar ia makin giat ngamen topeng monyet sampai akhirnya ia putus sekolah karenanya. Masa muda yang cerah akhirnya terkorban demi kenikmatan sesaat yang menyesaatkan.[]awan, al

Jerat Belenggu Narkoba


Berkat informasi dari beberapa temannya yang aktif di rumah belajar pandawa akhirnya direktur rumah belajar Pandawa turun tangan untuk mengatasi ketergantungan putra terhadap narkoba.
“Anak seperti putra memang rentan terpengaruh” Tutur Prabu Ali Airlangga terkait anak didikanya, “ia memerlukan pendekatan yang cukup serius, sebab sebagai anak broken home benteng mental utama jadi tidak berfungsi” tambahnya, ia juga menuturkan bahwa melalui berbagai terapi berangsur-angsur mampu mengurangi ketergantungan para murit yang menjadi dampinganya untuk keluar dari belenggu terhadap narkoba. Terapi-terapi tersebut bertujuan untuk mengalihkan perhatiaanya terhadap ketergantuangannya akan narkoba. 
 Sampai akhirnya usaha yang dilakukan membuahkan hasil, beberapa anak didiknya yang awalnya masuk ke rana narkoba  berkat bantuan teman-temannya yang aktif di rumah belajar Pandawa yang memberi support berangsur-berangsur mulai menghakhiri ketergantuangannya akan narkoba..

Sabtu, 30 Maret 2013

Peresmian Perpustakan Mandiri


Atas dukungan dari semua pihak, kami dari RB Pandawa akan meresmikan Perputtakan Mandiri pada :
Hari : Selasa
Tanggal : 2 April 2013
Pukul : 16.00 Wib
Temapat Balai RT1 kampung, lumumba dalam gang buntu RT 1 RW 1 Ngagel Wonokromo Surabaya

Semoga apa yang kami baktikan untuk generasi bangsa sesuai dengan sepirit moto kami. 

( Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami )

Selasa, 05 Maret 2013

Gotong Royong RB Pandawa

Gotong Royong adalah budaya tradisional Indonesia yang telah di akui dunia. Gotong Royong mengandung arti saling membantu, demi kebahagiaan dan kerukunan hidup bermasyarakat.

Ir Soekarno bahkan pernah menyakini Indonesia dapat menjadi negara yang kuat dan berprinsip dengan menganut nilai nilai tradisinya sendiri yaitu kehidupan bergotong royong. Hal ini dibuktikan dengan idenya untuk menyatukan nilai-nilai yang terkandung dalam 5 butir Pancasila, menjadi satu dan dinamakan Gotong Royong. Namun, seiring dengan pergantian rezim kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, nilai luhur Gotong Royong yang dianggap seperti ajaran sosialis semakin dipudarkan dari kehidupan bermasyarakat.

Info RB Pandawa
Dibulan ini kami mendapat bantuan buku-buku dari Pondok baca & Lotary club surabaya timur, guna pengembangan perpustakaan Pandawa.
untuk itu kami dibulan ini mempunyai program, perawatan serta renofasi Balai RT yang kami gunakan sebagai lokasi belajar, perpustakaan, TPQ,

Mari kita ber GOTONG ROYONG demi suksesnya progam ini.
adapun kebutuhannya :
Luas balai RT 10x4 meter
1. Rencanaya mau kita lantai keramik (agar belajar, bisa lebih nyaman)
2. Halaman mau kita kasi taman (agar tidak terlihat kumuh)
3. Dinding balai akan kita kasih gambar, lukis
4. Perpustakan, membutuhkan Rak baru, buku, dan mainan
5. Lipas angin gantung. (karena kondili dalam ruangan sangat panas)


Catatan Info : -----------------------------------------------------------------
Bantuan bisa diberikan berupa:
(kipas angin, rak buku, bubu-buku, mainan anak-anak, pasir, semen, keramik, batu bata, cat,  ongkos tukang,atau trasfer di rekening lembaga kami.)
Bank BTN 00064-01-61-001188-1 (atas nama qq. rumah belajar pandawa)
Bank Jatim 0017204246 (atas nama qq. rumah belajar pandawa)

Alamat : Rumah Belajar PANDAWA RT 01 RW 01 desa Lumumba Dalam kel. Ngagel Kcm. Wonokromo Surabaya
-Tlp/Sms : 085852456350
-Email : pandawa_ilmukawula@yahoo.com



Minggu, 10 Februari 2013

“TBM Itu Harus di Pindah, Simiskin selalu Dimarjinalkan”

Add caption
“Dari hasil evaluasi, buku telah dikalahkan media elektronik. Hasil survei wilayah Jawa Timur, kurang dari 50 %, atau hanya ada 20 % minat membaca.” Kalimat itu tegas keluar dari mulut Sugeng Nuharianto, pengawas dan pembina petugas TBM (taman baca masyarakat, red.) wilayah Surabaya.
Sugeng menuturkan jika pemerintah tengah menggalakkan pendirian seribu TBM hingga tahun 2015 nanti. “Hal itu ada di peraturan daerah (perda) No. 5 tahun 2009. Sejauh ini memang belum ada penegasan dari pemerintah, tapi rencananya tahun 2012 nanti akan ditegakkan,” tambahnya.
Rumah belajar Pandawa yang bertempat di tepi rel kereta api, kecamatan Wonokromo, juga telah satu minggu ini mendirikan perpustakaan mandiri. “Peraturan pemerintah menyebutkan dalam satu RW itu hanya ada satu TBM, sedangkan RW kami ada sepuluh RT, nggak mungkin anak-anak sini mau baca ke RT 10, kan jauh,” ujar M. Ali Shodikin, pendiri Rumah belajar Pandawa, ketika ditanya alasan mendirikan perpustakaan mandiri.
Tujuan didirikannya rumah belajar Pandawa sendiri adalah pengabdian Ali dan keempat temannya, mahasiswa IAIN Sunan Ampel, kepada masyarakat dengan mengamalkan ilmu, pembelajaran anak-anak kurang mampu, dan juga memodali mereka dengan keterampilan. Ali dan kawan kawan juga telah melakukan survei di beberapa lokasi di kota Surabaya, sebelum memutuskan lokasi tetap rumah belajar ini.
“ Menurut kami desa ini pantas untuk mendapatkannya. Lokasi yang minus karena lingkungan warganya yang bekerja sebagai PSK (pekerja seks komersial, red.), pemulung, dan pencuri. Anak kecilpun mengamen, banyak anak yatim, juga fakir miskin,” papar mahasiswa jurusan Hukum Islam tersebut.
Terkait perpustakaan mandiri yang telah didirikan, karena dalam satu RW hanya ada satu TBM, Sugeng pun menanggapi, “Sebenarnya kami tidak membatasi TBM itu harus di balai RW,  namun karena yang mengajukan adalah RW dan rekomendasi RW,  masalah penempatan itu menjadi kekuasaan RW.”
Pria yang pernah menjabat sebagai lurah ini juga menegaskan jika ia menghendaki TBM itu ada di lokasi rumah belajar Pandawa, karena lebih membutuhkan. “Dari hasil evaluasi kami, jika diletakkan di balai RW yang ada di RT 10 itu targetnya kurang, namun karena mas Ali bergeming dengan pak RWnya yang ‘kaku’, saya sendiri juga nggak bisa,” imbuhnya.
Hal berbeda dilontarkan Sulistyawati, istri ketua RW 1 kelurahan Ngagel, kecamatan Wonokromo. “Awalnya memang di balai RW, namun sekarang setiap bulan bergantian di setiap RT, dibalai RT,” ungkapnya ketika dikonfirmasi perihal lokasi TBM ini. Ia juga memaparkan jika pengunjung TBM per harinya jauh lebih banyak di setiap balai RT, daripada dipusatkan dibalai RW.
Rumah belajar Pandawa sendiri telah memiliki empat puluh orang murid, yang juga pengunjung tetap perpustakaan mandirinya. Namun diantara banyak anak-anak yang mengaku senang menimba ilmu disana.
Aklhirnya pada akhir tahun 2012 perpustakan kota Surabaya memberikan solusi agar dilokasi Rumah belajar Pandawa yang bertempat di tepi rel kereta api,  diberikan fasilias seperti hanya TBM ditempat yang lain. Namun sangat disayangkan sekarang adanya kebijakan setiap TBM yang bertempat di tepi rel kereta api harus dipindah, dikarenakan akan adanya penggusuran. Padahal disisih lain minat baca anak-anak sudah banyak.
Untuk itu Rumah belajar Pandawa, setiap akhir pakan mengajak murid untuk berwisata pendidikan berkunjung ke perpustakaan milik Bank Indonesia yang terbuka untuk umum ini menempati Gedung Mayangkara Jalan Mayangkara 6 Surabaya.

Senin, 07 Januari 2013

Parents Advice, In Educating Children


Adolescence adalaha future psychological development of the child to be a child who was growing up, commonly known by the transition from the extended to the children become adults. These periods usually despise teenagers imitate the style or stile admired so greatly needed in this guidance from parents to teenagers not one style that can make the order for his future.
But mostly people do not know the parents in educating their teenagers do not know what possessed her talent that her talent was terkandas the fault of the parents. By him it was following a few mistakes parents in educating their teenagers:
1. Wrong perception
Often parents instilled a false perception about yourself also in the perception of self keberhargaan their children either consciously attau not aware of its influence psychological growth of children. When parents teach a wrong perception to the child, that's when the real parents were planting mines psychological minefield that can explode at any time.
Wrong perception as if that is frequently and unwittingly parents do to their children ..? A small example, many parents who force their children to be good at everything. It is a source of pride and self keberhargaan for parents if their children have above average achievement friends other friends.
Parents often think poorly of the boys who express negative emotions, parents often ask their children not to make mistakes even by parents asking for help is wrong and shameful.
Like a time bomb, a child not only needs attention, praise and reprimands. The balance of it will make the child feel loved and be loved. But unfortunately because of busy jobs and routines many parents let their children grow up by itself so that when problems arise then the parents are busy trying to be a good parent or bijaksanana.
Busyness parents sometimes make them no time for their children, there is no time to accompany learning, even when there was no longer joking. Even sometimes forget to appreciate her achievement, only when children make mistakes, parents busy paying attention and wise ass.
2. Not Consistent
Trap is a common problem when the parents are no longer consistent in parenting. Parents have berbgai kinds of reasons to justify his inconsistency against children. Whatever the reason, the lack of variation prolem konsintenan can enlarge the behavior of their children. Then came the question of questions at me, "Which is better children grow up in a family of authoritarian or permissive ...? Actually the most important is the existence of rules that can be predicted and consistent.
3. Closed communication
Communication is the thing or the most important factor in caring for and educating their children. If children think that they can talk to their parents about their feelings and their lives, if they succeed or fail when it could and was able to communicate openly to their parents, so they would be owned and cared for. So that the children will feel meaningful to themselves also their parents.
4. Problem solver
Many children and adolescents is now a member of the generation confused, if you want to trace the background of their care, it is usually found that their parents were mostly serves as a problem solver for their children. As a result, their children had over-provided and life becomes passive. So what are the reasons parents become problem solver ..? Classic reason is parents want their children happy, the parents do not want their children to experience problems in her life.
5. There is no example
Often parents use the techniques in building and educating young children with a way to rule, ask their children to do what he says, but it is equally important example exert a very strong and positive. Children need to be an example, and not by orders. A small example, many parents hope their children smarter, then the parents instruct their children to learn any and all costs. Maybe by example and take her learning will be different, because the acceptance of child shall be felt herself diperhatiakan parents.
6. Select the time to play with the children
As an adult, sometimes parents forget how to be a child. Many parents are caught up in the bustle of day to day to make a living and pay the mortgage, but many parents forget that children also need to play. Children need to fantasize and develop their creativity. Do not borrow children with a wide range of tutoring throughout the week. His intentions are good but not necessarily the way he's right, sometimes undesirable tutoring children do not solve the problems it has created more problems for the child.
Sources http://www.duniaremaja.net

Rabu, 21 November 2012

Satu Bulan Bersama Relawan STK Widya Mandala




Hari itu hari senin pukul 18.00, desir angin yang menyibak dahan pepohonan di taman  beradu dengan raungan  knalpot kendaraan bermotor yang memadati jalan Ngagel, Wonokromo. Dibawah rindangnya pohon taman yang menghantarkan lembar-demi lembar daun kering terhempas direrumputan taman, terdapat sekumpulan bocah-boca yang sedang asik dengan beragam aktivitas belajar bersama di taman.
Diantara penerangan seadanya mereka bergerumul menghadap beberapa papan tulis dengan coretan-coretan. Mereka adalah relawan bersama murid-murid Rumah Belajar Pandawa.  Relawan yang merupakan mahasiswi  Universitas Katolik Widia Mandala atau biasa di singkat UWM yang terdiri dari Mia Dwi Retno, Aprelia Caroline, Brenda Silviani,  Fatmala Fatmawati, Yosefina Silvia Daru, Rana Keera, Novita Jalasari, Rika Kumalasari, kritina atau biasa disapa Beta.
Salah satu program yang dibawa oleh relawan ini adalah misi pendidikan pancasila, mula dari belajar kebinekaan, persatuan Indonesia, dan lain sebagainya. Mengabdi kepada masyarakat dan ikut merasakan bagaimana kehidupan sesama merupakan salah satu dari upaya mengaplikasikan sila kedua yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradap, karena diharapkan kegitan tersebut dapat menyentuh sisi humanis atau kemanusiaan kita.
“Saya tidak menyangka jika mereka begitu kuat, sekalipun mereka tak bersama orang tua mereka bahkan diantara mereka sesungguhnya tidak tahu siapa orang tua mereka sebenarnya. Jika saya yang mengalami, saya tidak tahu gimana?” ujar Rana mahasiswa asal NTT salah satu relawan yang kagum dengan semangat anak-anak rumah belajar pandawa.
“Lebih hebatnya lagi mereka tidak pernah menyalahkan keadaan, tidak menyalahkan orang tua mereka padahal saya sering ngerasa kurang dengan kasih sayang orang tuaku yang sekarang aku sadari tiada kurangnya” imbunya sambil tersenyum malu. Air mata itu meluncur deras  Sebab sebelumnya ia mendengar beberapa curhatan langsung dari anak-anak tentang latar belakang kehidupan  yang mereka jalani setiap hari.

Sedihnya Perpisahan
                “kaka jangan pergi kami tidak akan nakal lagi, kami semua akan serius belajar……” teriak tangis murid Pandawa kepada para relawan pengajar, saat mengucapkan salam perpisahan.
Tidak disangka, malam perpisahan yang  harus dijalani terasa sangat berat, akibatnya tak terasa air mata menetes dari puluhan pasang mata itu. Deraiannya merambati pipi, kilaunnya terbias cahaya lampu yang menembus rerimbunan daun dan rupanya juga telah menembus dihati mereka.
Hari-hari yang telah dialalui bersama rupanya telah menorehkan selaksa kenangan yang tak mudah dihapuskan, bahkan oleh air mata perpisahan sekalipun. Memang saat perpisahan tadi suasana sangat mengharukan, anak anak menangis para relawan juga ikut mengangis.
Maka untuk menceriakan  suasana mereka menghibur diri dengan beragam kegiatan lucu. mulai dari tari ayam “Chiken Dance” yang dilakoni oleh para murid –murid Pandawa. Hingga hiburan berupa tarian paling fenomenal saat ini “Gangnam Style”yang dipersembahkan oleh para relawan.
Akan tetapi, aura perpisahan yang mengharu biru tidak juga bias terhapuskan, bahkan oleh berisik raungan kendaraan bermotor yang merayapi jembatan Bosem wonorejo “jagir”.  “saya nggak menyangka, ketika kami bilang besok gak akan datang kesini lagi, seketika airmata meleleh di kedua belah pipi mereka”, terang Brenda yang juga menehan airmata.
“Meskipun waktunya singkat, akan tetapi begitu banyak pelajaran yang telah kami dapatkan. Di Rumah Belajar Pandawa saya mulai belajar besyukur, atas segala nikmat yang diberikan Allah, ampuni tuhan saya yang jarang bersyukur” sesal Caroline akibat kekilafannya, kini ia bias melihat ternyata banyak anak yang jauh tidak seberuntung kita. Hidup tanpa kasih sayang orang tua, menyambung  hidup dijalanan, bahkan  ada yang terbiasa melihat orang tua mereka terjebak lembah hitam pelacuran.
“Kami tak menyangka, mungkin tanpa adanya Pandawa, mereka akan menjadi 11-12 dari orang tuanya, jika orang tunya kasar dalam mendidik pasti kelak mereka akan melakukan yang sama” tambah Rana Keera. “Jadinya saya melihat rumah belajar pandawa bukan hanya member pelajaran berupa materi tapi juga pelajaran moral yang amat berharga bagi mereka kedepan” terang Mia menambahkan ungkapan Rana Keera salah satu relawan yang berasal dari Nusa Tenggara Timur.

Sebingkis Kenangan
Kini para mahasiswi Relawan dari  Universitas Widya Mandala telah purna tugasnya, tunai sudah pengabdian di Rumah Belajar Pandawa dalam membimbing anak-anak yang butuh bimbingan dan kasih sayang.  Tapi seberapa jauh mereka menghilang dari selingkar pandangan mata, tapi mereka dan jasa mereka akan selalu terbingkai dihati mereka.
“Kenapa mereka cuma ngajar sebentar, padahal aku sudah mulai sayang” keluh vista dan yola,. Sambil memegang bingkisan berupa buku dari relawan ia mengenang saat-saat beberapa jam yang mereka lalui sebelumnya.
Rupanya benar kata sebuah syair lagu yang pernah dilantunkan oleh grup band asal jogja, Letto. Bahwa “rasa kehilangan hanya akan ada jika kita pernah memilikinya”. Dan bukankah sejatinya kita saling memiliki? Memiliki rasa cinta yang sama, memiliki kasih sayang yang sama, dan memiliki Rumah Belajar Pandawa bersama.
Diahir perpisahan malam itu, ketika mereka semua bersedih , kami membisiki dan meyakinkan mereka satu hal, “kalian orang yang kuat,” kakak yakin kelak adek-adek ijka treus belajar dan berusaha dengan serius maka kalian menjadai orang yang sukses, persembahkan prestasi kalian untuk kebanggaan orang tua kita” [] Awan.