Jumlah pengunjung

Senyum Indah Mereka Adalah Anugerah

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 2 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mengabdi Pada Masyarakat

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 4 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mari Bergabung Bersama Kami

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Selamat Datang di BLOG RUMAH BELAJAR PANDAWA

Selasa, 13 Juni 2017

RUMAH BELAJAR PANDAWA

RUMAH BELAJAR PANDAWA




          Rumah Belajar pandawa merupakan portal yang menyediakan berbagai bahan belajar serta fasilitas komunikasi dan interaksi antar komunitas pendidikan, juga berisi bahan belajar untuk bahan belajar , wahana aktivitas komunitas/forum, bank soal dan katalog media pembelajaran. Rumah Belajar pandawa ditujukan untuk anak-anak yang mau belajar. Portal belajar diharapkan menjadi milik komunitas, dengan pengisian konten dan aktivitas dari dan untuk komunitas belajar.
          Rumah Belajar pandawa merupakan portal pembelajaran yang diharapkan dapat membantu para peserta didik dan semua lapisan masyarakat mendapatkan sumber belajar yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap Rumah Belajar sebagai salah satu Pusat Sumber Belajar. Terutama bagi anak-anak yang kurang mampu. Secara keseluruhan dengan adanya Rumah Belajar pandawa ini dan aplikasi Manajemen Pelatihan dapat menjadi wahana pengembangan dan peningkatan kompetensi anak didik.
          Layanan Rumah Belajar hadir diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan anak didik. Selain menyediakan berbagai materi pengetahuan tingkat SD, SMP dan SMA  juga memberikan ruang untuk saling berkomunikasi, berbagi pengalaman secara virtual. komunitas ini akan memberikan alternatif media pendidikan yang sesuai dengan kondisi budaya dan lingkungan pendidikan di Indonesia. Seperti kita ketahui masih kurang sekali alternatif media pendidikan yang berbasiskan internet dalam dunia pendidikan Indonesia dan masih kalah jika dibandingkan dengan konten dan media yang berasal dari luar negeri. Melalui komunitas Rumah Belajar ini, maka keragaman materi belajar, model interaksi belajar dan kemasan konten disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Pemanfaatan Rumah Belajar diharapkan memberikan pengaruh terhadap terbentuknya:
1. Pembinaan anak didik secara berkelanjutan
2. Pengembangan kreatifitas
3. Pengembangan komunitas
Terbentuknya 3 kondisi di atas dikarenakan beberapa proses yang terjadi di dalam Rumah Belajar pandawa sehingga membentuk beberapa aktifitas mandiri yang bermanfaat bagi pembentukan dampak positif terhadap pengguna Rumah Belajar baik (komunitas) yang secara aktif memanfaatkan komunitas ini di dalam Rumah Belajar sesuai dengan kapasitasnya.


“PIALA KEMENANGAN”

“PIALA KEMENANGAN”
(Olimpiade Sekolah Rakyat)

           
       Maraknya anak-anak yang sedang asik bermain klereng, petak umpet di tengah malam dan bercanda gurau pada hari weekend di tengah bisingnya kota Surabaya. Namun dari sudut itu nampak terlihat keistimewaan di dekat perkampungan, tepatnyadi balai RT Desa Lumumba Dalam Gang Buntu RT I/ RW I Kelurahan Ngagel Kecamatan Wonokromo Surabaya. Betapa istimewahnya kampung ini masih terlihat semangat pemuda yang di tengah gaduhnya perkotaan mereka masih sempatkan untuk belajar, dan berlatih pada hari weekend untuk persiapan lomba olimpiade sekolah rakyat yang akan di laksanakan pada tanggal 7 Agustus 2016 mereka ini sangatlah antusias sekali. Betapa indahnya melihat semangat anak muda ini dalam berlatih mengikuti lomba mendongeng, lomba menggambar, dan lomba berpidato di depan publik, disinilah kita bisa cermati motivasi mereka dalam meraih impiannya. Detik-detik pengumuman perlombaan mendongeng, berpidato, dan mengganggambar akan segera di umumkan. Suara gemuruh membuat hati dari peserta lomba mulai berdebar karena menunggu hasil lomba tersebut. Satu jam berlalu penguman mulai di informasikan. Dan alhamdullillah adik-adik pandawa memenangkan perlombaan mendongeng tingkat jawa timur. Terlihat suara sorakan mereka yang penuh dengan kebahagiaan atas kemenangan yang telah mereka raih. Betapa hebatnya adik-adik ini dengan keterbatasan waktu latihan yang hanya latihan dalam 2 minggu saja mereka dapat meraih apa yang telah mereka harapkan selama ini. Dari pihak pengajar yang mengantarkan mereka sangat senang sekali merasakan kebahagian mereka yang telah mendapatkan piala kemenangan, semoga dengan adanya perlombaan seperti ini akan mengapresiasi adik-adik supaya tetap semangat dalam belajar dan terus berusaha akan meraih setiap impian itu, seberapa pun kalian selalu mengatakan sulit namun kita disini yakin akan semua prestasi yang telah kalian capai sampai detik ini. Jangan pernah menyerah atas suatu impian kalian adik-adik pandawa, tetap raih, capai, dan raih kembali piala-piala kemenangan mu. Semangat!! 


SUMPAH PEMUDA

 PERAYAAN SUMPAH PEMUDA DI RUMAH BELAJAR PANDAWA



Setiap tanggal 28 Oktober masyarakat Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda , Sumpah Pemuda juga mengajarkan nilai – nilai persatuan dan kesatuan bangsa Tanah Air Indonesia. Peristiwa Hari Sumpah Pemuda juga membuktikan bahwa berbagai pendapat dapat disatukan. Maka dari itu seluruh masyarakat Indonesia harus meladani sikap dan perilaku para pemuda yang telah berhasil mengikrarkan Sumpah Pemuda. Tanpa sadar, dengan cara sederhana kita dapat mengamalkan nilai – nilai Sumpah Pemuda dalam kehidupan sehari – sehari di lingkungan Masyarakat.
Manusia merupakan makhluk sosial, manusia juga memerlukan bantuan orang lain. Manusia juga hidup dilingkungan masyarakat terdapat banyak perbedaan – perbedaan, berbedaan dari sikap, perilaku dan tenggang rasa dll. Hal itulah bisa disiasati dengan hal baik.
Seperti yang dilakukan oleh anak – anak Rumah Belajar Pandawa, mereka mengikuti kegiatan gotong royong. Dengan cara menanam pohon di sekitar area , Tujuan kegiatan ini mengajarkan arti saling bantu membatu dan saling kerja sama untuk membantu penghijauan kembali di bumi. Dan mengajarkan arti untuk melindungi bumi sejak dini.
Anak – anak rumah pandawa juga mengamalkan dengan cara membacakan Sumpah Pemuda di depan umum. Agar anak – anak tau apa itu Sumpah Pemuda? Dan sejak dini harus di tanamkan sikap dan perilaku yang tepat untuk menjadi Pemuda yang berguna bagi bangsa.

Yang di lakukan oleh Anak – anak dan panitia GMNI terinspirasi dari Hari Sumpah Pemuda agar sejak dini mereka tidak melupakan jasa – jasa para pahlawan, tentunya ikut serta dalam membangun Indonesia. Yang terpenting perayaan ini menumbuhkan rasa nasionalisme sehingga mereka bangga menjadi Anak – anak dan Pemuda Indonesia.

Senin, 22 Mei 2017

Kota Ramah Anak Surabaya


 Predikat Kota Ramah Anak yang disandang Surabaya belum menjamin sepenuhnya perlindungan serta hak dasar anak.

Keberadaan anak-anak di Pemukiman Lumumba Dalam, Ngagel, Kecamatan Wonokromo menjadi contoh kecil. Di kampung padat penduduk yang tidak jauh dari Stasiun Wonokromo dengan”pernak-pernik” kehidupan malam yang menyertainya, terdapat sejumlah anak putus sekolah. Selain itu, mereka juga rentan menjadi korban bahkan pelaku kejahatan seksual. Ini yang terlihat ketika Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) mengadakan kegiatan bertajuk Psikoedukasi untuk Kota Surabaya di Lumumba Dalam, RT 1/RW I, Ngagel, Kecamatan Wonokromo, kemarin.

Dalam program ini, Ubaya menggandeng Rumah Belajar Pandawa di kampung tersebut. Selama ini, anak-anak tersebut dibina para pengelola Rumah Belajar Pandawa. Ketua Rumah Belajar Pandawa M Ali Shodikin mengatakan, anak-anak di Lumumba Dalam cenderung dewasa saat usianya masih dini. Ini tidak lepas dari pengaruh lingkungan tempat tinggal mereka.”Anak-anak di sini ada yang dulunya dibuang orang tuanya, lantas dirawat warga. Ada yang lulus SD dan tidak meneruskan ke SMP. Ada yang SD mrothol, tidak meneruskan. Faktor ekonomi menjadi alasan utama,” papar Ali Shodikin.

Kampung Lumumba Dalam, kata Ali Shodikin, merupakan kampung dengan permasalahan cukup kompleks. Ada pendatang, penghuni kos, dan lainnya. Lokasinya yang dekat dengan Stasiun Wonokromo berikut kehidupan malam di sekitarnya berimbas pada psikologi anak-anak di sana. ”Di sekitaran stasiun ada lokalisasi terselubung. Imbasnya, ada anak terjebak seks bebas. Menikah saat belum waktunya karena hamil imbas seks pranikah. Generasi ke depan jangan seperti itu. Mata rantainya harus diputus,” tutur Ali yang merupakan kandidat doktor dari Universitas Negeri Solo. Ini yang membuat Ali dan empat temannya yang juga pendiri Rumah Belajar Pandawa selalu menyambut baik dan mendukung kampus yang masuk ke Lumumba Dalam untuk mengedukasi anak-anak.

Selain Ali, ada pula Abdullah Kafabih, Amar Munawar, Muhammad Ridwan, dan Muhammad Makmuri, ikut terjun langsung membantu mahasiswa yang menetapkan program untuk anak. ”Sebelum Ubaya, ada mahasiswa Untag Surabaya dan kampus lain menjalankan program kampus di Lumumba. Pendidikan akademik selalu diberikan relawan Rumah Belajar Pandawa. Bantuan yang diberikan mahasiswa berupa pendidikan soft skill, psikologi, dan edukasi seksualitas. Wakil Dekan I Fakultas Psikologi Ubaya Sri Siuni menambahkan, program Psikoedukasi di Lumumba Dalam merupakan bagian dari Dies Natalis ke-35 fakultasnya. Selain itu, dalam rangka menjalankan tri darma perguruan tinggi.

”Untuk pelatihan hari ini (kemarin), mahasiswa psikologi menanamkan proteksi dini pada anak. Selain itu, menanamkan anak menjadi pahlawan bagi dirinya, teman dan lingkungan,” ulas Sri Siuni. Hadil psikoedukasi akan dievaluasi. Anak yang sudah menginjak dewasa akan diajak ke kampus untuk ditemukan para psikolog. Harapannya, anak mau bercerita tentang masalah yang mereka alami. Hasil evaluasi juga akan menjadi bahan Ubaya menentukan program lanjutan. Termasuk menggandeng Pemkot Surabaya dalam menyelesaikan problem sosial yang menyangkut anak.

Dosen pembimbing psikoedukasi, Nurlita Endah Karunia, menyatakan, mahasiswa yang terjun ke kampung dipantau langsung. Terutama dalam berinteraksi dengan anak-anak di lokasi. Syahputra, salah satu anak di Lumumba Dalam mengaku senang ada kakak-kakak mahasiswa.”Diajari bermain Samson dan Delilla,” tuturnya.

http://koran-sindo.com/page/news/2017-05-15/







Senin, 18 Juli 2016

Apa Rumah Belajar Pandawa ( RB Pandawa )

“Mendidik bukan hanya tugas pemerintah, tapi mendidik adalah tugas mereka yang terdidik”. Jargon ini tentu telah akrab ditelinga banyak orang Indonesia. Sebuah jargon yang menggambarkan betapa pentingnya pengabdian. Sehingga wajar ika tugas dan tanggung jawab membangun negeri guna mencerdaskan anak bangsa bukan sekedar tanggung jawab pemerintah. Tapi juga kewajiban seluruh komponen bangsa.
Melalui model rumah belajar gratis, diharapkan mampu nmenjadi antitheis bagi pendidikan berbasis kapitalisme. Jika model-model ini  berhasil,  tentunya akan dapat ditularkan atau didiseminasikan ke tempat lain yang memiliki karakter yang sama. Rumah belajar pandawa hadir untuk menjawab tuntutan tersebut. Sebuah tuntutan untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudah menjadi rahasia umum, terpuruknya kondisi sosial dan ekonomi telah membuat terpuruk pula mental dan akhlak anak bangsa.
Untuk itu pandawa yang lahir lebbih dari lima tahun yang lalu,  berkomitmen untuk tidak saja memberikan dukungan materi, tapi ikut berkonsentrasi dalam perbaikan mental peserta didik melalui pendidikan karakter berbasis nilai seni, agama dan pancasila.

Tidak banyak yang tahu jika Rumah Belajar Pandawa bermula dari imajinasi dari lima pemuda yakni M. Ali Shodikin, makmuri Yahkya, Abdullah Kafabih, M. Ridwan, dan Amran Munawwar, mereka berperan dalam mendidik generasi bangsa. Padahal saat itu mereka masih berstatus sebagai mahasiswa yang disibukkan oleh beragam tugas kuliah dan organisasi. 
Selain terinsprasi dari tokoh pewayangan yang terdiri dari lima ksatria, pandawa juga dimaksudkan sebagai akronim dari “Papan Pendidikan Kawula”. Maknanya adalah sebagai wadah dimana terjadi proses memberi dan menerima ilmu bagi seluruh masyarakat. Tahap untuk memilih subyek dan lokasi awal bagi peserta pendidikan bukan suatu hal yang mudah. Tersebarnya kantong-kantong kemiskinan pada daerah padat penduduk, diwilayah perkotaan membuat pandawa menetapkan skala prioritas.
Maka daerah kumuh dengan keterbelakangan ekonomi, sosial dan moral menjadi tujuan utama. Sehingga dipilihlah kampung Lumumba dalam RT. 01 RW. 01 Gang Buntu Kelurahan Ngagel Kecamatan wonokromo Surabaya, sebagai lokasi babad awal menancapkan obor pendidikan.
Kini Rumah belajar Pandawa yang merupakan lembaga non profit yang dipimpin oleh M. Ali Shodikin, MH. dan diwakili M. Ridwan, SEI. telah bergeliyat dengan belasan relawan pengajar dan puluhan peserta didik. Mereka rela bertahan dilokasi pemukiman padat penduduk dengan kondisi sosial minus, karena merupakan tempat prostitusi ilegal, pusat pemulung dan pengamen jalanan. Alhasil, berbagai program berupa Taman Pendidikan Rohani, Bimbingan  Belajar Terpadu, Beladiri, Olahraga dan pendidikan Seni telah berjalan sukses. Bahkan selain peningkatan prestasi akademik, tiga anak didik pandawa berhasil memborong prestasi sebagai juara Deklamasi puisi Se-jawa Timur pada hari Anak Nasional 2011 lalu. Hal itu setidaknya mampu menjadi penyemangat dalam upaya perbaikan karakter dan moral demi memutus mata rantai kesakitan mental.

Lewat Rumah Belajar Pandawa ini, anak-anak jalanan diberikan pelajaran dan bimbingan tentang arti hidup dan kehidupan ditengah-tengah masyarakat. Dan alhamdulillah, sampai saat ini, mereka mulai dapat mengenal norma dan etika layaknya anak seusianya. Bahkan hingga saat ini banyak prestasi yang  mereka raih. 

Jumat, 26 September 2014

Abu Nawas Dan DBD

 Alkisah negeri tempat tinggal Abu nawas sedang dilanda penyakit aneh yang menimpa anak anak. Setiap anak kecil menderita demam tinggi dan dua minggu setelah itu muncul bintik bintik merah di sekujur tubuhnya. Banyak warga yang mengira bahwa kejadian ini disebabkan adanya dukun ilmu hitam yang sedang berlatih sihir. Baginda raja yang mengetahui kejadian ini lantas menurunkan puluhan tabib ternama, namun tak ada satupun yang bisa menangani permasalahan tersebut.
Hingga suatu hari baginda raja Harun membuat sayembara “barangsiapa yang berhasil mengatasi penyakit aneh di negeri ini maka akan diberi hadiah emas satu karungdan sepasang ekor sapi”. Namun, hingga tiga hari setelah sayembara belum ada seseorang yang bisa menyanggupinya. Abu nawas yang mengetahui permasalahan di negerinya lantas menawarkan diri untuk ikut membantu.
“jadi apa yang akan kau lakukan untuk membantu mengatasi permasalahan ini?” tanya Baginda.
“beri saya waktu hingga siang hari” Pinta Abu Nawas.
Abu nawas lantas memeriksa beberapa anak yang terjangkit penyakit aneh tersebut. setelah berpikir beberapa saat, ia teringat sesuatu dan lantas menemui baginda raja. Setelah sampai di istana, ia segera melapor :
“baginda raja, saya sudah menemukan akar permasalahan di negeri kita” kata Abu Nawas
“baik, segera laporkan.”
“negeri kita sedang dilanda penyakit demam berdarah, penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegepty.”
“lalu bagaimana cara kita menangani masalah ini?”
“ada buah yang bisa meredakan gejala ini, namanya buah jambu merah biji”. Jawab Abu Nawas “saya memilikinya di belakang rumah, pemberian teman saya dari pulau jawa yang bernama Ki Paijo.”
“baik, segera tangani para anak yang menderita gejala penyakit ini” perintah Baginda.
“tunggu dulu baginda, ada lagi yang harus ditangani.” Sergah Abu Nawas.
“apa lagi Abu Nawas?” Tanya baginda raja.
“hari minggu besok kita adakan kerja bakti bersih desa” Jawab Abu Nawas “penyebab datangnya penyakit ini adalah karena warga tidak bisa menjaga kebersihan tempat tinggalnya.”
“baik, besok aku akan membuat pengumuman untuk penduduk”
Seminggu setelah Abu Nawas menjalankan idenya, semua anak yang menderita penyakit demam berdarah perlahan lahan pulih dan negeri ini terbebas dari masalah tersebut. Sesuai janji sang baginda Raja, dirinya mendapat hadiah berupa sekarung emas dan dua ekor sapi. Namun Abu Nawas yang dermawan itu membagian sepuluh persen hadiah emasnya kepada fakir miskin.


Nama     : Hario Bachtiar Muslim
No HP    : 08983663488
Email      : fajrinb@rocketmail.com
Penulis merupakan Anggota Teater Q Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya.

Kamis, 04 September 2014

GURU BAGI PEMIMPIN BESAR REVOLUSI


Catatan sejarah menulis, bahwa pemimpin besar revolusi  terlahir di kota pahlawan. Dia adalah Soekarno, saat dia masih kecil, dia dititipkan di keluarga Haji Oemar Said (H.O.S.) Cokroaminoto di Peneleh, Surabaya.
Dirumah sederhana itu, Soekarno juga berteman dengan Semaun, dan Kartosoewirjo mereka menjadikan Haji Oemar Said (H.O.S.) Cokroaminoto, sebagai maha guru, dalam pores pencarian ilmu. Dia dikenal sebagai Ketua Partai Politik Sarekat Islam.
Cokro lahir di Ponorogo, Jawa Timur, anak kedua dari 12 orang bersaudara. Ayahnya, R. M. Cokroamiseno. Sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional, Cokroaminoto sukses mendidik murit-muritnya yang kemudian mewarnai politik Indonesia. Soekarno dikenal dengan jiwa Nasionalisme, Semaoen ahli Sosialisme komunis, dan Kartosuwiryo sebagai ahli agama.
Suratan takdir menggariskan, jika kemudian Soekarno menjadi salah satu murid kesayangan Cokro aminoto. Soekarno menjadi tokoh nasionalisme penting negeri ini sebagai pemimpin besar revolusi.
Berbagai literature sejarah ditemukan, Bung Karno selalu menyebut nama Cokroaminoto sebagai guru sekaligus pujaannya di kala muda.
Didalam proses mencari imu dan mengembangkan wawasanya, Bung Karno sering menemani gurunya yang ketika itu berusia 30-an tahun, berkeliling dari satu daerah ke daerah lain, menjadi guru ngaji, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan perjuangan, tebaran-tebaran semangat untuk merdeka, lepas dari penindasan bangsa Belanda.
Di rumah, Cokro mendidiknya dengan keras, disiplin. Hampir setiap hari, sepanjang malam, dan di kala senggang, Bung Karno duduk di dekat kaki Cokro, dan dialirkannya buku-buku ke pangkuan Soekarno. Cokro bukan figur pengganti ayah yang siap menerima keluh-kesah. Bukan figur ayah yang siap menerima pengaduan anaknya. Bukan pula figur ayah yang menghiburnya di kala sedih. Tapi itu pula yang menjadikan Soekarno akrab dengan literatur  dan banyak literatur lainnya di kemudian hari. 
Begitulah, akhirnya Bung Karno tenggelam dalam lautan bacaan. Sejak usia 15-an tahun, manakala teman-teman sebaya asyik bermain di taman lapang, Soekarno justru sedang belajar. Sementara teman-temannya asyik bersantai, Soekarno justru melalap buku demi buku.
Mulailah Soekarno menemukan “teman-teman” lain dari buku-buku yang dibacanya. “Teman-teman” itu bukan sembarang teman, melainkan tokoh-tokoh besar dunia. Melalui adi pustaka itu pula, jadilah Soekarno merasa berbicara dengan Thomas Jefferson.
Ia seperti mendapat penuturan langsung dari Jefferson mengenai Declaration of Independence yang ditulisnya tahun 1776. Dengan Jefferson pula ia memperbincangkan George Washington. Tak terkecuali, Soekarno pun “bersahabat” dengan Paul Revere. Kemudian Bung Karno mencari-cari kesalahan Abraham Lincoln untuk kemudian dicarikan tanggapannya dari Jefferson.
Begitulah Bung Karno tanpa sadar berlayar mengarungi lautan pustaka, membuat kajian-kajian membuat perbandingan-perbandingan Esensi di dalam buku-buku tadi, kemudian meresap begitu dalam menjadi sebuah penghayatan dan pengetahuan seorang Soekarno.
Maka, sangat aneh kalau ada tudingan yang mengatakan Bung Karno tidak suka Amerika. Dalam penuturannya kepada Cindy Adams di biografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, jelas sekali bahwa semasa muda, Soekarno memuja pahlawan-pahlawan Amerika. Bahkan, Soekarno mencintai rakyat Amerika. Soekarno juga membaca majalah-majalah populer Amerika hingga menjelang akhir hayatnya.
Ada yang kurang dipahami sebagian orang yang menuding Soekarno anti Amerika, sukarno hanya tidak sepakat dengan kosep-konsep yang di jalankan di negri pamansam, sepertihalnya kapitalisne, liberalisme.  Soekarno juga belajar dan mengkaji secara mendalam Gladstone dari Inggris, juga Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris. Bukan hanya itu, Soekarno juga mempelajari Mazzini, Cavour, dan Garibaldi dari Italia.
Berangkat dari kegemaran membaca buku dan belajar dari tokoh-tokoh dunia, Soekarno sangan memahami dan dapat mensarikan kajian tentang Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin dari Rusia. Saat surkarno muda, beliau gemar menuliskan gagasa-gagasan besar seperti buku yang berjudul dibawa bendera revolusi, bahkan saai dia harus mendekam dipenjara, sukarno senantiasa membaca dan menulis, pembelanya dengan judul Indonesia menggugat.
Sebatas itukah pengetahuan Soekarno tentang tokoh-tokoh dunia, Tidak! Soekarno juga”ngobrol” dengan Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis. Kesemua perjalanan tokoh besar tadi, menginspirasi Soekarno pada masa-masa selanjutnya.
Di samping, pelajaran-pelajaran yang ia timba semasa sekolah. Karenanya, ia juga paham sejarah Yunani kuno. Ia menyerap sedalam-dalamnya protes atas segala bentuk penindasan. “Persetan dengan penindasan” pekiknya setiap berpidato tanpa pendengar di kamarnya yang gelap. “Hidup Kemerdekaan!” teriak Bung Karno  di kamar tanpa jendela, di kediaman Cokroaminoto.
Begitulah  secuil kisah tentang Cokroaminoto, salah satu tokoh besar Indonesia, sebagai mahaguru pemimpin besar rivolusi. 
di tulis dari berbagai sumber, serta tulisan dari (roso daras)