Jumlah pengunjung

Senyum Indah Mereka Adalah Anugerah

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 2 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mengabdi Pada Masyarakat

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 4 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mari Bergabung Bersama Kami

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Selamat Datang di BLOG RUMAH BELAJAR PANDAWA

Selasa, 29 November 2011

PERINGATAN HARI IBU



Di kalender hp saya, setiap tgl 22 Desember tertulis: “mother’s day; phone mom”, begitu pula di hari ulang tahunnya, tgl 6 Juni selalu tertulis: “mom birthday; phone her”, di hari idul fitri dan idul adha, selalu ada alarm untuk mengingatkan saya menelepon mimih (salah satu panggilan untuk ibu di keluarga sunda). Sebagai putri tertua yang tinggal jauh di rantau, saya selalu berusaha untuk tetap berbakti kepada orang tua walau hanya sekedar dalam bentuk do’a dan perhatian. Karena diakui atau tidak, ketika seorang anak beranjak dewasa dan memiliki keluarga kecil sendiri, kadang mereka disibukkan dengan keluarga kecilnya dan melupakan sang ibu. Bisa dibayangkan bagaimana nelangsanya seorang ibu yang sudah menghabiskan masa mudanya untuk membesarkan putra-putrinya kemudian di masa tuanya terlupakan begitu saja. Fenomena ini tidak hanya didapatkan di masyarakat Barat saja, bahkan di lingkungan muslim. Ironis banget kan? Bagaimana mungkin seorang muslim durhaka terhadap ibunya? sementara al qur’an dan hadits Nabi menegaskan kewajiban seorang muslim untuk berbakti terhadapnya, bahkan perintahnya digandengkan dengan kewajiban beribadah kepada Allah (QS. An Nisa: 36). Dalam HR. Bukhori Muslim, Rasulullah menjelaskan bahwa seorang ibu lebih berhak atas bakti anaknya, karena pengabdian yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak-anaknya, mulai dari kandungan hingga mereka dewasa (QS. Luqman: 14 & QS. al Ahqaf: 15)

Tidak hanya itu, dalam surat Al Isra: 23, Al qur’an menjelaskan kepada muslim bagaimana cara memperlakukan orang tua: "Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa berbakti kepada orang tua, tidak hanya dilakukan selama mereka berada di dunia, bahkan setelah mereka tiada.  Rasululah pernah ditanya oleh seorang sahabat apakah setelah ortu meninggal kita masih bisa berbuat baik terhadap mereka? Rasulullah menjawab: "yup, dengan mendo'akan mereka, memenuhi janji mereka, dan berbuat baik kepada teman-teman mereka.”

Dari pemaparan di atas, saya yakin, di antara kita tidak ada yang bisa mengingkari bahwa Islam menempatkan orang tua --terlebih ibu-- dalam posisi yang sangat spesial. Sebagaimana saya yakin, di antara kita tidak ada yang bisa mengingkari bahwa tidak semua muslim memperlakukan orang tuanya –terutama ibu—sebagaimana tuntunan al qur’an dan hadits. Kondisi inilah yang membuat Mushthofa Amin dan Ali Amin menggagas hari Ibu di Mesir. Sebagai wartawan senior yang membidani kelahiran harian ahbar el yaum, dua bersaudara ini banyak mendapatkan surat pengaduan dari ibu-ibu pembaca yang mendapatkan perlakuan buruk dari putra-putrinya. Dimulai dengan tulisan berupa ajakan kepada masyarakat luas untuk memperingati hari ibu di rubrik “fikrah” (ide), yang mendapatkan respon luar biasa dari pembaca, maka ditetapkanlah tanggal 21 Maret –hari pertama musim semi; karena seorang ibu selalu menjadi sumber kebahagiaan dan keceriaan sebagaimana halnya musim semi-- sebagai hari Ibu di Mesir.

Bagaimana dengan di Indonesia? Mengapa hari ibu diperingati tanggal 22 Desember? Jika kita melihat sejarah, asal muasal peringatan hari ibu di tanah air sebenarnya tidak ada kaitanya dengan fungsi ibu dalam keluarga. Sejarah Hari Ibu di Indonesia justru berawal dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Presiden Soekarno, melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Jika melihat sejarahnya, Sebenarnya akan lebih tepat apabila 22 Desember diperingati sebagai hari perjuangan perempuan bukan hari ibu, karena hari ibu memiliki konotasi lain dari misi awal yang digagas oleh kongres perempuan III. Dan inilah yang terjadi sekarang, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu sebagaimana peringatan hari ibu di negara-negara lain di dunia. Karena tulisan ini tidak bermaksud mengkritisi sejarah, saya rasa kita tidak perlu berpanjang lebar dalam hal ini. Yang penting, fenomena yang ada di tanah air sekarang mengatakan bahwa 22 Desember diperingati sebagai hari ibu, dimana para anak disadarkan akan kewajibannya kepada ibu.

Di antara kaum muslim ada yang mencela adanya peringatan hari ibu dan melabelinya dengan perbuatan bid’ah. Berikut beberapa alasan mengapa peringatan hari ibu dikatakan kegiatan bid’ah”

1.        Tidak ada teks agama yang menyinggung adanya hari ibu. Walaupun al qur’an dan hadits banyak menceritakan tentang keutamaan ibu, namun tidak ada satu tekspun yang menetapkan adanya peringatan khusus untuk ibu sebagai apresiasi atas jasanya. Apabila hal ini dianggap perlu, tentu Rasulullah tidak akan melewatkannya.

2.        Apabila terbukti Rasulullah dan para salaf shaleh tidak memperingati hari ibu, maka orang-orang yang sekarang memperingatinya telah mengada-ngada hal baru yang tidak pernah ada dalam agama (bid’ah)

3.        Dengan memperingati hari ibu, berarti kita sudah latah mengikuti perbuatan orang kafir. Padahal Tasyabbuh bilkuffar (ikut-ikutan orang kafir) diharamkan Rasulullah.

Mari kita coba menjawab alasan mereka satu persatu;

1.        Benar, tidak ada teks agama yang menetapkan adanya hari ibu, karenanya hari ibu di berbagai negara Islam berbeda-beda waktunya. Namun sudah dijelaskan di muka bahwa kondisi umat Islam sekarang sudah jauh dari ajaran Islam yang menempatkan ibu sebagai orang yang memiliki hak atas bakti sang anak. Berapa banyak anak yang memperlakukan ibunya seperti babu, atau memperlakukan ibu dengan kasar, baik berupa ucapan atau perbuatan, padahal berkata “uh” saja dicela Al Qur’an. Dalam kondisi seperti ini, umat Islam perlu teguran, perlu diingatkan kembali akan ajaran agamanya. Di sinilah urgensi adanya peringatan hari ibu secara nasional, yang biasanya diwarnai oleh berbagai acara bertema ibu. Semua media pada hari ini mengangkat tema yang sama, tentang jasa ibu terhadap anak dan sebagai kompensasinya adalah hak ibu atas bakti sang anak. Diharapkan peringatan ini menjadi momentum untuk seorang anak melakukan evaluasi dan intropeksi atas perlakuannya terhadap ibu selama ini. Apabila ia telah menjalankan kewajibannya sebagai anak yang berbakti, maka ia patut mempertahankan sikapnya dan mengajak saudaranya untuk berlaku sama. Sebaliknya, apabila selama ini ia lalai menjalankan kewajibannya sebagai seorang anak, maka hari ibu baginya merupakan momentum untuk berubah dan mulai menunjukkan baktinya pada sang ibu. 

2.        Maksud dari Peringatan Hari ibu adalah mengingatkan umat akan kewajiban mereka terhadap ibu sebagaimana digariskan al qur’an dan sunnah. Hal ini merupakan aflikasi dari taushiyah bilhaq. Apakah taushiyah bilhaq merupakan hal yang bid’ah? sementara alquran dengan tegas memuji orang-orang mukmin yang beramal sholeh dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran (QS. Al ‘Ashr)  

3.        Dengan melihat sejarah hari ibu di Mesir dan Indonesia di atas, terbukti bahwa peringatan hari ibu di negara muslim bukan sekedar mengikuti trend Barat. Peringatan hari ibu lahir dari kondisi masing-masing negara bukan karena budaya latah.

Akhirnya, saya kembalikan kepada anda, perlukah hari ibu? Atau ia merupakan bid’ah yang mesti ditinggalkan? Saya pribadi, melihat fenomena kedurhakaan yang merebak di tanah air merasa perlu adanya peringatan hari ibu secara nasional, siapa tahu dengan membaca arikel atau nonton film tentang pengorbanan ibu yang ditayangkan di hari ibu, semangat kita untuk berbakti padanya menjadi bertambah. Selamat hari ibu!

http://irliyana.multiply.com

Rabu, 19 Oktober 2011

Feeding the Nation Through Life Library


The library is an important facility which should be owned by an educational institution starting from the basic level, intermediate level, level up through college must have the support facilities one of which is the library.

Not all people understand the importance of libraries, but library is very useful to support education and improve the quality and the quality of education, to attract sympathy and love to the library community we need to review the existence of the duties and functions of libraries, library services and service strategies, program development and innovation of the library itself as well as library facilities and infrastructure.

In an effort to build a community to love this library there are obstacles that hinder people to think more realistically about the existence of the duties and functions of the library. These obstacles can be overcome by the government and the librarian, because in principle to build a library that places a person's interest in and aptitude for lifelong learning process.

Many of the ease with which we can get by using the facilities and library services, library basically love is the right step for the intellectual life of the nation, not by reading we will be rich and prosper with science and information?


Particularly for schools at the elementary level or elementary school or madrasah MI library or to setinggkat this basis could be termed a reading park facilities should be provided. Since the age of children at primary level is the time pupils / students to begin learning to read from the familiar letters, the alphabet, then strung together into words then become suatau sentence.

So read the park is a facility that is needed to help the child learn to read on, and to foster interest in reading to children early on.

Reading is not just for those people who with thick glasses, smart people, people who perpendidikan, bookish person and so forth. But reading is for everyone, for all people, and for all ages.

Read the Community Garden is actually the same with the Library to the community, dirubahnya its name to Park Read diantaranaya Society is to change the image so that people do not feel afraid to go into this place and would take a book and read it.

Libraries that are exclusive only to those memorable people from middle to upper economic circles so that people from middle to lower economic circles that also requires science reluctant to come to the library

With the rapid development of technology, we must come natural to compensate. So is the library, but the library itself should also be able to adapt to the environment, where "he" does not have to apply the sophistication of the technology yet to be adjusted with konsumenya or pemustakanya. To what a library which is too sophisticated with all computer systems if the consumers are children who drop out of school children and street children of most of them are not familiar with computers.

Reading books for children are also to add insight and knowledge on meraka, because the child has a high sense of curiosity? reading books is one of the factors that are important for intellectual development or to increase knowledge in children.

With the park read in school children can take advantage of their rest time as well as possible to read books that are useful and educating school reading in the park. so that their free time is not wasted in vain. And children have the enthusiasm, motivation and high morale so glad to read in the school library.

Library related to the quality and the quality of education, the more complete and adequate library materials is the increasing knowledge and information, thus the quality and the quality of education is also increasing because of the success of a library is measured from the high and low ability of these libraries in carrying out its function as a center for independent learning activities as well as central information, research and recreation student, could we see a need for information and science to students at the time of the study, they need a variety of information and knowledge to support the research and the process of completing the final task.

If the library has the quality and usability in terms of library materials, the students will improve their academic achievement based on the general and scientific knowledge gained from research with a variety of sources from the library.

With increasing student academic achievement and the quality of education quality also improved, this will all have positive impact for the nation's intelligence.

With love library student, students, teachers / lecturers will increase knowledge and insight, this is the first step to trigger kecerdaan and success of the nation.

* Prabu Ali Airlangga Director Rumah Belajar Pandawa

Senin, 17 Oktober 2011

Impiyan Yang Nyata


Mengentaskan anak-anak miskin dari kebodohan. Mereka berjuang bersama teman-temanya untuk merangkul  anak jalanan (ANJAL) pengemis, pemulung, preman, pekerja sek komersial serta  pedagang asongan  agar mereka mau menitipkan putra-putrinya untuk belajar bersama di Rumah Belajar PANDAWA.
Itulah impian yang ingin diwujudkan oleh lima pemuda. Mereka adalah Mukhammad Makmuri, Mukhammad Ridwan, Abdullah Kafaby, Amar Munawar  serta M. Ali  Shodikin atau biasa dikenal Prabu Ali Airlanga. Selaku generasi muda mereka mempunyai suatu gagasan yakni mendirikan sebuah rumah belajar bagi anak-anak yang tidak mampu.
Mukhammad Ridwan mengatakan. ”Sistem pengajaran yang memuaskan akan menjadi senjata ampuh dalam mengembangkan rumah belajar tersebut.” Hal yang cukup menarik di sini adalah penggunaan modal dan sumber daya manusia yang terbatas (patungan uang pribadi, red). Namun, mampu memberikan pelayanan yang terbaik sebagai salah satu solusi. Maka dengan nama Rumah Belajar PANDAWA (Papan Pendidikan Kawula) yang diresmikan oleh Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si, lima pemuda tersebut dapat terwujud pada Rabu, 18 Mei 2011 di balai RT Desa Lumumba Dalam Gang Buntu RT I/ RW I Kelurahan Ngagel Kecamatan Wonokromo Surabaya.
Karena tekad yang kuat  untuk mengabdikan diri kepada masyarakat dan bangsanya melalui media pendidikan, maka tidak mustahil berdirinya lembaga pendidikan seperti Rumah Belajar PANDAWA adalah salah satu jalan untuk membuka beragam ruang-ruang sosial yang mengolaborasikan semua ragam yang ada.
”Untuk menjalin sebuah kebersamaan dan keanekaragaman perspektif kelompok-kelompok sosial, maka dengan rumah belajar ini mereka  bisa mendapatkan pendidikan yang setara dan berkualitas,” kata Ridwan selaku sekretaris PANDAWA.
Awal berdirinya PANDAWA, kami hanya bermodalkan rumah kontrakan yang dimiliki oleh salah satu warga. Kami memanfaatan rumah yang sengaja kami sewa, lokasi ruang tamu, balai RT yang berada bersebelahan dengan markas PANDAWA, musholah al-Mukhlisin dan taman terbuka di sebrang jembatan kali Jagir sebagai lokasi belajar. Ini bisa dibilang sangat strategis, karena terletak di perkampungan padat penduduk.
Radius tiga kilo meter dari markas PANDAWA, terdapat sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP sampai dengan SMA. Di samping itu lokasi ini berdekatan dengan tempat anak jalanan untuk beroperasi. Dengan kapasitas tempat yang memiliki empat ruangan yang dimanfaatkan sebagai kelas, maka tiap kelas dapat menampung 10-15 siswa. ”Keseluruhan dapat menampung kurang lebih 50 siswa.” Tegas Ridwan.  Dengan fasilitas yang standar,  diharapkan dapat meminimalisir cost dalam variable cost. ”Kami tidak menyediakan fasilitas yang mewah. Tetapi kami menyediakan pengajaran yang berkualitas,” pesan orang nonor dua di PANDAWA.

TANAMKAN AKHLAK DI TEPI REL KERETA API


”Adek-adek sampean mau pulang atau terus di sini? Kalo mau cepat pulang ayo duduk yang rapi dan berdoa dahulu.” Teriak para pengajar kepada murid-muridnya di lokasi Balai Rukun Tetangga Desa Lumumba Dalam RT 01 RW 01 Gang Buntu Kelurahan Ngagel Kecamatan Wonokromo Surabaya.

Anak-anak usia 3-5 tahun yang masih tingkatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta Taman Kanak-Kanak (TK) diasuh oleh lima pengajar yang cukup telaten seperti hanya  Aviania Nailul Iza, Virda, Sundari, Naila Rahmatika, Khotimah. ”Ini adalah pengalaman pertama saya mengajar anak kecil,” kata Naila Rahmatika.
Sedangkan untuk siswa SD-SMP, mereka dibimbing secara bergantian oleh sembilan belas relawan yang siap mengajar tanpa bayaran seperti halnya, Ni’mah, Pipit, Fani Wijayanti, Rizky, M. Ali Shodikin, Muhkhammad Mujahidin, Awan Suarga, Habibi, Abddullah Kafabi, Nisfu, Tri Bagus Wahyudi, Mawan, Ahmad Habibullah, Makmur.
Di rumah belajar PANDAWA ini, para pengajar mendedikasikan ilmunya. ”Saya sangat senang bisa bergabung di lembaga ini. Meski kami tidak dibayar, namun saat melihat murid-murid giat untuk belajar membuat kami ikhlas mengamalkan sedikit ilmu yang kami miliki,” ujar Habibi.
Para siswa di Rumah Belajar PANDAWA tumbuh dalam lingkungan sosial budaya yang minus di perkampungan di tepi rel kereta api, berdekatan dengan pasar tradisiolal dan stasiun Wonokromo, Surabaya. Banyak dari mereka yang kerap menyaksikan ayah ibunya serta saudaranya bahkan tetangganya bertengkar. Ancaman, umpatan, dan sumpah serapah pun sudah tak asing bagi mereka. ”Tidaklah heran jika anak-anak hafal nama-nama binatang (yang dijadikan umpatan, red) dan organ vital meskipun belum tentu mereka melihat bentuknya,” ungkap Khotimah pengajar pendidikan anak TK di PANDAWA.
Senada dengan Aviania Nailul Iza, ia mempunyai pemikiran tentang pola asuh anak usia dini. Di masa pertumbuhan anak-anak selalu aktif untuk bertanya tentang hal-hal yang belum mereka ketahui. Di samping itu, mereka adalah peniru segala sesuatu yang didengar maupun yang dilihatnya. Tambah Vina, penanggung jawab pendidikan anak PAUD dan TK di Rumah Belajar PANDAWA ”Mengasuh anak usia dini memang tidaklah mudah. Di masa pertumbuhan, mereka aktif untuk bertanya hal-hal yang belum mereka ketahui.”
Kadang mereka bercerita pada kami tentang apa yang mereka saksikan setiap harinya. Seperti halnya tetangganya yang sepat dikejar-kejar polisi lantaran kasus kriminalitas. Kondisi lingkunggan yang begitu dekat dengan tempat esek-esek (baca: prostitusi) di kawasan sebelah kali Jagir berdekatan dengan bendungan kali, ditambah dengan kebiasaan mabuk-mabukkan bahkan berjudi. “Kita sebagai guru pengajar cukup miris dengan cerita-cerita meraka. Untuk itu kita membekali para urut dengan tanamkan akhlak serta budi pekerti,” tegas Vina.

Apa itu PANDAWA (Papan Pendidikan Kawula)


PANDAWA (Papan Pendidikan Kawula) adalah sebuah lembaga yang tercipta dari rasa semangat serta kesadaran generasi muda. Mereka ingin mengabdikan diri kepada masyarakat dan bangsanya melalui media pendidikan. Pada tanggal 18 Mei 2011 Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si selaku dewan pembimbing PANDAWA, meresmikan lembaga ini. Pendiri PANDAWA ada lima pemuda mereka adalah Prabu Ali Airlangga , Mohamad Ridwan, Mukhamad Makmur, Abdullah Kafabih, Amar Munawar. Sedangkan jajaran dewan pembina dan bembimbing diantaranya Bpak Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si, Drs. Abd. Halim M.Ag. Dr. Fatmah, ST, MM. Bapak Dr. H, Sam'un. M.Ag, Ibu Siti Rumilah, M.Pd.
Terbentuknya lembaga seperti PANDAWA adalah salah satu jalan untuk membuka beragam ruang-ruang sosial. Dengan mengolaborasikan semua ragam yang ada untuk menjadi sebuah kebersamaan. Serta keanekaragaman perspektif kelompok-kelompok sosial. Untuk mendapatkan pendidikan yang setara dan berkualitas. Misi dari rumah belajar pandawa adalah Menjadi Partner Pendidikan Berkualitas Untuk Masyarakat
Untuk meminimalisir kondisi semacam itu, maka kami selaku mahasiswa, alumni  IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kami berusaha memberikan Problem Solvingnya melalui kegiatan pendidikan kepada semua lapisan masyarakat, dalam rangka mensukseskan amanat Undang-undang dasar 1945. Untuk itu kami lebih fokus sebagai suatu lembaga yang menjadi patner belajar bagi anak-anak yang kurang mampu terutama untuk semua anak negri.
Selain dari pada itu, kami juga membuat suatu lembaga pengembangan keterampilan  jurnalistik yang fokus menyoroti kehidupan anak-anak jalanan, dunia pendidikan, sosial budaya masayarakat, pengembagan kreatifitas anak binakan, serta kajian-kajian ilmia.Untuk mewadai niatan tersebuat maka kami mendirikan lembaga Pers dengan nama PANDAWA Kalimasada. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat, para birokrat, beberapa donatur, tentang suara hati mereka yang selama ini kurang didengarkan.


Kita Butuh Belajar

Pembaca yang dirahmati Allah,
Pada edisi perdana ini patutnya kami memperkenalkan diri kepda para bembaca, agar kita bisa lebih dekata. Sesuai dengan namanaya, media PANDAWA Kalimasada, merupakan wadah menuangkan gagasan kreatifitas tentang kehidupan anak jalanan serta masyarakat miskin kota. Media ini menjadi tempat berdialog suara-suara hati masarakat marjinal. Namun  media PANDAWA Kalimasada berusaha memberikan sajian dengan gaya penulisan ‘feature’. Ketajaman analisa di berbagai disiplin ilmu jurnalis adalah pedoman kita. Maka media ini diharapkan mampu sebagai media satu-satunya yang ada di Jawa Timur.
Dengan gaya pemberitaan yang segar dan original denag durasi terbit satu bulan sekali, ditambah akurasi investigasi yang mendalam, mengantarkan media PANDAWA Kalimasada menjadi bagian yang dinanti-nanti oleh masarakat jawatimur. Karena kami yakin pangsa pasar media yang lain tidak akan menyoroti fenomena tersebut.
Pada edisi pertama ini kami menyajikan dua rubrik utama. Yakni rubrik jendelah pandawa dan juga lembar utama. Untuk rubrik jendela pandawa kami mengangat tema tentang proses pembelajaran di rumah belajar PANDAWA. Di lembaga ini berusaha menanamkan pendidikan akhlaq kepada semua murid-muridnya. Pola pendidikan pada anak, bukan saja supaya berhasil dengan nilai bagus, mendapat juara akan tetapi dibarengi dengan pola yang benar. Apa artinya tropy kejuaraan berjejer di ruang tamu kalau akhirnya tidak sukses hidup karena dia anak pandai tapi kuper (kurang pergaulan). Rata-rata mereka yang berhasil bukan yang bisa menulis halus dengan tata bahasa yang benar, tetapi yang berani berbicara. Mereka dibekli pendikan moral karena, kondisi lingkungan tempat belajar mengajar berada di lokasi yang minus.
Sedangkan untuk rubrik Lembar Utama, kami memberitakan semangat anak-anak pengamen jalana yang terus belajar meski ditenga kesibukan mereka mencari tambahan uang makan untuk keluraganya. Walaupu mereka tidak pernah mengeri tentan hadis yang disampaikan oleh rosululah “Janganlah kamu menutut ilmu untuk saling membanggakan diri di hadapan para ulama’, mendebat orang-orang bodoh, dan menyombongkan diri di depan majlis, karena siapa yang melakukannya hendaknya ia berhati-hati dengan api neraka” (HR. Ibnu Majah) Namun paranak-anak pengamen memahami tentang pentingnya pendidikan, karena kita butuh belajar.
Untuk lebih lengkapnya silakan para pembaca, untuk mengetahui lebih lanjut tentang sajian diatas. Dua menu utama yang kami sajikan, mudah-mudahan bisa menjadi penyemangatserta tambahan informasi untuk kita semua. …… selamat membaca

Semua anak ingin sekolah



Cuaca panas sedang mendera kota surabaya, dan dibawah cahaya matahari yang garang itu para manusia berjibaku dengan kesibukannya. Pemandangan berupa motor dan mobil melaju diatas aspal tampak begitu lumrah, lalu lalang mereka seolah mengabaikan pejalan kaki yang berjalan melawan debu dan teriknya matahari.
Diantara pejalan kaki itu terdapat sepasang pengamen kecil berjalan sayu sambil membawa kicrik kecil dari tutup botol yang dipaku pada sebatang kayu kecil. Mereka menghampiri satu persatu rumah di sepanjang jalan ketintang madya dengan kaki telanjang tanpa alas. Padahal aspal dan tanah yang ada dijalan itu tentu panas karena terpanggang matahari.
Pengamen bertubuh mungil itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki umurnya kira-kira sembilan tahun sedang pengamen perempuan yang bertubuh lebih kecil itu umurnya kira-kira tujuh tahun.
Mengamen untuk sekolah
Ketika laskar kalimasada menemui mereka di daerah ketintang madya, siang telah sampai puncaknya. Angin yang panas juga ikut menyamarkan suara adzan dzuhur hingga terdengar sayup-sayup. Dan sesekali menggugurkan daun kering dari dahanya. Wajah dua pengamen cilik itu tampak kumuh dan kotor oleh debu yang dilayangkan oleh hempasan kendaraan yang lalu lalang.
namaku Imam dan ini adiku Nur” ungkap imam salah satu pengamen dari sepasang pengamen tersebut saat ditanya nama mereka. Anak lelaki berkulit kecoklatan dan agak gemuk tersebut menambahakan bahwa biasanya mereka berangkat pukul delapan pagi dan pulang pukul dua siang. Dan ketika ditanya apakah mereka masih sekolah, ternyata pengamen dua bersaudara itu juga masih duduk sekolah.
kami masih sekolah mas, aku (Nur red) kelas dua, terus mas imam kelas empat” terang nur adik dari imam yang tubuhnya lebih kecil dan kurus dibanding imam, sambil sesekali membenahkan rambutnya yang kemerahan karena terbakar matahari nur juga menjelaskan jika mereka sekolah di SDN Ngagel 2.
jadi biasanya kalau pas sekolah berangkatnya pukul dua siang sehabis sekolah dan pulangnya pukul tujuh malam” imam dengan semangat menjelaskan aktifitasnya. Karena hasil mengamen mereka digunakan untuk menambah biaya sekolah.
Selanjutnya sepasang pengamen cilik itu kemudian melanjutkan aktivitas mereka mengamen, kaki telanjang mereka juga masih lincah menapaki jalan yang panas, dengan topi yang sebenarnya kurang sedap dipandang itu mereka menghampiri satu persatu rumah dan pertokoan yang ada. Sesekali mereka menerima recehan oleh empunya rumah maupun pemilik toko, namun sering kali mereka dikecewakan karena mereka diacuhkan setelah lama suaranya menyanyikan lagu dengan suara ala kadarnya, atau mereka ditolak mentah-mentah dengan berbagai alasan.
ada yang ngomong dagangan belum laku, ndak punya receh atau banyak alasan lain” terangnya. Tapi itu tidak menyurutkan langkahnya untuk menjual suara karena masih banyak pintu yang diharapakan berkenan menyisihkan rezekinya. Atau mungkin mempunyai rasa iba terhadap mereka hingga sedikit recehan di berikannya.
Ingin sekolah lagi
Di hari kedua laskar kalimasada menemui Nur adik dari imam di taman PANDAWA, di jalan raya ngagel tepi kali jagir. Namun saat itu Nur tidak sedang mengamen. Di taman rindang dengan pohon-pohon besar dan beberapa jenis tumbuhan itu rupanya Nur sedang menunggu imam kakanya yang masih ngamen.
ngenteni mas imam ngamen” terang nur sambil bermain dengan sepeda mininya, dan di taman itu Nur tidak sendirian. Dia ditemani oleh seorang gadis kecil, gadis kecil itu adalah temannya. Namanya adalah…. Meskipun dia bukan pengamen, ternyata dia sudah tidak sekolah lagi tahun ajaran baru ini. Dia tidak sekolah lagi karena sudah kesekian kalinya mendapat surat peringatan.
Surat peringatan tersebut diberikan oleh pihak sekolah karena dia sering telat berangkat ke sekolah. Jarak yang jauh antara rumah dengan sekolah di SD……, tidak dimaklumi oleh pihak sekolah. Sehingga karena tekanan psikologis tersebut dia jadi enggan melanjutkan sekolah. Padahal keinginan untuk sekolahnya sangat tinggi. Karena tiap hari dia telah berusaha menempuh jarak yang cukup jauh untuk anak seumuran dia.
aku sering diseneni guru, Soale aku sering telat sekolah”
Memang jalan yang ditempuh gadis itu tidak sejauh oleh Lintang, salah satu tokoh dalam laskar pelangi yang menempuh jarak beberapa kilometer untuk berangkat sekolah. Namun kiranya motivasi para guru sangat penting guna meningkatkan semangat siswa untuk tetap giat belajar.
Ketika matahari mulai bergeser jauh dari istiwa’, imam akhirnya tiba dari ngamen. Seperti biasa imam datang dengan senyum kasnya. Kulitnya yang hitam juga tampak lusuh oleh debu jalanan.
nyari siapa mas?” sapa dia pada laskar kalimasada dan kemudian meraih sepeda yang dibawa adiknya. Dia juga menerangkan kalau hari ini nur tidak ikut ngamen karena masih sakit. Rupanya teriknya hari kemarin membuat kondisi kesehatan gadis cilik itu menurun. Tapi sebenarnya pagi itu nur ingin ikut ngamen, namun ditolak oleh imam karena mengkhawatirkan kondisi kesehatannya.
saya akan terus ngamen, supaya bisa terus sekolah”
Tambah imam sbelum akhirnya berlalu dengan sepeda mini sambil menggonceng adiknya. Ternyata semangat untuk belajar dan tetap sekolah anak kecil yang sudah biasa dengan kehidupan jalanan itu cukup tinggi. Sehingga masyarakat perlu tahu bahwa masih ada naka anak jalanan yang punya cita cita dan ingin mewujudkan melalui bangku sekolah. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama antara masyarakat dan pemerintah.
* Prabu Ali Airlangga


Ajarkan Kejujuran Pada Anak


Masih ingat dengan seorang ibu rumah tangga biasa namun memiliki keberanian luar biasa membeberkan praktek kecurangan dalam ujian nasional yang terjadi di sekolah tempat anaknya menimba ilmu? Peristiwa yang sempat menghebohkan Indonesia beberapa waktu lalu ini praktis menjadi peristiwa langka di sebuah negeri yang masih banyak dihiasi praktek-praktek kebohongan ini.

Ya.. dialah Ibu Siami. Seorang ibu yang begitu getol mengajarkan kejujuran kepada anak-anaknya. Menurut istri Bpk. Widodo ini, sebagai orang tua jika menghendaki anaknya menjadi manusia yang berakhlak mulia maka hidup dengan prinsip kejujuran adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena orang tua merupakan figur yang menjadi teladan bagi anak-anaknya maka setiap perkataan, perbuatan, serta kebiasaan orang tua pasti akan selalu di amati dan ditiru oleh anak. Jadi jika menghendaki anak jujur, maka orang tua harus melakukannya terlebih dahulu.
Menanamkan kejujuran harus dimulai sejak kecil sebagai jalan untuk menjadikan anaknya sukses dunia akhirat. Seperti sabda Nabi Muhammad, “Berbuat jujurlah, sungguh kejujuran itu merupakan sarana untuk dapat masuk surga”. (H.R. Mutafaqun Alaih). Sehingga konsekwensi berat dari memegang prinsip ini misalnya dari pengalaman beliau yang hingga dikucilkan oleh orang-orang dekatnya dan diusir dari tempat tinggalnya, menjadi sesuatu yang yang harus dapat dijalani dengan ikhlas.
Kejujuran, kasih sayang, perhatian dan tanggung jawab itu selain beliau contohkan sendiri juga dilakukan dengan membekali anak-anak beliau dengan ilmu agama yang kuat. Sehingga meski putra putrinya tidak di titipkan di pondok pesantren akan tetapi pendidikan moral dan agama menjadi nomor satu bagi keluarga ini.
Kasih sayang dan perhatian orang tua memang tidak pernah luput untuk kedua anaknya. Misalnya demi menghadapi ujian akhir nasional, jauh-jauh hari Ibu Siami beserta suami telah mempersiapkan diri. Untuk mencapai target maksimal, Suami beliau yaitu Bpk. Widodo bahkan rela mengambil cuti kerja hanya untuk membimbing dan mengajari putranya.
Kondisi orang tuanya yang rela untuk cuti demi memberikan perhatian yang lebih pada anak-anaknya itu menjadikan sang anak lebih semangat belajar. Pada bulan-bulan mendekati ujian, mereka sekeluarga melakukan ikhtiar dengan puasa sunnah serta munajat pada sang khaliq. Dan Alifa’ yang masih kecilpun juga diajak mengikuti puasa walaupun ujian sedang berlangsung.
Dari ikhtiar berupa kerja keras sang anak, perhatian orang tua dan ikhtiar dengan do’a itu ternyata membuahkan hasil. Alifa’ menjadi anak yang diberi kemudahan Allah dalam belajarnya. Ia tergolong sebagai siswa yang cukup pandai di sekolahnya. Namun justru itulah yang menjadi ujian bagi keluarga Ibu Siami.
Karena kepandaiannya, saat ujian akhir nasional, Alifa’ justru diperintah oleh gurunya memberikan contekan kepada teman-temannya agar teman-temannya yang lain juga lulus dengan nilai yang bagus. Sehingga walaupun sebenarnya keberatan atas perintah gurunya, namun Alifa’ memenuhi perintah itu. Di akhir ujian Alifa’ di bayang-bayangi rasa takut dan penyesalan.
“Sepulang ujian, Alif bercerita kepada saya dan suami tentang kejadian itu. Saya sempat kecewa dan marah terhadap Alifa’ karena dia sudah tidak jujur, meskipun itu dilakukan demi memajukan prestasi sekolah. Namun saya menyadari ia hanya korban. Kekecewaan terbesar saya justru kepada oknum guru yang memaksa anak sekecil itu melakukan kecurangan demi ambisi yang tidak mendidik.” ujar Ibu Siami.
Kekhawatiran tentang masa depan akhlak sang anak mulai menghantui beliau sehingga tindakan harus segera diambil. “Perbuatan ini jelas tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dengan perjuangan berat kami di keluarga mendidik anak tentang tanggung jawab dan membiasakan berbuat jujur, kok di sekolahnya malah dirusak dengan diajari berbuat curang.” ungkap beliau kepada Majalah NH dengan isak tangis penuh kekecewaan.
“Sebagai orang tua kita pasti menginginkan anak kita menjadi manusia yang berprestasi namun bukan berarti dengan mengajari mereka cara-cara yang curang,” tambahnya dengan linangan air mata yang terus mengalir.
Atas kerja keras dan ikhtiar seluruh keluarganya, akhirnya Alifa’ Achmad Maulana berhasil mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya. Tawaran beasiswa untuk jenjang sekolah menengah pertama pun terus berdatangan meski tawaran tersebut tidak serta merta mereka ambil.
Meski bersedih karena berbagai peristiwa yang dialami oleh keluarga beliau, semua itu sedikit terobati dengan keberhasilan anaknya meraih prestasi Insya Allah dengan keridhaan Allah. Tidak dengan cara-cara yang justru akan menjerumuskan anaknya. “Hal itu yang membuat kami bangga,” jelasnya dengan sedikit berulas senyum.
Menutup perbincangan dengan Majalah NH beliau berpesan “Peristiwa contek masal pada saat ujian bisa terjadi pada siapa saja. Seandainya anak melanggar maka anak juga harus di hukum dengan hukuman yang mendidik. Karena itu semua demi masa depan dirinya.”
Ibu Siami memberi inspirasi pada kita, demi masa depan anak-anak kita, berikan dan bentengi mereka dengan akhlak yang baik, meski konsekwensi yang dihadapi tidak ringan. Karena itulah jalan mencapai keridhoan Allah.
* oleh Prabu Ali Airlangga