Atas dukungan dari semua pihak, kami dari RB Pandawa akan meresmikan Perputtakan Mandiri pada : Hari : Selasa Tanggal : 2 April 2013 Pukul : 16.00 Wib Temapat Balai RT1 kampung, lumumba dalam gang buntu RT 1 RW 1 Ngagel Wonokromo Surabaya
Semoga apa yang kami baktikan untuk generasi bangsa sesuai dengan sepirit moto kami. ( Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami )
Gotong Royong adalah budaya tradisional Indonesia yang telah di akui
dunia. Gotong Royong mengandung arti saling membantu, demi kebahagiaan
dan kerukunan hidup bermasyarakat.
Ir Soekarno bahkan pernah
menyakini Indonesia dapat menjadi negara yang kuat dan berprinsip dengan
menganut nilai nilai tradisinya sendiri yaitu kehidupan bergotong
royong. Hal ini dibuktikan dengan idenya untuk menyatukan nilai-nilai
yang terkandung dalam 5 butir Pancasila, menjadi satu dan dinamakan
Gotong Royong. Namun, seiring dengan pergantian rezim kekuasaan dari
Orde Lama ke Orde Baru, nilai luhur Gotong Royong yang dianggap seperti
ajaran sosialis semakin dipudarkan dari kehidupan bermasyarakat.
Info RB Pandawa Dibulan ini kami mendapat bantuan buku-buku dari Pondok baca & Lotary club surabaya timur, guna pengembangan perpustakaan Pandawa. untuk itu kami dibulan ini mempunyai program, perawatan serta renofasi Balai RT yang kami gunakan sebagai lokasi belajar, perpustakaan, TPQ,
Mari kita ber GOTONG ROYONG demi suksesnya progam ini. adapun kebutuhannya : Luas balai RT 10x4 meter 1. Rencanaya mau kita lantai keramik (agar belajar, bisa lebih nyaman) 2. Halaman mau kita kasi taman (agar tidak terlihat kumuh) 3. Dinding balai akan kita kasih gambar, lukis 4. Perpustakan, membutuhkan Rak baru, buku, dan mainan 5. Lipas angin gantung. (karena kondili dalam ruangan sangat panas)
Catatan Info : ----------------------------------------------------------------- Bantuan bisa diberikan berupa: (kipas angin, rak buku, bubu-buku, mainan anak-anak, pasir, semen, keramik, batu bata, cat, ongkos tukang,atau trasfer di rekening lembaga kami.)
Bank BTN 00064-01-61-001188-1 (atas nama qq. rumah belajar pandawa)
Bank Jatim 0017204246 (atas nama qq. rumah belajar pandawa)
Alamat : Rumah Belajar PANDAWA RT 01 RW 01 desa
Lumumba Dalam kel. Ngagel Kcm. Wonokromo Surabaya
-Tlp/Sms : 085852456350
-Email : pandawa_ilmukawula@yahoo.com
“Dari hasil evaluasi, buku telah
dikalahkan media elektronik. Hasil survei wilayah Jawa Timur, kurang dari 50 %,
atau hanya ada 20 % minat membaca.” Kalimat itu tegas keluar dari mulut Sugeng
Nuharianto, pengawas dan pembina petugas TBM (taman baca masyarakat, red.)
wilayah Surabaya.
Sugeng menuturkan jika pemerintah
tengah menggalakkan pendirian seribu TBM hingga tahun 2015 nanti. “Hal itu ada
di peraturan daerah (perda) No. 5 tahun 2009. Sejauh ini memang belum ada
penegasan dari pemerintah, tapi rencananya tahun 2012 nanti akan ditegakkan,”
tambahnya.
Rumah belajar Pandawa yang
bertempat di tepi rel kereta api, kecamatan Wonokromo, juga telah satu minggu
ini mendirikan perpustakaan mandiri. “Peraturan pemerintah menyebutkan dalam
satu RW itu hanya ada satu TBM, sedangkan RW kami ada sepuluh RT, nggak mungkin
anak-anak sini mau baca ke RT 10, kan jauh,” ujar M. Ali Shodikin, pendiri
Rumah belajar Pandawa, ketika ditanya alasan mendirikan perpustakaan mandiri.
Tujuan didirikannya rumah belajar
Pandawa sendiri adalah pengabdian Ali dan keempat temannya, mahasiswa IAIN
Sunan Ampel, kepada masyarakat dengan mengamalkan ilmu, pembelajaran anak-anak
kurang mampu, dan juga memodali mereka dengan keterampilan. Ali dan kawan kawan
juga telah melakukan survei di beberapa lokasi di kota Surabaya, sebelum
memutuskan lokasi tetap rumah belajar ini.
“ Menurut kami desa ini pantas
untuk mendapatkannya. Lokasi yang minus karena lingkungan warganya yang bekerja
sebagai PSK (pekerja seks komersial, red.), pemulung, dan pencuri. Anak kecilpun
mengamen, banyak anak yatim, juga fakir miskin,” papar mahasiswa jurusan Hukum
Islam tersebut.
Terkait perpustakaan mandiri yang
telah didirikan, karena dalam satu RW hanya ada satu TBM, Sugeng pun
menanggapi, “Sebenarnya kami tidak membatasi TBM itu harus di balai RW,namun karena yang mengajukan adalah RW dan
rekomendasi RW,masalah penempatan itu
menjadi kekuasaan RW.”
Pria yang pernah menjabat sebagai
lurah ini juga menegaskan jika ia menghendaki TBM itu ada di lokasi rumah
belajar Pandawa, karena lebih membutuhkan. “Dari hasil evaluasi kami, jika
diletakkan di balai RW yang ada di RT 10 itu targetnya kurang, namun karena mas
Ali bergeming dengan pak RWnya yang ‘kaku’, saya sendiri juga nggak bisa,”
imbuhnya.
Hal berbeda dilontarkan
Sulistyawati, istri ketua RW 1 kelurahan Ngagel, kecamatan Wonokromo. “Awalnya
memang di balai RW, namun sekarang setiap bulan bergantian di setiap RT,
dibalai RT,” ungkapnya ketika dikonfirmasi perihal lokasi TBM ini. Ia juga
memaparkan jika pengunjung TBM per harinya jauh lebih banyak di setiap balai
RT, daripada dipusatkan dibalai RW.
Rumah belajar Pandawa sendiri
telah memiliki empat puluh orang murid, yang juga pengunjung tetap perpustakaan
mandirinya. Namun diantara banyak anak-anak yang mengaku senang menimba ilmu
disana.
Aklhirnya pada akhir tahun 2012 perpustakan
kota Surabaya memberikan solusi agar dilokasi Rumah belajar Pandawa yang
bertempat di tepi rel kereta api, diberikan fasilias seperti hanya TBM ditempat
yang lain. Namun sangat disayangkan sekarang adanya kebijakan setiap TBM yang
bertempat di tepi rel kereta api harus dipindah, dikarenakan akan adanya
penggusuran. Padahal disisih lain minat baca anak-anak sudah banyak.
Untuk itu Rumah belajar Pandawa,
setiap akhir pakan mengajak murid untuk berwisata pendidikan berkunjung ke perpustakaan
milik Bank Indonesia yang terbuka untuk umum ini menempati Gedung Mayangkara
Jalan Mayangkara 6 Surabaya.
Adolescence adalaha future psychological development of the child to be a
child who was growing up, commonly known by the transition from the extended to
the children become adults. These periods usually despise teenagers imitate the
style or stile admired so greatly needed in this guidance from parents to
teenagers not one style that can make the order for his future.
But mostly people do not know the parents in educating their teenagers do not
know what possessed her talent that her talent was terkandas the fault of the
parents. By him it was following a few mistakes parents in educating their
teenagers:
1. Wrong perception
Often parents instilled a false perception about yourself also in the
perception of self keberhargaan their children either consciously attau not aware
of its influence psychological growth of children. When parents teach a wrong
perception to the child, that's when the real parents were planting mines
psychological minefield that can explode at any time.
Wrong perception as if that is frequently and unwittingly parents do to their
children ..? A small example, many parents who force their children to be good
at everything. It is a source of pride and self keberhargaan for parents if
their children have above average achievement friends other friends.
Parents often think poorly of the boys who express negative emotions, parents
often ask their children not to make mistakes even by parents asking for help
is wrong and shameful.
Like a time bomb, a child not only needs attention, praise and reprimands. The
balance of it will make the child feel loved and be loved. But unfortunately
because of busy jobs and routines many parents let their children grow up by
itself so that when problems arise then the parents are busy trying to be a
good parent or bijaksanana.
Busyness parents sometimes make them no time for their children, there is no
time to accompany learning, even when there was no longer joking. Even
sometimes forget to appreciate her achievement, only when children make
mistakes, parents busy paying attention and wise ass.
2. Not Consistent
Trap is a common problem when the parents are no longer consistent in
parenting. Parents have berbgai kinds of reasons to justify his inconsistency
against children. Whatever the reason, the lack of variation prolem konsintenan
can enlarge the behavior of their children. Then came the question of questions
at me, "Which is better children grow up in a family of authoritarian or
permissive ...? Actually the most important is the existence of rules that can
be predicted and consistent.
3. Closed communication
Communication is the thing or the most important factor in caring for and
educating their children. If children think that they can talk to their parents
about their feelings and their lives, if they succeed or fail when it could and
was able to communicate openly to their parents, so they would be owned and
cared for. So that the children will feel meaningful to themselves also their
parents.
4. Problem solver
Many children and adolescents is now a member of the generation confused, if
you want to trace the background of their care, it is usually found that their
parents were mostly serves as a problem solver for their children. As a result,
their children had over-provided and life becomes passive. So what are the
reasons parents become problem solver ..? Classic reason is parents want their
children happy, the parents do not want their children to experience problems
in her life.
5. There is no example
Often parents use the techniques in building and educating young children with
a way to rule, ask their children to do what he says, but it is equally
important example exert a very strong and positive. Children need to be an
example, and not by orders. A small example, many parents hope their children
smarter, then the parents instruct their children to learn any and all costs. Maybe
by example and take her learning will be different, because the acceptance of
child shall be felt herself diperhatiakan parents.
6. Select the time to play with the children
As an adult, sometimes parents forget how to be a child. Many parents are
caught up in the bustle of day to day to make a living and pay the mortgage,
but many parents forget that children also need to play. Children need to
fantasize and develop their creativity. Do not borrow children with a wide
range of tutoring throughout the week. His intentions are good but not
necessarily the way he's right, sometimes undesirable tutoring children do not
solve the problems it has created more problems for the child.
Sources http://www.duniaremaja.net
Hari itu hari senin pukul 18.00, desir
angin yang menyibak dahan pepohonan di taman beradu dengan raungan
knalpot kendaraan bermotor yang memadati jalan Ngagel, Wonokromo. Dibawah
rindangnya pohon taman yang menghantarkan lembar-demi lembar daun kering
terhempas direrumputan taman, terdapat sekumpulan bocah-boca yang sedang asik
dengan beragam aktivitas belajar bersama di taman.
Diantara penerangan seadanya mereka
bergerumul menghadap beberapa papan tulis dengan coretan-coretan. Mereka adalah
relawan bersama murid-murid Rumah Belajar Pandawa. Relawan yang merupakan
mahasiswi Universitas Katolik Widia Mandala atau biasa di singkat UWM
yang terdiri dari Mia Dwi Retno, Aprelia Caroline, Brenda Silviani,
Fatmala Fatmawati, Yosefina Silvia Daru, Rana Keera, Novita Jalasari,
Rika Kumalasari, kritina atau biasa disapa Beta.
Salah satu program yang dibawa oleh
relawan ini adalah misi pendidikan pancasila, mula dari belajar kebinekaan,
persatuan Indonesia, dan lain sebagainya. Mengabdi kepada masyarakat dan ikut
merasakan bagaimana kehidupan sesama merupakan salah satu dari upaya
mengaplikasikan sila kedua yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradap,
karena diharapkan kegitan tersebut dapat menyentuh sisi humanis atau
kemanusiaan kita.
“Saya tidak menyangka jika mereka begitu
kuat, sekalipun mereka tak bersama orang tua mereka bahkan diantara mereka
sesungguhnya tidak tahu siapa orang tua mereka sebenarnya. Jika saya yang
mengalami, saya tidak tahu gimana?” ujar Rana mahasiswa asal NTT salah satu
relawan yang kagum dengan semangat anak-anak rumah belajar pandawa.
“Lebih hebatnya lagi mereka tidak pernah
menyalahkan keadaan, tidak menyalahkan orang tua mereka padahal saya sering
ngerasa kurang dengan kasih sayang orang tuaku yang sekarang aku sadari tiada
kurangnya” imbunya sambil tersenyum malu. Air mata itu meluncur deras
Sebab sebelumnya ia mendengar beberapa curhatan langsung dari anak-anak
tentang latar belakang kehidupan yang mereka jalani setiap hari.
Sedihnya Perpisahan
“kaka jangan pergi
kami tidak akan nakal lagi, kami semua akan serius belajar……” teriak tangis
murid Pandawa kepada para relawan pengajar, saat mengucapkan salam perpisahan.
Tidak disangka, malam perpisahan
yang harus dijalani terasa sangat berat, akibatnya tak terasa air mata
menetes dari puluhan pasang mata itu. Deraiannya merambati pipi, kilaunnya
terbias cahaya lampu yang menembus rerimbunan daun dan rupanya juga telah
menembus dihati mereka.
Hari-hari yang telah dialalui bersama
rupanya telah menorehkan selaksa kenangan yang tak mudah dihapuskan, bahkan
oleh air mata perpisahan sekalipun. Memang saat perpisahan tadi suasana sangat mengharukan,
anak anak menangis para relawan juga ikut mengangis.
Maka untuk menceriakan suasana
mereka menghibur diri dengan beragam kegiatan lucu. mulai dari tari ayam “Chiken
Dance” yang dilakoni oleh para murid –murid Pandawa. Hingga hiburan berupa
tarian paling fenomenal saat ini “Gangnam Style”yang dipersembahkan oleh
para relawan.
Akan tetapi, aura perpisahan yang
mengharu biru tidak juga bias terhapuskan, bahkan oleh berisik raungan
kendaraan bermotor yang merayapi jembatan Bosem wonorejo “jagir”. “saya
nggak menyangka, ketika kami bilang besok gak akan datang kesini lagi, seketika
airmata meleleh di kedua belah pipi mereka”, terang Brenda yang juga menehan
airmata.
“Meskipun waktunya singkat, akan tetapi
begitu banyak pelajaran yang telah kami dapatkan. Di Rumah Belajar Pandawa saya
mulai belajar besyukur, atas segala nikmat yang diberikan Allah, ampuni tuhan
saya yang jarang bersyukur” sesal Caroline akibat kekilafannya, kini ia bias
melihat ternyata banyak anak yang jauh tidak seberuntung kita. Hidup tanpa
kasih sayang orang tua, menyambung hidup dijalanan, bahkan ada yang
terbiasa melihat orang tua mereka terjebak lembah hitam pelacuran.
“Kami tak menyangka, mungkin tanpa adanya
Pandawa, mereka akan menjadi 11-12 dari orang tuanya, jika orang tunya kasar
dalam mendidik pasti kelak mereka akan melakukan yang sama” tambah Rana Keera.
“Jadinya saya melihat rumah belajar pandawa bukan hanya member pelajaran berupa
materi tapi juga pelajaran moral yang amat berharga bagi mereka kedepan” terang
Mia menambahkan ungkapan Rana Keera salah satu relawan yang berasal dari Nusa
Tenggara Timur.
Sebingkis Kenangan
Kini para mahasiswi Relawan dari
Universitas Widya Mandala telah purna tugasnya, tunai sudah pengabdian di
Rumah Belajar Pandawa dalam membimbing anak-anak yang butuh bimbingan dan kasih
sayang. Tapi seberapa jauh mereka menghilang dari selingkar pandangan
mata, tapi mereka dan jasa mereka akan selalu terbingkai dihati mereka.
“Kenapa mereka cuma ngajar sebentar,
padahal aku sudah mulai sayang” keluh vista dan yola,. Sambil memegang
bingkisan berupa buku dari relawan ia mengenang saat-saat beberapa jam yang
mereka lalui sebelumnya.
Rupanya benar kata sebuah syair lagu yang
pernah dilantunkan oleh grup band asal jogja, Letto. Bahwa “rasa kehilangan
hanya akan ada jika kita pernah memilikinya”. Dan bukankah sejatinya kita
saling memiliki? Memiliki rasa cinta yang sama, memiliki kasih sayang yang
sama, dan memiliki Rumah Belajar Pandawa bersama.
Diahir perpisahan malam itu, ketika
mereka semua bersedih , kami membisiki dan meyakinkan mereka satu hal, “kalian
orang yang kuat,” kakak yakin kelak adek-adek ijka treus belajar dan berusaha
dengan serius maka kalian menjadai orang yang sukses, persembahkan prestasi
kalian untuk kebanggaan orang tua kita” [] Awan.
Kondisi pendidikan formal saat ini memang sangat memprihatinkan, apalagi hampir satu decade ini pendidikan pancasila direduksi dari kurikulum pendidikan anak-anak. Akibatnya anak-anak menjadi jauh dari pencasila dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Mereka hanya mengenal pancasila sebagai lafadz yang Cuma bias di katakana namun tak mampu menjelaskan apalagi mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu program yang dibawa oleh relawan ini adalah misi pendidikan pancasila, mula dari belajar kebinekaan, persatuan Indonesia, dan lain sebagainya. Mengabdi kepada masyarakat dan ikut merasakan bagaimana kehidupan sesama merupakan salah satu dari upaya mengaplikasikan sila kedua yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradap, karena diharapkan kegitan tersebut dapat menyentuh sisi humanis atau kemanusiaan kita. “Saya tidak menyangka jika mereka begitu kuat, sekalipun mereka tak bersama orang tua mereka bahkan diantara mereka sesungguhnya tidak tahu siapa orang tua mereka sebenarnya. Jika saya yang mengalami, saya tidak tahu gimana?” ujar Rana mahasiswa asal NTT salah satu relawan yang kagum dengan semangat anak-anak rumah belajar pandawa. “Lebih hebatnya lagi mereka tidak pernah menyalahkan keadaan, tidak menyalahkan orang tua mereka padahal saya sering ngerasa kurang dengan kasih sayang orang tuaku yang sekarang aku sadari tiada kurangnya” imbunya sambil tersenyum malu. Air mata itu meluncur deras Sebab sebelumnya ia mendengar beberapa curhatan langsung dari anak-anak tentang latar belakang kehidupan yang mereka jalani setiap hari.
Satu Bulan Bersama Relawan STK Widya Mandala Hari itu hari senin pukul 18.00, desir angin yang menyibak dahan pepohonan di taman beradu dengan raungan knalpot kendaraan bermotor yang memadati jalan Ngagel, Wonokromo. Dibawah rindangnya pohon taman yang menghantarkan lembar-demi lembar daun kering terhempas direrumputan taman, terdapat sekumpulan bocah-boca yang sedang asik dengan beragam aktivitas belajar bersama di taman. Diantara penerangan seadanya mereka bergerumul menghadap beberapa papan tulis dengan coretan-coretan. Mereka adalah relawan bersama murid-murid Rumah Belajar Pandawa. Relawan yang merupakan mahasiswi Universitas Katolik Widia Mandala atau biasa di singkat UWM yang terdiri dari Mia Dwi Retno, Aprelia Caroline, Brenda Silviani, Fatmala Fatmawati, Yosefina Silvia Daru, Rana Keera, Novita Jalasari, Rika Kumalasari, kritina atau biasa disapa Beta. Sebenarnya mereka menjadi relawan di Rumah Belajar Pandawa bermula dari program praktek kerja lapangan atau biasa disingkat PKL yang mengedapankan pengabdian masyarakat. “awalnya saya ngeluh saat menjalankan tugas PKL jika harus kaya gini, mana mungkin anak manja seperti saya bersosialisasi dengan anak jalanan yang berkepribadian macam ini (Liar: Red), nakal, omongannya kotor dan gitu deh” tutur Caroline yang mengaku anak manja itu. Mahasiswi yang berasal dari Jember itu menambahkan bahwa adiknya yang dirumah saja sering kena marah gara-gara suka mengganggunya. “Tapi dengan mengajar di Rumah Belajar Pandawa, saya jadi tahu bahwa saya bisa bersosialisasi dengan anak-anak yang karekternya bermacam-macam. Selain itu juga saya juga mulai pandai bersyukur pada tuhan” Imbuh gadis semampai bermata sipit dengan meneteskan airmata keharuan saat ditanyaoleh reporter Pandawa Kalmia Sada. Bahkan ia berjanji akan lebih menyayangi orang tua yang selama ini ia acuhkan atas segala apa yang mereka berikan padanya, begitupun pada adiknya yang dianggap nakal. (bersambung ya............)
“Kalau saya
sudah besar nanti saya ingin menjadi guru” ungkap Mawar bersemangat.
“saya juga
ingin jadi guru” Tambah Melati yang tidak kalah semangatnya (Mawar, melati
bukan nama sebenarnya).
Begitulah
kira–kira celoteh dua anak yang sampai saat ini masih bersama ibunya untuk
mencari sesuap nasi dijalanan kota Surabaya.
Dan diruang tamu home base
Rumah Belajar Pandawa yang sempit karena dipenuhi banyak anak yang ingin
belajar. Diantara sekian banyak murid-murid yang menjadi dampingan kami, adalah
Mawar dan Melati merka adalah anak kurang mampu itu.
Sepasang
kakak adik yang terlambat sekolah karena harus membantu ibunya untuk mengemis
tiap hari. Meskipun sekarang umurnya sudah menginjak kelas satu SD, namun
karena tuntutan ekonomi ia baru sekolah di kelas TK tahun ini. Itupun karena ada
yang memotivasi untuk sekolah, disamping itu merka berdua masih mempunyai
semangat untuk mengapai masadepanya.
“Meskipun terlambat
sekolah, namun mawar dan melati mempunyai kecerdasan yang harus terus
dikembagkan. Mungkin karena ia memang sini kuasa tuhan ya”, tutur Khotijah yang
dengan telaten membimbing dua anak itu belajar membaca dan berhitung.
Di
sampingnya juga tampak papan tulis putih penuh guratan spidol yang berisi
angka-angka penjumlahan. Ia tampak sabar
memberi rayuan dan motivasi agar Mawar
dan Melati selalu rajin belajar agar bisa tercapai cita-cita keduanya.
Hari-Hari
Seniman Kecil Jalanan
Mawar dan Melati
adalah sepasang kakak adik. Mawar yang lebih tua berumur tujuh
tahun, sedang Melati adiknya berumur enam tahun. Meski berbeda umur
namun ia menuntut ilmu di jenjang yang sama, dan lebih mengherankannya lagi
keduanya baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.
Mereka masih
sekolah di bangku TK bukan karena mereka tinggal kelas. Namun karena mereka
baru saja mengenal dunia pendidikan, sejak adanya lembaga Rumah Belajar Pandawa.
Alasan
mengapa mereka baru bersekolah cukup miris. Ditengah modernnya dunia pendidikan
dengan fasilitas memedai serta jargon pendidikan gratis, Mawar dan Melati masih
sibuk dan ngamen usia sekolah. Akibatnya
seperti diatas ia terlambat sekolah.
Memang,
sebelum bersekolah sepasang kakak berdaik yang tinggal di gubuk semi permanen
yang satu atap dengan gudang sampah dan berhalaman rel kereta api itu
menghabiskan sepanjang harinya di jalanan untuk mengemis bersama ibunya. Ia
berangkat pagi dan pulang pukul Sembilan malam.
“Saya pernah
bertemu kedua anak itu, bersama ibunya mengais risky smpai tengah malam di
angkringan PKL sepanjang trotoar Universitas Airlangga” tutur salah seorang
relawan baru pada kru kalimasada.
Dan ketika Mawar
dan Melati ditanya kemana saja mengemis selama ini, rupanya dia belum bisa
mendiskripsikan dimana saja ia mengemis. Didaerah mana ia belum paham karena ia
Cuma berjalan bersama ibunya, berjalan kemana saja terserah ibunya.
Mereka Cuma
ikut saja.
“Ndak ngerti
mas…! Pokoe melu mak… “ ujar Melati sambil tersipu-sipu malu karena memang
sebenarnya dia malu jika diejek temen-teman sekolahnyakarena pekerjannya.
Apalagi jika ditanya pekerjaan orang tuanya oleh guru, mahu tak mau mereka
harus menahan malu karena teman-teman mereka menimpali dengan serempak
“Mengemis, nagamen”.
Maka dari
itu ia tidak mau sekolah TK hingga bertahun-tahun. Namun dengan kehadiran Rumah
belajar Pandawa mereka jadi termotivasi untuk belajar. Mereka jadi tahu belajar
itu ternyata menyenangkan, dan tidak membosankan seperti yang menghantui
benaknya bertahun lamanya.
“Seneng mas…
iso ketemu teman dan belajar bersama” tambah Mawar ketika ditanya bagaimana
persaan di belajar di Rumah Belajar Pandawa.
Motivasi
untuk Rajin Belajar
Pada bulan
Oktober dan November Rumah Belajar
Pandawa kedatangan Relawan tak tetap dari Universitas Katolik Widia Mandala
atau biasa di singkat UWM. Relawan yang terdiri dari sembilan mahasiswi
semester satu mereka meluangkan waktu kuliyahnya guna turut mengejar bersama di
taman setiap hari Senin malam.
Kedatangan para
mahasiswi tersebut, memberi warna
tersendiri di hati anak didik Rumah Belajar Pandawa. Bahkan dampaknya membuat
mereka makin mengenal banyak guru dari berbagai latar belakang.
Jika
biasanya guru mereka di dominasi mahasiswa IAIN yang berlatar belakang
pendidikan Islam, Humaniora Islam dan social Islam yang bersuku Jawa. kini
dengan kehadiran mahasiswi UWM mereka bisa mengenal guru-guru dari latar belakang lain, latar
belakang farmasi dan dan bahasa inggris member warna tersendiri bagi anak
didik. Keberagaman etnis yang dibawa mulai dari Jawa, Madura, Batak, Timor hingga
keturunan Hokkian tiong Hoa membuat anak-anak mengenal keberagaman dan
menghargainya sebagai wujud kebenekaan.
“Saya bersyukur
diberikan kesempatan untuk mengajar disini, karena dibanding dengan mahasiswa
yang mendapat tugas mengajar di tempat lain, ternyata disinilah yang paling
menantang dan tepat sasaran” tutur Mia, salah satu mahasiswa UWM yang oleh
teman-temannya didaulat sebagai juru bicara.
“Disini itu
pokoknya apa adanya dan tidak dibuat-buat, sehingga tidak heran jika para anak
didik menjadi berprestasi baik disekolah maupun
di luar sekolah” Tambah Carolina penuh semangat.
Menurut
ketua rumah Belajar Pandawa Ali Airlangga, kehadiran para relawan diharapakan mampu memberi
inspirasi bagi anak didik Rumah Belajar Pandawa sehingga mereka jadi lebih
bersemangat untuk belajar untuk mewujudkan cita-citanya.