Jumlah pengunjung

Senyum Indah Mereka Adalah Anugerah

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 2 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mengabdi Pada Masyarakat

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

This is default featured slide 4 title

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Mari Bergabung Bersama Kami

Rumah Belajar Pandawa, Rumah Bagi Mereka Yang Tidak Punya Rumah dan Tempat Belajar Bagi Mereka Yang Tak Sanggup Sekolah.

Selamat Datang di BLOG RUMAH BELAJAR PANDAWA

Kamis, 30 Januari 2014

Pancasila as the civil religion, Falsafah Hidup Berbangsa dan Bernegara.*


oleh :  Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si
(Dewan Pembina Rumah Belajar Pandawa)


Demokratisasi seringkali memunculkan suasana konfliktual antara masyarakat, agama dan negara. Indonesia sebagai negara yang menggunakan pilar agama sebagai sala satu landasan perjuangan dan cita-cita bangsa.  Sebagaimana tertuang di dalam pembukaan UUD 45 yaitu ”atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”, maka sesungguhnya agama dan negara memiliki relasi dalam coraknya yang simbiosis. Tujuannya tak lain untuk melindungi dan menjamin warga negara dapat menjalankan ibadah agamanya dengan baik.
Salah satu pilar utama yang patut untuk dijunjung tinggi dalam kehidupan berbangsa dan beragama adalah, ”setiap agama telah memiliki batas-batas koridor masing-masing, sehingga apabila dalam perkembangannya setiap agama yang keluar dari koridor itu, akan membawa keresahan dalam masyarakat agamanya, untuk itulah pemerintah bertugas menata dan menyeimbangkan kembali”.
Revitalisasi Pancasila sebagai civil religion memang menjadi keniscayaan. Bangsa Indonesia mengajui Agama formal dalam berbagai namanya (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu).
Masyarakat sebagai subyek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak berkebaratan untuk menjadikan Pancasia sebagai agama sipil, dalam pengertian menjadi perekat dari semua elemen bangsa. Untuk itu perlunya “agama umum” sebagai dasar integrasi bangsa, yaitu suatu “agama rakyat” yang sifatnya umum dan terbuka, yang kelak dinamakan “agama sipil.”
Agama sipil yang dimaksud adalah suatu simbol hubungan antara warganegara dengan waktu dan tempat serta sejarah bangsa tersebut di bawah pengertian ultimate reality. Dari sinilah agama sipil dibawa ke dalam masyarakat menjadi “pandangan hidup berbangsa dan bernegara yang pluralistik.” Suatu filsafat hidup yang mengayomi semua warganegara yang berbeda secara etnis dan agama.
Jadi agama sipil adalah suatu gaya hidup berbangsa yang majemuk dalam agama dan menghisap semua agama formal yang ada. Jika kita punya jiwa nasionalis (sosio nasionalis), serta turut serta memikirkan nasip bangsa ini (sosio demokratis), maka marilah kita berkomitmen terhadap nilai-nilai teologis yang kita yakini (ketuhanan yang maha esa) maka harapan menjadikan pancasila sebagai pandangan hidub berbangsa dan bernegara akan terwujud.
 Pancasila dengan lima silanya adalah gambaran riil tentang civil religion. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan gambaran tentang prinsip utama di dalam civil religion. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan harapan kita semua.  Begitu juga dengan Sila persatuan Indonesia, yang menjadi tanggung jawab seluruh rakyat.
Indonesia merupakan perwujudan dari konsep persaudaraan yang didasarkan atas keadilan dan kemanusiaan. Kemudian Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan juga memberikan gambaran bahwa demokrasi sebagai bagian penting dalam prinsip civil religion terkover di dalamnya.
Ketuhanan yang Maha Esa adalah sebuah pengakuan formal negara bahwa negara ini berbasis pada agama. Memang bukan negara agama, akan tetapi agama menjadi substansi di dalam kehidupan kenegaraan dan sosial kemasyarakatan. Dasar filosofis seperti ini, yang sering belum dipahami oleh banyak orang sehingga menganggap bahwa masih ada ideologi lain yang ingin diuji cobakan di dalam kehidupan bernegara. Salah satunya adalah ideologi agama.
Melalui kembalinya kesadaran untuk memantapkan Pancasila sebagai ideologi negara bangsa, maka sesungguhnya ada harapan baru di tengah pertarungan ideologi yang terus berkembang di seantero dunia, termasuk di Indonesia.
Negara ini akan tetap menjadi besar dan bersatu manakala seluruh komponen bangsanya menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Oleh karena itu, menguatkan kembali Pancasila sebagai living ideology sama dengan menegaskan pondasi bangsa dan mengurangi konflik kepentingan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Cerpen Mualaf Putri Cilik

Di sebuah dusun kecil tepatnya di desa Purwo Harjo hidup seorang  gadis  mungil yang cantik Jelita. Dia bernama Nurma Christina Mula Syintia Dewi. Nurma hidup sendiri di gubuk tua semenjak kakeknya KH. Ridlowi meninggal dunia karena sakit. Dia ditinggal oleh kedua orangtuanya semenjak dia berumur 8 tahun. Kedua orang tuanya adalah kaum Kristen sehingga mereka memberi nama Nurma Christina Mula Syintia Dewi. sedangkan kakeknya adalah seorang Ulama di daerahnya.
                Pada saat Nurma berumur 7 tahun, kedua orang tuanya sering meninggalkan dia ke luar kota. Sehingga di rumah dia hanya tinggal berdua dengan kakeknya. Kakek Ridlowi sering sekali mendapat undangan untuk berdakwah diberbagai tempat. Sehingga dia sering mengajak Nurma dalam menyampaikan dakwahya. Dengan seringnya kakek Ridlowi  mengajak Nurma, sehingga Nurma ingin tahu tentang agama.
                Suatu hari terjadi percakapan antara Nurma dan Kakek Ridlowi. “Kek, Islam itu apa? tanya Nurma. “Islam itu adalah agama yang diturunkan oleh Allah sebagai petunjuk manusia di bumi ini nak. Di dalam Negara kita ada lima agama yaitu agama Kristen yang dianut kedua orang tua Nurma, ada agama Islam yang dianut oleh kakek sendiri, selanjutnya ada agama Hindu dan Budha, dan ada lagi satu agama yang baru yaitu agam Khonghucu” jawab kakek Ridlowi. Kalau Nurma agamanya apa kek? sahut Nurma. “Biasanya anak itu mengikuti kedua orang tuanya, tetapi Nurma mempunyai hak untuk memilih agama apa yang akan Nurma anut” balas kakek kembali. “Lalu kenapa kakek dan mama agamanya berbeda?” tanya Nurma lagi. Namun kakek Ridlowi tidak menjawabnya karena tiba – tiba ada salah satu warga yang mengetuk pintu rumahnya untuk meminta bantuan kepada beliau.
                Nurma masih penasaran dengan pertanyaannya yang masih belum sempat di jawab oleh kakeknya. Dan dia keluar rumah untuk melihat – lihat keadaan untuk menghirup udara segar. Di tengah perjalanan dia mendengar suara gaduh di salah satu rumah tetangganya. Karena penasaran dia menghampiri rumah itu untuk mengetahui apa yang terjadi. Ternyata disana ada sekelompok anak – anak yang sedang mengaji. Kemudian dia meninggalkan tempat itu dan pulang karena takut kakeknya bingung mencarinya.
“Dari mana nak??” tanya Kakek Ridlo. “Dari jalan – jalan kek, melihat suasana di luar saat sore hari begini” jawab Nurma. Nurma memang orangnya jarang bermain – main diluar. Dia selalu belajar di rumahnya bersama kakek Ridlo. “Sebentar lagi kakek ada undangan pengajian di desa sebelah, Nurma mau ikut apa tidak?” tanya kakek. “Saya di rumah saja kek!” jawab Nurma. Kakek Ridlo heran karena biasanya Nurma semangat sekali apabila diajak pengajian.
Kakek Ridlo termasuk orang yang hobby membaca. Beliau sering membeli buku – buku bacaan terutama buku yang berhubungan dengan agama. Alasan Nurma menolak ajakan kakeknya karena Nurma ingin mencari jawaban dari pertanyaannya sebelum dia bertanya lagi kepada kakeknya melalui buku – buku koleksi kakeknya. Kemudian Dia mengambil beberapa buku milik kakeknya tanda disadari kakek Ridlo.
Malam telah larut, namun kakek Ridlo belum pulang juga. Karena merasa lelah Nurma tertidur di ruang tamu. Di tengah tidur lelap Nurma, kakek Ridlo tiba dirumah. Beliau mengelus – ngelus dahi Nurma sambil menangis dan berkata “begitu malangnya nasibmu nak yang jauh dari perhatian kedua orang tuamu yang lebih mementingkan pekerjaannya di bandingkan kamu anak semata wayangnya. Semoga kamu diberikan petunjuk yang lurus oleh Allah SWT. Amien”.
Keesokan pagi harinya, Nurma bersiap – siap untuk berangkat ke sekolah. Dia selalu diantar oleh kakek Ridlowi. Dia termasuk cucu yang sangat membanggakannya. Dia bocah yang aktif dan cerdas, tapi sayangnya kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tetapi Nurma tidak pernah merasa kurang kasih sayang karena dia memiliki kakek yang begitu tulus mencintai dan menyanginya.
Orang tua Nurma menyekolahkannya di SDK yang ada di Purwo Harjo. Tempatnya lumayan jauh dengan rumahnya. Kakeknya selalu mengantar dan menjemputnya mengunakan sepeda ontelnya yang sudah tua. Terkadang Nurma merasa kasihan dengan kakeknya.
Suatu hari di desa Purwo Harjo sering hujan deras di sertakan angin yang sangat kencang. Sehingga menyebabkan banyak pepohanan yang roboh. Setelah hujan deras berturut – turut, desa itu mengalami Bencana besar yang memakan banyak korban luka, meninggal dan hilang.
Banyak Keluarga yang tinggal di luar kota berdatangan untuk mencari keluarganya salah satunya adalah kedua orang tua Nurma. Namun setelah dievakuasi selama satu minggu ternyata mereka tidak menemukan jasad Nurma dan kakeknya. Menurut kesimpulan Tim evakuasi bahwa hampir 100 % warga desa Purwo Harjo terbawa air yang begitu deras dan di mungkinkan meninggal dunia.
Ternyata saat bencana besar itu terjadi, Nurma bersama kakek Ridlowi sedang berada di sebuah dusun kecil yang tidak jauh dari desa Purwo Harjo yang tidak terkena banjir. Mereka Singgah disana selama 1 bulan karena pada saat itu kakek Ridlowi sedang merawat Sahabat karibnya yang sedang sakit parah. Setelah sahabatnya meninggal dunia Kakek Ridlowi bersama Nurma berniat pulang ke rumahnya. Namun disaat mereka melihat keadaan daerahnya mereka baru menyadari bahwa telah terjadi bencana di desanya yang telah merenggut banyak nyawa.
Mereka kembali ke rumah Sahabatnya yang kecil dan memiliki  satu hektar sawah dengan keadaan sedih. Sebelum sahabat Kakek Ridlowi wafat, dia memang telah mewariskan rumah dan harta yang dia miliki tanpa tersisa sedikitpun kepada kakek Ridlowi. Beliau adalah satu – satunya sahabat yang sangat setia dan perhatian padanya. Mereka pun memutuskan untuk tinggal disana.
Selain sebagai pendakwah, kakek Ridlo memang juga seorang petani di sawah milik tetangganya saat tinggal di desa Purwo Harjo. Jadi beliau sudah terbiasa dalam mengurusi sawah milik sahabatnya itu. Setiap hari Nurma selalu membantu kakeknya mengolah sawah. Semenjak bencana itu terjadi, sekolah Nurma terputus, karena sekolahnya juga rusak terkena banjir.
Usia Nurma semakin dewasa. Kini dia beranjak berumur 9 tahun. “Kakek, kenapa mama dan papa tidak mencari kita ya? Apa benar bahwa mereka lebih sayang pekerjaannya dari pada saya anak semata wayangnya?” ucap Nurma sambil menangis. “Kita tidak boleh bilang seperti itu, mungkin mereka sudah mengira bahwa kita sudah meninggal sayang!!” jawab kakek Ridlo sambil menenangkan cucu kesayangannya itu. “Kek??” panggil Nurma. “ada apa?” kakek menjawab. “Apakah boleh jika saya ikut kakek menganut agama Islam?” tanya Nurma dengan rasa takut. “Kenapa tidak boleh? Islam itu sangat tolerir terhadap umatnya. Islam tidak pernah memaksa manusia untuk menganut agamanya. Kakek senang sekali jika kamu tulus untuk menganut agama Islam!” jawab kakek dengan senyum yang begitu indah.
Kakek pun menuntun Nurma untuk mengucapkan dua kalimat syahadat yang merupakan Rukun Islam yang pertama. Ternyata Nurma sangat lancar sekali mengucapkannya. Kakek Ridlo sangat bahagia sekali dengan keputusan cucunya itu. Dan dia melakukan sujud syukur karena Allah telah mengabulkan harapannya.
“Ini buku kakek!” dengan menyodorkan buku kepada kakek. “Kamu dapat dari mana buku ini?” Tanya si kakek dengan wajah bingung. “Sebelumnya saya minta maaf, buku ini saya ambil di almari Buku kakek 1 tahun yang lalu saat kakek sedang pergi pengajian” jawab Nurma dengan santai. Kemudian kakek Ridlowi langsung memeluk cucunya sambil menangis. Dia merasa seorang pemenang hari ini karena memiliki cucu yang begitu luar biasa.
Nurma selalu melakukan sholat lima waktu dan dia sering sholat Tahajud pada malam hari. Dalam doanya dia selalu meminta untuk tidak dipisahkan dengan kakek yang begitu ia cintai. Disaat dia memanjatkan doanya, Kakek Ridlo selalu mendengarkan dan terharu atas perkataan cucunya.
Nurma tumbuh menjadi remaja yang cantik. Meskipun dia tidak bersekolah, dia selalu membaca buku – buku yang ada di rumah sahabat kakeknya. Sehingga dia tetap berkreasi meskipun tidak ada yang memfasilitasi. Suatu hari kakeknya terjatuh sakit.  Sehingga yang mengurusi sawahnya hanya Nurma. Dia sangat sedih sekali dengan keadaan kakeknya. Setiap melihat kakeknya yang sedang terbaring lemah di tempat tidur dia selalu meneteskan air mata.
Selama 1 tahun kakek Ridlowi menahan sakitnya. Dia tetap semangat untuk hidup karena ada cucunya yang selalu menemani dan merawatnya. Nurma selalu memberi semangat kepada kakeknya meskipun sebenarnya dalam hatinya terasa sesak ingin selalu menangis. “Nak, jaga dirimu baik – baik ya! Kuatkan iman dan keteguhanmu pada agamamu sekarang!” ucap kakek Ridlo dengan suara yang lemah. “Insyaallah kek, kakek cepat sembuh ya? Biar kita bisa bercanda lagi, bisa mengolah sawah bersama – sama lagi dan nurma bisa belajar agama lebih banyak bersama kakek” jawab Nurma dengan sesak. Kakek Ridlo hanya tersenyum padanya. Nurma langsung keluar dari kamar kakeknya dan menangis karena terharu.
Dua hari kemudian Kakek Ridlo dapat berdiri dan berjalan lagi. Tetapi beliau tidak dapat bekerja. Beliau hanya berjalan – jalan di sekitar rumahnya dengan menghirup udara segar yang penuh dengan tumbuhan hijau. Keadaannya lama – kelamaan terasa membaik. Nurma sangat senang dengan perkembangan kesehatan kakeknya.
Di pagi yang begitu cerah tiba – tiba kakek Ridlo mengajak Nurma untuk mengunjungi desanya yang habis terkena banjir. Sesampai disana, ternyata desa itu sudah menjadi sebuah hutan yang begitu lebat pepohonannya. Beliau bersyukur karena dia masih di lindungi dan diberikan kesempatan untuk bersama dengan cucunya. Namun di tengah perjalanan menuju pulang, penyakit kakeknya tiba – tiba kambuh dan di tempat itu juga Kakek Ridlowi meninggalkan Nurma untuk selamanya.  Kini dengan agama barunya, Nurma terus beristiqomah dalam menjalankannya tanpa seorang Kakek dan juga sebagai gurunya itu.


Sabtu, 28 Desember 2013

Kenagan Bersama Relawan Universitas Katolik Darma Cendika.


Puji syukur kepada Tuhan, atas Rahmat dan kesempatan kepada kelompok kami dalam menyelesaikan PKL (Praktik Kerja Lapangan). Laporan ini kami buat sebagai persyaratan kelulusan mata kuliah agama semester satu di Universitas Katolik Darma Cendika.
Dalam penyusunan laporan ini kami didorong oleh rasa ingin tahu sekaligus belajar untuk dapat berbagi dengan maupun anak-anak yang membutuhkan ilmu pengajaran secara akademik dan non-akademik.
Kami sebagai kelompok mengharapkan dengan adanya laporan ini, memberikan kami pemahaman arti tentang kehidupan yang sesungguhnya. Banyak hal yang kami bisa bagikan diantaranya, bagaimana kami belajar memahami karakter satu pribadi dengan pribadi yang lain. Bagaimana keunikan setiap anak dalam hal berpola pikir. 
Dalam melaksanakan  kegiatan ini kami mempunyai banyak peluang karena kami mengetahui bahwa ada potensi yang berbeda dari setiap manusia. Kita berharap bahwa kegiatan yang telah kita lakukan dapat memberikan arti bagi kehidupan kita semua dimasa mendatang. Dalam kegiatan ini, tentunya tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada kendala- kendala yang kami hadapi baik dari segi waktu penyesuaian pengajaran maupun cuaca yang terkadang kurang mendukung.
Kesempatan yang kami peroleh merupakan kesempatan yang sangat berharga. Ucapan terima kasih, kami berikan kepada Mas Prabu Ali Airlangga selaku direrktur dari pencetus rumah Belajar Pandawa yang berlokasi di jalan Ngagel-Wonokromo Surabaya.
Kita melakukan pengenalan pada anak-anak PANDAWA pada saat itu juga terlihat muka kegembiraan diraut wajah mereka. Karena mendapatkan guru pendamping baru. Setelah melakukan pengenalan kami melakukan pengajaran materi kepada anak-anak tersebut, pada saat kita mengajar terlihat ada beberapa anak masih malas untuk belajar dan kami juga merasa terkejut ketika mendapati bahasa mereka yang cenderung kasar, bahkan masih terlihat dari mereka betapa kurangnya pendidikan bahasa dilingkungan tempat tinggal sekitarnya.

Pada Pertemuan kedua kami datang ke Rumah PANDAWA kembali untuk mengajar, tetapi kedatangan kami kali ini terlambat, dikarenakan adanya jadwal kuliah yang berakhir pada pukul 19.30 WIB. Setelah perkuliahan kami menuju ke tempat PANDAWA. Sesampainya disana ternyata mereka belum melangsungkan pelajaran, dikarenakan mereka menantikan kami dan kamipun langsung mengajar.
Pengajaran berlangsung seperti biasa, antusias tampak di wajah mereka , seiring waktu intensitas bertemu. Tidak seperti waktu hari pertama yang masih canggung dan cenderung malu. Sikap saling bercanda mulai mereka tunjukan sebagai rasa pertemanan yang mulai akrab.
Pada pertemuan terakhir Kami tidak melakukan pengajaran karena ini waktu terakhir kami melakukan pengajaran, kami memutuskan mengadakan acara ramah-tamah dengan berjalan-jalan ketaman bungkul. Kami juga memberikan kenang-kenangan pada mereka berupa beberapa fasilitas pendukung dalam proses belajar-mengajar mereka. Sebelum berangkat kami melatih mereka untuk disiplin waktu dengan cara berbaris tanpa ribut dan menjadi kendala kami adalah susah untuk mengatur mereka untuk disiplin ternyata sangat susah sehingga kamipun tersendat keberangkatannya. Pada pukul 20.00 WIB kami mulai berangkat dengan berjalan kaki yang lokasinya ternyata cukup jauh. Sesampainya disana kami bermain dan mereka terlihat antusias dan gembira untuk bermain ditaman Bungkul. Kami juga mendampingi untuk bermain dan berbagi minuman dan snack dengan mereka. Dan kita mengajak mereka untuk saling berbagi, kemudian pada pukul 22.15 WIB kami melakukan perjalanan kembali ke rumah belajar PANDAWA dan sebelum kami pulang kami berpamitan dengan anak-anak PANDAWA dan juga dengan  mas Prabu Ali Airlangga beserta para pengajar yang lainya.


Jumat, 12 Juli 2013

"Ramadhan Ceria 1434 H"

 Berawal dari sebuah perkumpulan yang direncanakan oleh Allah SWT.
Terciptalah sebuah harmonisasi yang berjalan sehingga banyak sekali menghasilkan kegiatan positif untuk masyarakat. Seperti imajinasi ide itu terbentuk dari pergelutan pikiran-pikiran, dari imajinasi itulah ide untuk membuat rencana besar pada bulan Ramadhan.  Seperti kesuksesan panda bulan Ramadhan yang sebelumnya bulan yang suci kali ini kami akan mengadakan "Ramadhan Ceria 1434 H "

Acara ini diselenggarakan selama bulan Ramadhan 2013.
Bagi para relawan, donatur, Updaters yang ingin berpartisipasi pada acara ini, berikut detailnya:

Senin 15 Juli 2013 Pembukan "Ramadhan Ceria 1434 H  "
Rangkaian Acaranya:
    15 Juli Serba Ta'jil ( Berbagi Takjil)\
    16-21 Pondok Pesanten  Penghafal Quran / Hafidz
    22-28 Juli Kajian Spesial Ramadhan dan Buka Bersama Anak Yatim, Anjal, Dhuafa
    28-30 Juli Bakti Sosial
    1-3 Agustus Merah putih ramadhan (Lomba-lomba)
    04  Agustus Penutupan dan pembagian Bingkisan Lebaran

TUJUAN KEGIATAN
Menggalang persatuan dan kesatuan umat.
Menjalin dan mempererat Ukhuwah Islamiah yang telah ada.
Membagi kebahagiaan Ramadhan dengan saudara yang kurang beruntung.
Memotivasi untuk berlomba-lomba menuju kebaikan di bulan suci yang penuh berkah ini.
Mewujudkan kepedulian terhadap sesama.


Informasi lebih lanjut zoom flyer Acara "Ramadhan Ceria 1434 H " ini. Bisa meng hubungi kami
Alamat : Rumah Belajar PANDAWA RT 01 RW 01 desa Lumumba Dalam kel. Ngagel Kcm. Wonokromo Surabaya
-Tlp/Sms : 085852456350
-Email : pandawa_ilmukawula@yahoo.com

Senin, 01 Juli 2013

Konjen AS Berkunjung di Pandawa

Surabaya 28 Juni 2013. 
Konsul Jenderal A.S. di Surabaya, Joaquin Monserrate berdiskusi dengan relawan muda yang tergabung dalam Rumah belajar Pandawa yang di ketuai oleh adalah M. Ali Shodikin mahaiswa alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya., yang sekarang melanjutkan pendidikan Magister Hukum di UNTAG Surabaya. ”Saya sangat senag dengan kunjungan bapak Joaquin Monserrateselaku Konsul Jenderal A.S. di RB Pandawa.
Kunjungan  ini tidak lepas dari kerjasama yang dilakukan antara lembaga RB Pandawa dengan SEAYLP (Southeast Asia Youth Leadership Program), sebuah program pertukaran yang didanai Pemerintah A.S.
"Pendidikan menjadi perhatian pemerintah Amerika. Dan kami sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan mahasiswa disini," ujar Monserrate ketika ditanya oleh salah satu murid RB Pandawa.
Dalam kerjasama yang dilakukan  Rumah Belajar Pandawa  bersama Garuda Team mengadakan pembelajaraan bahasa Inggris gratis kepada puluhan anak-anak SD-SMP Kampung Lumumba Dalam, Ngagel-Wonokromo, Surabaya. Acara malam tersebut dihadiri  seluruh relawan dari Garuda Team dan Rumah Belajar Pandawa, serta puluhan murid. 50-an relawan dan anak didiknya berkumpul, dan berdiskusi dengan Bapak Konjen terkait masalah pendidikan, sosial, budaya.
Saat menyampaikan sambutannya, pria yang biasa dipanggil Prabu Ali Airlangga  mengatakan "Pemenuhan kebutuhan pendidikan baik formal maupun nonformal sangat dibutuhkan". Menurutnya, hal ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap penduduk dalam rangka peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) bangsa kita. Saat ini pendidikan luar sekolah memiliki peranan yang tidak kalah penting. Pendidikan ini berfungsi untuk membantu anak didik untuk memaksimalkan potensinya yang mungkin belum seluruhnya bisa diperoleh melalui jenjang pendidikan formal.
”Pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang merupakan amanat yang semestinya kita lakukan bersama,” tegas  pentolan PANDAWA. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab Negara serta kita selaku warga Negara untuk turut terlibat dalam masalah-masalah di bidang pendidikan, seperti masalah pengawasan dan pembiayaan. 
Menurut Monserrate semestinya semua warga negara punya kesempatan mengakses pendidikan, karena pendidikan merupakan hak dasar setiap manusia, termasuk warga miskin sekalipun.  Kegiatan rumah belajar Pandawa sangat menarik perhatian Monserrate, sehingga diplomat AS ini meluangkan waktu untuk melihat langsung kelas belajar tersebut. Kelas belajar Komunitas pandawa, merupakan kelas gratis untuk mendidik anak-anak keluarga yang kurang mampu di belakang dinas perairan kota surabaya.
Joaquin Monserrate, juga mengapresiasi adanya perpustakan yang di sediyakan untuk anak-anak, dia kagum karena anak-anak juga belajar membaca dongeng-dongen yang ditulis dengan bahasa Inggris. Sebelum meninggalkan lokasi acara tersebut konjen AS berpesan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa tidak harus selalu melalui jalur pendidikan formal saja, akan tetapi dapat juga melalui jalur pendidikan nonformal. Oleh karena itu, diperlukan adanya sarana komunikasi informasi ilmu pengetahuan untuk disampaikan kepada masyarakat yaitu perpustakaan.  
"With the library, the community can use it as a means of information, knowledge, and creating a culture of reading." Dengan dana pribadi dan bantuan dari beberapa donatur  para mahasiswa ini mendidik anak-anak tersebut agar bisa membaca tulis dan sejumlah pengetahuan dasar lainnya. [] Al

Minggu, 07 April 2013

Guru Garda Depan bagi Proses Pendidikan

Oleh : Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si (Dewan Pembina Rumah Belajar Pandawa)
Dewan Pembina  Rumah Belajar PANDAWA
  
Kurikulim pendidikan merupakan isu yang terus dibicarakan bagi genap praktisi, akademisi serta pemerintah. Hal ini dikarenakan pendidikan, tetap dianggap sebagai instrumen penting dan esensial bagi pengembangan manusia Indonesia di dalam menghadapi globalisasi menuju tahun  Indonesia emas 2045.
Namun terkadang Isu anggaran tentu saja sudah merupakan isu klasik di dalam konteks pembangunannya nasional, akan tetapi Isu anggaran masih tetap di perdebatkan.  Menurut analisa saya problem yang tidak kalah penting adalah mengenai guru. Semua masih sependapat bahwa kunci keberhasilan pendidikan terletak pada kualitas guru dan profesionalitas guru. Negara dituntut untuk manapun, meskipun teknologi sudah menjadi bagian tidak terpisahkan bagi dunia pendidikan, akan tetapi peran guru di dalam proses pembelajaran tetaplah menjadi kata kunci sukses pendidikan.
Mari kiata bersama menengok peran Rumah Belajar Pabdawa yang ada di kota Surabaya. Sebagaimana diketahui bahwa tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan adalah kewajiban seluruh komponen bangsa. Pendidikan memang bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, akan tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat. Oleh karena itu, setiap prakarsa untuk mendirikan dan menyelenggarakan pendidikan pada level apapun, tentu harus didukung, dibantu bahkan diapresiasi secara memadai.
Pada  diskusi di Komite Pendidikan Nasional, saya sering berpesan bagaimana penyiapan guru di dalam menghadapi perubahan kurikulum ini. Apakah guru sudah siap menghadapi perubahan kurikulum. Jangan sampai kurikulumnya berubah tetapi mindset guru tidak berubah. Sama saja antara kurikulum yang sebelumnya dengan kurikulum yang baru. Karena menyangkut perubahan mindset guru, maka tentunya harus disiapkan secara memadai tentang kesiapan guru ini.
Guru tidak boleh berubah di dalam fungsinya sebagai transformer ilmu dan pamong bagi para siswa. Selain itu  contoh di dalam kehidupan masyarakat. Sebagai transformer ilmu pengetahuan maka di dalam dirinya harus ada mindset untuk melakukan yang terbaik bagi profesinya sebagai guru dan sebagai pamong maka dia akan membimbing ara siswanya di dalam proses pencarian kebenaran yang berbasis pada ilmu pengetahuan.  Guru adalah contoh bagi para siswa di dalam karakter dan tindakan. Di dalam konteks Jawa, guru disebut kependekan dari kata digugu lan ditiru atau yang diikuti kata-katanya dan diikuti tindakannya.
Guru merupakan Garda Depan bagi proses pembelajaran dan pendidikan. Dialah yang akan menentukan apakah pendidikan Indonesia berhasil atau tidak. Sebagai Garda Depan, sesungguhnya para guru telah memperoleh penghargaan sebagai guru profesional, yaitu guru yang telah memperoleh pengakuan sebagai pekerja profesional, sebagai-mana dokter, ahli teknik,  hukum dan sebagainya.
Sebagai pekerja profesional yang diakui oleh undang-undang, maka status guru tentu sangat dihormati. Tidak  hanya dari segi pendapatannya, akan tetapi juga dari sisi penghargaan yang layak. Jika dulu para guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa disebabkan oleh kurangnya penghargaan terhadapnya, maka sekarang tentu tidak bisa lagi disebut dengan sebutan tersebut.
Kurikulum bagaimanapun baiknya tentu masih sangat tergantung kepada para guru. Oleh karena itu perubahan mindset para guru tentu menjadi sangat penting sebagai prasyarat keberhasilan implementasi kurikulum. Dengan demikian, keberhasilan penerapan kurikulum 2013 juga sangat bergantung kepada perubahan mindset para guru di dalam mendidik para siswa.
Kurikulum sebagai dokumen adalah variabel instrumen keberhasilan pendidikan. Akan tetapi yang menjadi variabel substansialnya adalah para guru. Instrumen musik adalah kumpulan  bunyi-bunyian yang akan bisa dinikmati dengan menyenangkan jika dimainkan oleh para pemain musik profesional. Jadi pemain musik yang ahlilah yang akan menentukan apakah sebuah sajian instrumen musik bisa dinikmati atau tidak. Demikian pula guru yang berkualitas lah yang akan menentukan apakah pendidikan akan bisa menjadi wahana bagi pengembangan kapasitas manusia atau tidak. Tanpa guru yang baik dan berkualitas rasanya jangan pernah bermimpi bahwa pendidikan Indonesia akan naik peringkat di dalam ranking kualitas pendidikan di dunia.
Kehadiran rumah belajar yang didesain secara khusus tentunya bisa menjadi alternative bagi program pembelajaran yang berdaya guna.Oleh karena itu, tugas Rumah Belajar Pandawa adalah menyelenggarakan pendidikan berbasis kerakyatan tersebut, namun demikian ke depan memiliki prospek sebagai lembaga pendidikan yang diakui oleh masyarakat dan juga pemerintah sebagai lembaga pendidikan yang baik.
Wallahu a'lam bialshawab.


Kamis, 04 April 2013

Prabu Ali Airlanga

Bila harus memilih antara melanjutkan pendidikan S2 dan mengabdi pada masyarakat, tentu Anda akan memilih yang pertama.
Namun pilihan kedualah yang dipilih oleh Prabu Ali Airlanga mahaiswa alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. ”Saya sangat senang melihat adik-adik saya mengabdikan dirinya pada masayrakat ketimbang melakukan hal-hal yang negatif. Meski saya harus menunda progam untuk melanjutkan belajar saya ke jenjang S2,” ucap Prabu Ali. Di samping itu mereka butuh bimbingan serta bantuan yang nyata untuk bisa mewujudkan  Rumah Belajar PANDAWA. Dan mereka menunjuk saya untuk menjadi direktur PANDAWA. Lanjut Prabu Ali Airlanga menjelaskan dengan senyum ramahnya.
Untuk menghadapi masalah pendanaan, pemuda 24 tahun itu mengajarkan pada adik-adiknya tentang nilai loyalitas dalam perjuangan. ”Saya tidak ingin sampean hanya mengandalkan bantuan dana dari orang lain. Kita harus rela untuk patungan demi mewujudkan PANDAWA” ucap Prabu Ali kepada pengurus PANDAWA.
Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di kota besar yang tidak dibarengi dengan meningkatnya kesejahteraan, mengakibatkan semakin tingginya ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Seiring dengan semakin padatnya populasi penduduk yang tidak diikuti peningkatan penghasilan perkapita, menjadikan masyarakat memiliki beban berat dalam memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan hidup manusia meliputi sandang, pangan, dan papan. Serta kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat pula terutama di negara berkembang, salah satunya Indonesia. Jelas direktur PANDAWA.
Lanjut Prabu Ali Airlanga, mantan ketua paguyuban teater ‘Q’ Surabaya, Pemenuhan kebutuhan pendidikan baik formal maupun nonformal sangat dibutuhkan. Menurutnya, hal ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap penduduk dalam rangka peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) bangsa kita. Saat ini pendidikan luar sekolah memiliki peranan yang tidak kalah penting. Pendidikan ini berfungsi untuk membantu anak didik untuk memaksimalkan potensinya yang mungkin belum seluruhnya bisa diperoleh melalui jenjang pendidikan formal.
”Pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang merupakan amanat yang semestinya kita lakukan bersama,” tegas  pentolan PANDAWA. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab Negara serta kita selaku warga Negara untuk turut terlibat dalam masalah-masalah di bidang pendidikan, seperti masalah pengawasan dan pembiayaan.
Senada dengan Nur Syam, lelaki yang mendapatkan gelar Profesor dalam bidang sosial, pendirian Rumah Belajar tentu sangat strategis ke depan. Sebagaimana diketahui bahwa tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan adalah kewajiban seluruh komponen bangsa.
Pendidikan memang bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, akan tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat. Oleh karena itu, ”setiap prakarsa untuk mendirikan dan menyelenggarakan pendidikan pada level apapun, tentu harus diapresiasi secara memadai” kata Nur Syam.
Seirama dengan kemajuan zaman dan semakin menyeruaknya kapitalisme pendidikan, maka mendirikan rumah-rumah belajar bagi kalangan masyarakat ekonomi lemah adalah sebuah gagasan yang unik. Melalui model-model rumah belajar yang pembiayaannya sangat murah bahkan gratis, maka akan bisa menjadi antithesis bagi pendidikan berbasis kapitalisme. Dengan demikian, jika model-model ini berhasil, maka tentunya akan dapat ditularkan atau didiseminasikan ke tempat lain yang memiliki karakter yang sama atau hampir sama. Nur Syam selaku pembina PANDAWA. menyatakan ”Seharusnya pemerintah menghargai terhadap prakarsa masyarakat semacam ini”. 
Tambah lelaki separuh baya itu ”Saya berkeyakinan bahwa jika model-model rumah belajar itu didukung oleh kebijakan pemerintah dan didukung oleh masyarakat secara memadai, maka model belajar rakyat semacam ini akan bisa menjadi alternatif lain bagi program pendidikan di masa mendatang. Oleh karena itu seharusnya pemerintah memberikan dukungan kebijakan dan anggaran. Sehingga mimpi anak bangsa untuk terlibat dalam proses pendidikan bangsa akan bisa terwujud”.
”Rasa semangat serta kesadaran generasi muda yang ingin mengabdikan diri kepada masyarakat dan bangsanya melalui media pendidikan, patutnya dibimbing dan diarahkan,” ujar Nur Syam mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya. ”Selain itu mereka juga mengamalkan dari amanat Tri Dharma perguruan tinggi. Maka dari itu saya mendukung dan menyetujuinya. Selain itu saya juga siap untuk dimintai bantuan agar niatan yang baik tersebut dapat terwujud,” bebernya.
“Munculnya suatu anggapan  bahwa tujuan seseorang untuk belajar adalah setelah lulus bisa mendapatkan pekerjaan dan menjadi orang kaya adalah anggapan yang kurang tepat. Cara pandang masyarakat terhadap nilai-nilai  pendidikan  sangatlah keliru. Sebab tujuan dari pendidikan adalah mencerdaskan generasi negeri serta menghilangkan kebodohan,” papar Prabu Ali Airrlangga.
Ditemui saat selesai mengajar murid-muridnya, Prabu Ali menyampaikan, ”Jika masyarakat dibenturkan pada suatu kenyataan  di abad mutakhir ini, banyak dari mereka yang mempunyai persepsi bahwa ukuran  dari tingkat yang paling urgen tak lain hanyalah perihal tentang pemenuhan kebutuhan material semata,” lanjut  lelaki 24 tahun jebolan  Fak. Syariah Jurusan Ahwalus Syakhsiyah (Hukum Keluraga Islam). ”Masyarakat modern mempunyai suatu anggapan  bahwasannya ukuran keberhasilan penyerapan ilmu ditentukan pada saat ujian akhir dan dalam wujud angka-angka. Padahal itu semua keliru”.

Impiyan Yang Nyata
Mengentaskan anak-anak miskin dari kebodohan. Mereka berjuang bersama teman-temanya untuk merangkul  anak jalanan (ANJAL) pengemis, pemulung, preman, pekerja sek komersial serta  pedagang asongan  agar mereka mau menitipkan putra-putrinya untuk belajar bersama di Rumah Belajar PANDAWA.
Itulah impian yang ingin diwujudkan oleh lima pemuda. Mereka adalah Mukhammad Makmuri, Mukhammad Ridwan, Abdullah Kafaby, Amar Munawar  serta M. Ali  Shodikin atau biasa dikenal Prabu Ali Airlanga. Selaku generasi muda mereka mempunyai suatu gagasan yakni mendirikan sebuah rumah belajar bagi anak-anak yang tidak mampu.
Mukhammad Ridwan mengatakan. ”Sistem pengajaran yang memuaskan akan menjadi senjata ampuh dalam mengembangkan rumah belajar tersebut.” Hal yang cukup menarik di sini adalah penggunaan modal dan sumber daya manusia yang terbatas (patungan uang pribadi, red). Namun, mampu memberikan pelayanan yang terbaik sebagai salah satu solusi. Maka dengan nama Rumah Belajar PANDAWA (Papan Pendidikan Kawula) yang diresmikan oleh Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si, lima pemuda tersebut dapat terwujud pada Rabu, 18 Mei 2011 di balai RT Desa Lumumba Dalam Gang Buntu RT I/ RW I Kelurahan Ngagel Kecamatan Wonokromo Surabaya.
Karena tekad yang kuat  untuk mengabdikan diri kepada masyarakat dan bangsanya melalui media pendidikan, maka tidak mustahil berdirinya lembaga pendidikan seperti Rumah Belajar PANDAWA adalah salah satu jalan untuk membuka beragam ruang-ruang sosial yang mengolaborasikan semua ragam yang ada.
”Untuk menjalin sebuah kebersamaan dan keanekaragaman perspektif kelompok-kelompok sosial, maka dengan rumah belajar ini mereka  bisa mendapatkan pendidikan yang setara dan berkualitas,” kata Ridwan selaku sekretaris PANDAWA.
Awal berdirinya PANDAWA, kami hanya bermodalkan rumah kontrakan yang dimiliki oleh salah satu warga. Kami memanfaatan rumah yang sengaja kami sewa, lokasi ruang tamu, balai RT yang berada bersebelahan dengan markas PANDAWA, musholah al-Mukhlisin dan taman terbuka di sebrang jembatan kali Jagir sebagai lokasi belajar. Ini bisa dibilang sangat strategis, karena terletak di perkampungan padat penduduk.
Radius tiga kilo meter dari markas PANDAWA, terdapat sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP sampai dengan SMA. Di samping itu lokasi ini berdekatan dengan tempat anak jalanan untuk beroperasi. Dengan kapasitas tempat yang memiliki empat ruangan yang dimanfaatkan sebagai kelas, maka tiap kelas dapat menampung 10-15 siswa. ”Keseluruhan dapat menampung kurang lebih 30 siswa.” Tegas Ridwan.  Dengan fasilitas yang standar,  diharapkan dapat meminimalisir cost dalam variable cost. ”Kami tidak menyediakan fasilitas yang mewah. Tetapi kami menyediakan pengajaran yang berkualitas,” pesan orang nonor dua di PANDAWA.